PUSAT DATA JENDERAL BESAR HM. SOEHARTO

---

Jejak Langkah, 22 Juli 1969 - 22 Juli1992

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Selasa, 22 Juli 1969.

Presiden Soeharto  menyatakan  bahwa  segala  bentuk  pelanggaran hukum,  baik  yang besar maupun yang kecil,siapapun  pelakunya harus  ditindak  sesuai  dengan prosedur  dan ketentuan  hukum  oleh alat-alat negara  yang berwenang.Dikatakan juga bahwa  penegakan  hukum tidak  akan  dapat dilaksanakan hanya  oleh  pemerintah  dan  alat -alat  penegak hukum  saja. Oleh sebab itu  ia berharap  akan adanya  kesadaran  hukum  dan rasa  tanggungjawab  masyarakat  untuk  turut  serta memelihara ketertiban  umum  yang mempunyai  peranan  besar  dalam mengurangi  terjadinya  pelanggaran hukum.kesemua  ini dikemukakan  dalam sambutan  tertulis  pada peringatan  Hari kejaksaan  yang ke-9 di Jakarta hari ini.

Rabu, 22 Juli 1970
Selama lebih kurang 45 menit Presiden Soeharto meninjau pondok pesantren Krapyak, dekat Yogyakarta, dan berdialog dengan para santrinya. Pimpinan pesantren tersebut, KH Ali Ma’sum memberi penjelasan kepada Presiden tentang hal-hal yang berkaitan denga pesantren yang dipimpinnya. Selesai peninjauan, Presiden menyarankan agar pesantren tersebut diajarkan tentang pertanian, peternakan, pemerahan susu, dan lain sebagainya.
Selanjutnya  Presiden  menuju  ke daerah  Wonogiri,  dimana  ia bertemu -muka  dengan  parah lurah  dan  aparat  desa yang dilalui  dalam perjalanan  menuju Jawa Timur.
Selanjutnya Presiden menuju ke daerah Wonogiri, dimana ia bertemu-muka dengan para lurah dan aparat desa yang dilaluinya dalam perjalanan menuju Jawa Timur.

Kamis, 22 Juli 1971

Presiden  Soeharto  meminta  agar  eksploitasi  hutan  dapat  diarahkan  pada sistem  integrated  industies,  dalam artinya  bahwa  ekspor   kayu  tidak  hanya bersifat  kayu saja, tetapi  juga dalam  bentuk kayu  gergajian  dan plywood. Akan  tetapi  Presiden  mengharapkan  agar masalah  ini dipelajari  lebih  dahulu  terutama  mengenai  aspek  pemasaran . Hal ini  di kemukakan  Jenderal  Soeharto  kepada  Menteri  Pertanian  dan Dirjen  kehutanan ketika mereka  melaporkan  tentang masalah -masalah kehutanan kepadanya  di Bina Graha  hari ini.

Kamis,22 Juli 1972.

Presiden  Soeharto  hari ini di Istana  Merdeka  menerima  pemuka-pemuka  gereja  seluruh  dunia. Mereka  adalah  pemimpin  Reformed  Church dan  Gereja  Luther  Sedunia,antara lain Dr. William  Thomas (Presiden  aliansi  Reformed  Church), dan  Prof.Miko  Juva(Presiden  Federasi  Gereja Luther) yang  berada di Indonesia dalam rangka menghadiri  sidang  dewan  eksekutif dari kedua kelompok gereja itu,  yang  masing-masing berlangsung di Jakarta dan Prapat, Sumatera Utara.

Senin, 22 Juli 1974.

