PUSAT DATA

PUSAT DATA JENDERAL BESAR HM. SOEHARTO

---

Jejak Langkah Pak Harto 13 Juli 1966 - 13 Juli 1992

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,

Rabu, 13 Juli 1966

Wapendam Hankam  a.i / Menpangad  Letjen. Soeharto  telah  menerima  massa  KAMI  dan kAPPI  yang  datang  MBAD guna  menyampaikan  pandangan  mereka  tentang pembentukan  mereka tentang  Kabinet  Ampera. Dalam sambutannya, jenderal  Soeharto  menekankan  bahwa  struktur  adalah  sangat penting  diperhatikan  dalam pembentukan  kabinet. Oleh  sebab  itulah  diadakan hearing  dengan  organisasi  massa  dan organisasi  politik. Dalam hubungan  ini dikatakan bahwa  kabinet  Ampera  mendatang harus memenuhi syarat-sayarat  atau ketentuan -ketentuan  yang telah ditetapkan  dalam ketetapan    MPRS  No. X111/1966. Selain itu  jenderal Soeharto  juga mengharapkan bahwa kabinet  tersebut  akan betul-betul  memiliki  struktur organisasi  yang sederhana,efektif  dan efisien. Calon -calon  yang akan menduduki  struktur kabinet  juga akan  memiliki  sifat 3 A +B + C, yaitu Ahlak, Ahli, Amal, Berani, dan Chayal (ejaan baru :Khayal).
Untuk mengembalikan kepercayaan rakyat kepada swadaya koperasi; maka seluruh kegiatan dan organisasi KOKSI (Kesatuan Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia), yang disahkan pembentukannya dengan Keppres RI No. 266/1961, baik di pusat maupun daerah, dibekukan. Ini merupakan keputusan Presidium Kabinet Dwikora yang tercantum dalam SK No. Aa/E/98/1966. Sementara itu berdasarkan Surat Keputusan Kabinet Dwikora No. Aa/E/96/1966 yang dikeluarkan pada hari ini juga, telah digariskan tugas Kolognas yang terpusat pada pengamanan sembako.

Senin, 13 Juli 1981
Hari ini kepala  Bulog, Bustanil Arifin, menyerahkan bantuan 250 ton beras kepada Gubernur DKI Jakarta Beras ini merupakan  sumbangan  presiden  yang  harus  disampaikan  kepada fakir miskin  yang ada di jakarta.

Senin,13 Juli 1987.

pukul 09.30 pagi ini  presiden  Soeharto menerima  presiden  Bank  pembangunan  Asia,  Masao  Fujuoko, di Bina Graha.  Seusai  pertemuan, dalam keterangan  persnya, Fujioko mengatakan  bahwa selama ini  Asian  Development Bank (ADB)  telah  memberikan  bantuan  kepada Indonesia  sebanyak  U$$3,8 miliar. Ini  berarti Indonesia  merupakan  negara  penerima  bantuan terbesar,yaitu hampir  20% dari  seluruh  bantuan ADB. Untuk  tahun  ini Indonesia akan menerima  sebesar  U$$500 juta dan 40%  dari bantuan  itu akan  digunakan  untuk pembangunan pertanian.  Dikatakanya pula  bahwa ADB  sangat menghargai  pembangunan  bantuan-bantuan  yang diberikannnya kepada Indonsia.


Senin,13 Juli 1992

Presiden  Soeharto  memutuskan  bahwa pemerintah mulai  tahun ajaran 1992  tidak  akan memberikan  lagi dispensasi  bagi  warga  Indonesia  yang baru  tiba kembali  di tanah air  untuk belajar  sekolah  internasional  dengan alasan  untuk melakukan  penyesuaian. Dalam  hubungan ini, presiden mengharpkan  para  orang tua menyadari  bahwa  anak mereka  harus  belajar  di sekolah  berwawasan  Indonesia  dan bukannya  berwawasan  asing.