Di Bina Graha pagi ini,Presiden  Soeharto membuka  konferensi  Kerja  Nasional  Usaha  perbaikan  Gizi Keluarga. Dalam amanatnya.Kepala Negara  antara lain  mengulangi  ajakan  yang  telah  beberapa  kali  diseruhkannya  yaitu  agar  masyarakat  mulai mengadakan gerakan  besar  mengubah  menu  makanan  kearah  yang lebih  bermutu  dan  lebih  beraneka  ragam.Dikemukakannya  bahwa perubahan  menu  makanan  rakyat  itu hanya  bertujuan  untuk memperbaiki  keadaan gizi  masyarakat  Indonesia,dan sama sekali  tidak berarti  bahwa kita harus beralih kepada jenis  makanan yang tergolong  mewah. Demikian Presiden Soeharto.
Dalam  pada itu, hari ini Kepla Negara  telah pula menyampaikan amanat tertulisnya pada pembukaan  Seminar  Transmigrasi  Pramuka  yang diselenggarakan di Bandung.Dalam  amanat  yang  dibacakan oleh Menteri  Tenaga  Kerja, Koperasi  dan Transmigrasi, Prof. Subroto, Presiden  Soeharto menegaskan bahwa masalah paling  berat  yang kita hadapi  bersama selama Pelita II adala persoalan  penduduk.Hal ini karena  jumlah penduduk kita besar,pertumbuhannya  cepat,penyebarannya tidak merata. dan struktur umurnya  juga tidak menguntungkan.
Oleh sebab iu, menurut  Kepala Negara, untuk dapat mempertahankan  kesejateraan itu, kita  membutuhkan usaha-usaha  yang besar  dan langkah  yang mendesak.  Dikemukakan  pula oleh  Presiden bahwa sebagai akibat dari persoalan penduduk yang demikian, masalah penyediaan  kesempatan  kerja menjadi  lebih mendesak  lagi. Untuk  itu, kebijaksanaan khusus untuk memperluas  kesempatan kerja antara lain berbentuk peningkatan program  bantuan  kabupaten, program pusat karya,BUTSI, dan transmigrasi.

Selasa, 22 Juli 1975

Rapat kerja  Departemen  Tenaga Kerja,Transmigrasi  dan koperasi dibuka pagi ini oleh Presiden  di Bina Graha. Dalam  amanatnya  Kepala Negara  mengatakan bahwa  kini  mutlak perlu adanya perjanjian perburuhan antara serikat buruh dan pengusaha untuk menjamin kepastian dan ketenangan kerja kedua belah piha.pada kesempatan itu  Kepala Negara  menggariskan  bahwa buruh  dan perusahaan bukan merupakan kekuatan yang harus  saling  berhadap-hadapan,melainkan  sebagai  kawan seperjuangan  yang bersama-sama bertujuan  membangun Indonesia.Ditegaskannya  bahwa antara  buruh  dan pengusaha  harus ditumbuhkan tangggungjawab bersama  dalam berproduksi,  sehingga  hasilnya  dapat  dirasakan  secara adil oleh semua pihak. Apabila hal itu dapat diwujudkan, maka usaha pemogokan yang sering  dianggap  sebagai senjata yang paling ampuh  bagi kaum  buruh untuk  memperjuangkan  nasibnya,  bukan saja  tidak perlu  digunakan, melainkan  juga  tidak cocok  dan tidak sesuai  dengan hubungn  perburuhan  yang berdasarkan  Pancasila. Demikian  Presiden Soeharto.


Jum,at, 22 Juli 1977.

Menteri Perdagangan Radius Prawiro menemui Presiden Soeharto  di Jalan Cendana hari ini  untuk melaporkan hasil penugasan  empat orang menteri yang meninjau  program-program  Bimas/ Imas di daerah Jawa Timur,Jawa Tengah, dan Jawa Barat.Kunjungan para menteri tersebut dimaksudkan  untuk menjelaskan mengenai program-program Bimas/Imas dalam rangka meningkatkan produksi pangan melalui  penggunaan pupuk dan kredit untuk petani Imas. Dalam kunjugan itu juga ditemukan adanya tunggakan  kredit  pupuk sebesar Rp 17 miliar di daerah Jawa Timur.
Menteri Luar Negeri Adam Malik, yang mendampingi Wakil PM/Menteri luar Negeri Republik Arab Suriah Abdul  Halim  Khaddam  dalam  kunjungan dalam kunjungan kehormatannya  kepada Presiden Soeharto pagi hari ini di Jalan Cendana,  mengatakan  bahwa  Presiden Soeharto telah menerima undangan Presiden Republik Arab Suriah kunjungan ini akan berlangsung pada bulan Oktober  yang merupakan  bagian dari  rangkaian  kunjungan  Presiden  Soeharto  ke Timur Tengah,yaitu kenegara-negara  Arab Saudi, Kuwait,  Negara-negara Teluk dan  Suriah.
Wakil PM/Menteri  Luar Negeri Abdul Halim Khaddam menegaskan  kepada  para pejabat  Indonesia  dalam pertemuannya  selama  di Indonesia  bahwa Suriah memahami  dan mendukung  Indonesia dalam masalah Timor- Timur  dalam forum-forum  internasional.Menurutnya kunjungannya  ke Indonesia  merupakan  kunjungan  yang sangat  bermanfaat  karena Indonesia  selalu mendukung  perjuangan bangsa  Arab  dan rakyat palestina.Dalam  kunjungan ini juga  ditangani  kerjasama  antara kedua negara.

Rabu, 22 Juli 1981.

Pukul  09.00 pagi ini, bertempat  di Cendana,  Presiden Soeharto  menerima  Marshall   Green  ketua kelompok  khusus  penasehat  Presiden Amerika Serikat  mengenai  masalah  pengungsi.Dalam  pertemuan  itu telah dibahas  berbagai aspek  dari  masalah pengungsi.kepada  bekas  Duta Besar Amerika Serikat  di Jakarta  itu, Presiden telah menjelaskan mengenai  posisi  Indonesia  dalam  masalah tersebut.
Setelah  pertemuan itu, Marshall  Green  mengatakan  bahwa  pemerintahnya  sangat menghargai  kesediaan  Indonesia  untuk menerima para pengungsi  Vietnam.Ia juga  mengatakan  bahwa ia  telah mengerti  seluruhnya  penjelasan yang di berikan  Presiden Soeharto.

Kamis, 22 Juli 1982

Presiden Soeharto  dan Ibu  Soeharto  melakukan  shalat  Ied  d Masjid  Istiqlal,Jakarta, bersama-sama umat Islam  lainya. Tampak  menyambut  Kepala Negara dan Ibu Soeharto  di masjid  antara lain  Menteri  Agama  dan Ibu Alamsyah, dan sejumlah  pejabat  Departemen  Agama serta Ketua  Panitia  penyelenggaraan  shalat Ied.

Senin, 22 Juli 1985.

Presiden Soeharto menerima  Menteri  Negara  Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Emil  Salim, di Cendana  Usai pertemuan  itu, Menteri mengatakan  bahwa  presiden  Seoharto menginstruksikan  agar pencemaran  lingkungan  dikendalikan  secara ketat,  serta dilakukan  pengelolaan  terpadu  terhadap limbah industri, terutama  limbah  yang mengandung  bahan beracun  bahaya,  Menteri juga mengatakan bahwa pemerintah aktif bersama dunia usaha  dalam upaya mengendalikan limbah bahan  beracun  berbahaya.
Menteri mengemukakan  bahwa Presiden  telah memberikan petunjuk  mengenai  penanganan  terpadu untuk mencegah  pencemaran dan kerusakan  lingkungan di kawasan  Danau  Toba, yang selama  ini hutan pinusnya sering  terbakar.
Pukul 10.00 di tempat yang sama Presiden menerima  Ketua  Lapan,  Prof  Sunaryo.setelah pertemuan  itu,  Ketua Lapan  mengatakan  bahwa Presiden Soeharto menyetujui  rencana  pembangunan sebuah stasiun  Radar  Pencatat  Data  Atmosfir untuk keperluan peramalan  cuaca di pontianak. Setelah  selesai,  stasiun radar yang akan  dibangun  dengan kerjasama Jepang  itu akan  dioperasikan  oleh Lapan.