Demikian dikatakan Menteri  P dan k, Fuad  Hasan, setelah  menemui  kepala Negara untuk melapor  tentang  persiapan  rapat  kerja  nasional  departemen  yang dipimpinanya  dalam bulan ini.

pada jam 10.00 pagi ini, di Bina Graha,presiden  Soeharto  menerima  para atlet  Indonesia  yang akan mengikuti  Olimpiade  di Barcelona, Spanyol. Memberikan  kata sambutannya, Kepala Negara mengharapkan kontingen Indonesia  agar  bersikap waspada  karena  sebuah  negara tetangga  tuan rumah  pesta  olaraga  itu masih  terus  berusaha  memburukkan  nama Indonesia  terutama  mengenai  masalah  Timor-Timur. Kepada  para atlet itu, Presiden  juga mengatakan  bahwa  mereka  berkewajiban  memperkenalkan  Indonesia  kepada  olaragawan  dari berbagai  negara lain.

pada jam 12.30 siang ini, bertempat  di Bina Graha, Presiden  Soeharto  menerima  Panglima  ABRI Jenderal Try Sutrisno,  Pangab  menghadap Kepala  Negara guna melaporkan  hasil penelitian  ABRI atas  peristiwa  12 november 1991 di Dili. dilaporkan bahwa  team yang ditugaskan  pangab  melakukan penelitian itu  menyimpulkan  bahwa  terdapat 115  orang  korban tewas  dan hilang  dalam kejadian itu, selain  seorang  warganegara  asing. Dari  115 yang dilaporkan  hilang, ternyata  31 orang  telah kembali ke desa masing-masing.

Penyusun : Eren Saumuru

1974-11-04 Presiden Soeharto Minta LAPAN Lakukan Usaha-Usaha Produk Satelit Sendiri

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto Minta LAPAN Lakukan Usaha-Usaha Produk Satelit Sendiri[1]




SENIN, 4 NOVEMBER 1974, Ketua LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar Nasional), Marsda. Salatun pagi ini menghadap Presiden Soeharto di Bina Graha. Kepada Kepala Negara dilaporkannya hasil kongres ke-25 International Astronautical Federation yang berlangsung di Amsterdam bulan lampau. Menanggapi laporan tersebut, Presiden Soeharto meminta LAPAN untuk mengadakan pemikiran dan usaha-usaha supaya Indonesia dalam tahun 1983 telah dapat membuat satelit sendiri. Hal ini dikemukakan oleh Presiden mengingat mahalnya harga satelit dewasa ini, yaitu sekitar US$90 juta satu unitnya, disamping dalam rangka meningkatkan kemampuan industri dalam negeri. (WNR).





[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 171. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1973-11-29 Presiden Soeharto Inspeksi Pangkalan Udara Halim

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto Inspeksi Pangkalan Udara Halim[1]




KAMIS, 29 NOVEMBER 1973, Selama dua setengah jam hari ini Kepala Negara mengadakan inspeksi di terminal baru pangkalan udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Dengan inspeksi ini Presiden Soeharto ingin melihat sampai dimana sudah usaha dan persiapan yang dilakukan oleh instansi berwenang untuk mengubah pangkalan udara itu menjadi Jakarta International Airport.

Dalam inspeksi yang dimulai pada pukul 09.00 pagi itu, Presiden telah meninjau fasilitas-fasilitas baru yang sedang dibangun di bakal lapangan udara intemasional itu. Peninjauan dilakukan baik dari udara (dengan helikopter) maupun dari darat (dengan mobil). Selain itu Kepala Negara telah mendengarkan penjelasan tentang perluasan lapangan terbang itu dari pimpinan proyeknya, Marsma. Ir Soerjanto. Pimpinan proyek menyimpulkan bahwa pada akhir Desember tahun ini semua fasilitas yang mutlak harus ada untuk dapat beroperasinya suatu pelabuhan intenasional di Halim Perdanakusuma akan dapat diselesaikan. (WNR).




[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 68. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1973-11-28 Presiden Soeharto Minta Perbaikan Kesejahteraan ABRI

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto Minta Perbaikan Kesejahteraan ABRI[1]





RABU, 28 NOVEMBER 1973, Menhankam/Pangab Jenderal M Panggabean menghadap Presiden Soeharto pagi ini di Bina Graha. Kepada Jenderal Panggabean, Presiden Soeharto meminta agar memberikan perhatian khusus untuk perbaikan kesejahteraan anggota ABRI, terutama menyangkut masalah asrama, perumahan, dan kesehatan. (WNR).






[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 67. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1973-11-26 Terkait Potensi Subversi, Presiden Soeharto Dengarkan Laporan BAKIN

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Terkait Potensi Subversi, Presiden Soeharto Dengarkan Laporan BAKIN[1]





SENIN, 26 NOVEMBER 1973, Sidang paripurna kabinet yang dipimpin oleh Presiden Soeharto di Bina Graha pagi ini telah mendengarkan laporan Kepala Bakin menyangkut masalah sisa-sisa G-30-S/PKI, subversi, penyelundupan, uang palsu, narkotika, kenakalan remaja dan pengawasan orang asing. Dalam sidang tersebut, Presiden menyerukan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan dapat mengendalikan diri untuk tidak mengambil tindakan-tindakan yang dapat menjurus kearah gejolak dan ketegangan sosial politik. Sebaliknya masyarakat diharapkan untuk meningkatkan ketahanan bangsa sehingga tidak mempan lagi dipengaruhi oleh sisa-sisa G-30-S/PKI dan unsur-unsur subversi lainnya. Sementara itu kepada aparatur negara diinstruksikan untuk terus mengambil langkah-langkah pembersihan di pusat maupun di daerah. (WNR)






[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 67. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1973-11-26 Presiden Soeharto: PMA Hanya Pelengkap

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto: PMA Hanya Pelengkap[1]



SENIN, 26 NOVEMBER 1973, Presiden Soeharto tetap menghendaki supaya dalam kebijaksanaan penanaman modal, kita tetap berhati-hati dan penanaman modal asing hanyalah sebagai pelengkap saja. Presiden juga menugaskan BKPM untuk meneliti kembali usaha-usaha mana yang diperuntukkan bagi PMA dan mana pula untuk PMDN. Demikian disampaikan oleh Ketua BKPM Barli Halim, selesai menghadap Presiden di Bina Graha pagi ini. (WNR).






[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 67. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

1973-11-24 Presiden Soeharto Menerima Surat Kepercayaan Dubes Vatikan

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto Menerima Surat Kepercayaan Dubes Vatikan[1]




SABTU, 24 NOVEMBER 1973, Bertempat di Istana Merdeka pagi ini Presiden Soeharto menerima surat kepercayaan dari Duta Besar Vatikan yang baru, Vincenzo Farano. Dalam pidatonya, Duta Besar Farano antara lain mengatakan bahwa, sebagai kepala gereja Katolik, ia dapat menjamin bahwa kaum Katolik Indonesia akan bersungguh-sungguh untuk menunjukkan bahwa mereka dalam keadaan apapun juga adalah warganegara yang setia dan terhormat yang aktif memberikan sumbangan untuk pembangunan negaranya

Presiden Soeharto dalam pidato balasannya mengatakan bahwa Indonesia berpedoman pada Pancasila sebagai falsafah negara dan sebagai pandangan hidup, yang memberikan tempat yang luhur terhadap ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan berpedoman pada Pancasila, bangsa Indonesia mendapat bimbingan untuk mencapai keseimbangan kemajuan lahir dan batin dalam usaha membangun hari depannya. “Kami ingin membentuk suatu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila, dimana kami semua akan dapat hidup dalam kemajuan, kedamaian dan kerukunan”, kata Presiden. (WNR).





[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 66. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1973-11-21 Presiden Soeharto Buka Kongres PGRI

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto Buka Kongres PGRI[1]




RABU, 21 NOVEMBER 1973, Kepala Negara pagi ini menghadiri pembukaan Kongres ke-13 PGRI di Jakarta. Dalam amanatnya, Presiden menyambut baik keinginan PGRI untuk mengubah sifat PGRI dari organisasi serikat pekerja menjadi organisasi profesi. Ia mengemukakan keyakinannya bahwa dengan perubahan itu maka para guru bertekad untuk membekali dirinya dengan dedikasi dan keterampilan di bidang profesinya yang makin tinggi. Hal ini berarti bahwa pendidikan tunas-tunas bangsa akan berada di tangan mereka yang cakap, terampil dan berdedikasi tinggi. Demikian antara lain dikemukakan oleh Kepala Negara. (WNR).





[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 66. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1973-11-16 Buka Kongres LVRI, Presiden Soeharto: Kita Tidak Hanya Bangun Bidang Ekonomi

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Buka Kongres LVRI, Presiden Soeharto: Kita Tidak Hanya Bangun Bidang Ekonomi[1]



JUM’AT, 16 NOVEMBER 1973, Presiden Soeharto pagi ini membuka Kongres Nasional ke-3 LVRI di Gedung Granada, Jakarta. Dalam sambutannya, Kepala Negara mengatakan bahwa kita jangan mengharapkan keajaiban, sebab pembangunan merupakan proses yang panjang dan sambung menyambung. Banyak masalah yang kita hadapi, sehingga kita harus menggarap lebih dahulu masalah yang paling mendesak.