Sabtu, 22 Juli 1989.

Pukul 09.00 pagi ini, Presiden  Soeharto melantik 635 perwira remaja ABRI dalam suatu upacara Perwira ABRI 1989  di halaman  Istana Merdeka. Selesai  upacara, Presiden  dan Ibu  Soeharto serta  Wakil Presiden  dan Ibu Sudharmono beramahtamah dengan para perwira remaja beserta orang tua atau keluarga  mereka.
ke-635 perwira  dengan  pangkat  Letnan  dua itu berbagi  atas TNI-AD (261 orang),TNI-AL  (86 orang ),TNI- AU (72 orang), dan Polri (216 orang), Empat orang diantara mereka, yaitu Letnan Dua Inf Tri Yuniarto (TNI-AD),Letnan Dua  Mar Nur  Alamsyah (TNI- AL),  Letnan  Dua  Tek  I Gede    Made  Radar  Panca  Jaya (TNI-AU), dan Letnan  Dua  Pol Ahmad  Dofiri (Polri) menerima  tanda  penghargaan  Adhi Makayasa, sebagai  lulusan  terbaik.
Dalam  amanatnya,Presiden  mengatakan bahwa para perwira yang dilantiknya  itu merupakan kader pimpinan  ABRI  abad  yang akan datang  sebab, demikian  Kepala Negara, dalam kurun waktu pengabdian mereka kepada bangsa  dan negara nanti, bangsa  kita akan  memasuki abad ke-21 Awal abad ke -21  nanti,  akan merupakan awal abad  yang penuh dengan  perubahan-perubahan cepat.
Ditegaskan oleh Presiden bahwa   awal abad ke- 21  merupakan masa  yang teramat penting  bagi  pembangunan  bangsa kita. memang  telah  berjuang  keras untuk mewujudkan hal itu. Situasi  dunia yang damai  dan menggairahkan kehidupan  bangsa-bangsa  dapat ikut mendorong  pembangunan  bangsa kita. Namun ,demikian  Kepala Negara, prajurit  profeional  harus mengikuti  setiap perkembangan  dunia, yang pada suatu  saat,tanpa  kehendak  kita, bisa membawa  kepada tugas pertahanan  keamanan.

Rabu, 22  Juli 1992.

Pukl 10.00 pagi ini pimpinan  KNPI, yang dipimpin  oleh Tjahjono Kumolo, menghadap  Presiden  Soeharto  di Bina Graha. Mereka  datang  untuk melaporkan  tentang  perkembangan  organisasi  kepemudaan itu.  Setelah  diterima Presiden,Ketua  Umum  Tjahjo  Kumolo mengatakan  bahwa  Presiden  telah menegaskan  bahwa  ABRI  sebagai kekuatan sosial  politik  berhak  ikut menentukan  GBHN  di MPR.  Dengan  demikian,maka tidak ada alasan  bagi  mereka untuk  tidak  merasa  puas terhadap semua  keputusan  MPR, karena  telah ada wakilnya  di lembaga itu. Kalau tidak ikut  menentukan haluan negara, dikhawatirkan  bahwa  ABRI  kemudian  merasa tidak puas  dan akhirya  menggunakan  senjata.
Menanggapi  keinginan  beberapa  kalangan  masyarakat agar jumlah  anggota ABRI  di lembaga  perwakilan dikurangi,Presiden mengatakan  bahwa  hal itu bisa saja dilakukan  dengan mengubah  konsesus  yang selama  ini berlaku. Mengenai  soal  kegiatan  tersebut cukup  hingga  daerah  tingkat dua saja. Dikatakan  oleh Presiden  bahwa  sebaiknya  kita tidak  mengambil  risiko  untuk menghancurkan  persatuan  dan kesatuan demi  politik.                                 

Penyusun : Eren