Kepala Negara membantah bahwa kita hanya memperhatikan pembangunan di bidang ekonomi dan mengabaikan bidang non-ekonomi. Dikatakannya bahwa meskipun kita memprioritaskan pembangunan ekonomi, kita juga berusaha mengembangkan kehidupan demokrasi, mendewasakan kebebasan, memperkokoh kehidupan konstitusional dan mengusahakan kepastian hukum. Jadi, pembangunan bangsa dalam arti luas tetap kita kerjakan. Kita menyadari bahwa pembangunan ekonomi saja tanpa usaha memberi tempat dan arti terhadap nilai-nilai kemanusiaan tidak akan mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, kebahagiaan dan perbaikan mutu kehidupan juga tidak akan mungkin tercapai dalam keadaan ekonomi yang buruk. (WNR).







[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 66. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

1973-11-15 Presiden Soeharto Buka Pameran Uang

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto Buka Pameran Uang[1]



KAMIS, 15 NOVEMBER 1973, Pameran Uang dibuka oleh Presiden Soeharto pagi ini di Gedung Pola, Jakarta. Pameran ini diselenggarakan oleh Departemen Keuangan, dan secara keseluruhan menampilkan sejarah mata uang Indonesia, dari masa lampau hingga kini. Kepala Negara membuka pameran dengan memukul gong, yang kemudian diikuti dengan pengguntingan pita oleh Ibu Soeharto. (WNR).







[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 65. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1973-11-14 Presiden Soeharto Resmikan Fasilitas Wisata di Bali

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto Resmikan Fasilitas Wisata di Bali[1]






RABU, 14 NOVEMBER 1973, Masih berada di Bali, Presiden Soeharto pukul 10.30 pagi ini meresmikan penggunaan Bali Hyatt Hotel di Denpasar. Acara peresmian ini ditandai oleh pembukaan selubung plakat oleh Presiden, dan pengguntingan pita oleh Ibu Soeharto.

Dalam sambutannya, Kepala Negara antara lain mengatakan bahwa Indonesia memiliki berbagai kebudayaan dan kesenian yang khas dan menarik, sementara alam kita merupakan pemandangan yang sering mempesonakan disamping pembawaan kita yang ramah tamah. Menurut Kepala Negara, semua unsur itu merupakan daya tarik yang kuat terhadap wisatawan. Akan tetapi ia mengakui bahwa hal itu saja belumlah cukup; karena itu diperlukan fasilitas-fasilitas untuk para wisatawan

Dikatakan oleh Presiden bahwa pembangunan hotel adalah bertujuan ekonomi, yaitu untuk memperoleh devisa bagi pembangunan, dan salah satu sumber devisa adalah wisatawan. Akan tetapi diingatkannya bahwa pembangunan kepariwisataan bukan hanya sekadar untuk mencapai tujuan ekonomi saja. Melalui kepariwisataan kita juga mengharapkan dapat tumbuh saling pengertian dan hormat menghormati antara bangsa-bangsa. Ditegaskannya pula bahwa kita perlu menjaga agar membanjirnya arus wisatawan kemari tidak akan menggoyahkan nilai-nilai yang kita anggap luhur dan terpeliharanya kebudayaan daerah. Demikian antara lain dikatakan Presiden.

Selesai acara peresmian Bali Hyatt Hotel, Presiden dan Ibu Soeharto meninjau pembangunan fasilitas kepariwisataan lainnya. Yang ditinjau oleh Kepala Negara dan Ibu Tien adalah Bali Seaside Cottage, Extension Bali Beach Hotel, dan Pertamina Cottage. (WNR).







[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 65. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003



1973-11-13 Presiden dan Ibu Tien Kunjungan Kerja ke Bali

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden dan Ibu Tien Kunjungan Kerja ke Bali[1]




SELASA, 13 NOVEMBER 1973, Presiden dan Ibu Soeharto pagi ini meninggalkan Jakarta menuju Bali untuk suatu kunjungan kerja selama dua hari di provinsi itu. Setiba di Denpasar pada jam 09.30, Presiden dan rombongan langsung mengadakan peninjauan di beberapa obyek pariwisata. Obyek-obyek yang ditinjau sampai siang hari itu adalah Nusa Dua, Art Centre (yang merupakan proyek Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen P dan K), Handicraft Centre di Tohpati (proyek Departemen Perindustrian), Samuan Tiga (Mandala Wisata), dan Proyek Batako (milik Kodam Udayana). (WNR).





[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 65. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1973-11-10 Presiden Soeharto Tetapkan 12 Pahlawan Nasional

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto Tetapkan 12 Pahlawan Nasional[1]



SABTU, 10 NOVEMBER 1973, Dalam rangka Hari Pahlawan, dalam suatu upacara di Istana Negara, Presiden Soeharto pagi ini menetapkan 12 orang putera terbaik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional. Para pahlawan nasional  itu adalah  almarhum-almarhum  Sultan Hasanuddin, Kapitan Pattimura, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teungku Chik Ditiro, Teuku Umar, Dr. Wahidin Soedirohoesodo, R Otto Iskandardinata, Robert Wolter Monginsidi, Prof. Muhammad Yamin, dan Laksda. TNI (Anumerta) Josaphat Sudarso, dan Prof. Dr. R Soeharso.

Pada kesempatan itu pula Kepala Negara telah menganugerahkan tanda-tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana kepada almarhum-almarhum KH Moh. Ilyas, H Arudji Kartawinata, Sukarni Kartodiwirjo, KH Ahmad Badawi, dan H Djamaluddin Malik, yang semuanya diterima oleh ahli waris mereka. Sementara itu Bintang Mahaputera Nararya dianugerahkan kepada almarhum Sudjarwo.

Selesai acara penganugerahan tanda-tanda kehormatan, Presiden Soeharto memberikan hadiah kepada pemenang sayembara Tugu Pahlawan. Kemudian dilanjutkan dengan peninjauan maket tugu tersebut. (WNR).





[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 64. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1972-11-07 Selesai Sholat Idul Fitri, Presiden Soeharto: Solidaritas Sosial Sangat Perlu

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Selesai Sholat Idul Fitri, Presiden Soeharto: Solidaritas Sosial Sangat Perlu[1]




SELASA, 7 NOVEMBER 1972, Solidaritas sosial sangat perlu, sebab masyarakat yang merasa dirinya terikat dalam kesatuan dan memiliki rasa senasib sepenanggungan akan mampu menghadapi tugas bersama yang besar. Demikian diamanatkan oleh Presiden Soeharto dalam sambutannya setelah shalat Idul Fitri di Masjid lstiqlal pagi ini. Selanjutnya dikatakan oleh Presiden bahwa apa yang kita capai sampai sekarang ini dalam tahun keempat pelaksanaan Pelita memang sudah jauh lebih baik daripada 5-6 tahun yang lalu, akan tetapi masalah yang kita hadapi masih banyak. (WNR).






[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 481. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1972-11-01 Tanggapi New Left, Presiden Soeharto: Penyelesaian Orang-Orang PKI Diserahkan Mahmilub

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Tanggapi New Left, Presiden Soeharto: Penyelesaian Orang-Orang PKI Diserahkan Mahmilub [1]



RABU, 1 NOVEMBER 1972, Dengan masih adanya golongan New Left (Kiri Baru) di luar negeri yang menganggap bahwa pelaksanaan hukum di Indonesia belum baik, sepanjang menyangkut penyelesaian hukum terhadap anggota PKI, maka perlu diberikan keterangan bahwasanya penyelesaian masalah orang-orang PKI itu sudah disalurkan melalui Mahmilub. Demikian anjuran Presiden Soeharto kepada para ahli hukum ketika menerima Panitia Penyelenggara Konferensi Law Asia di Bina Graha pagi ini. (WNR).






[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 481. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1971-11-30 Presiden Soeharto: Dua-Tiga Dasawarsa Kedepan, Ekonomi Bergeser ke Industri

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto: Dua-Tiga Dasawarsa Kedepan, Ekonomi Bergeser ke Industri[1]





SELASA, 30 NOVEMBER 1971, Presiden Soeharto hari ini meminta para gubernur seluruh Indonesia untuk tidak mengabaikan tugas-tugas pemerintahan umum; mereka diminta untuk meningkatkan pelaksanaan tugas sebagai administrator pembangunan di daerahnya. Didalam menguraikan maksudnya, Presiden berbicara mengenai berbagai masalah yang terletak di luar bidang tugas pemerintahan umum, seperti menggairahkan minat masyarakat untuk menabung, dan pelaksanaan KB.

Kepada para gubernur, ia juga menegaskan keharusan adanya suatu gambaran yang bulat mengenai apa yang akan dikerjakan bersama di masa depan di bidang pembangunan. Untuk itu Presiden Soeharto meminta perhatian para gubernur akan perubahan-perubahan yang mungkin dialami Indonesia di masa-masa mendatang ini, terutama menyangkut struktur ekonomi. Dikemukakan oleh Jenderal Soeharto bahwa dalam dua-tiga dasawarsa yang akan datang ini kita harus mampu mengubah struktur ekonomi yang dewasa ini lebih berat pada bidang agraris, ke bidang industri. Demikian antara lain dikatakan Presiden Soeharto dalam amanatnya pada pembukaan rapat kerja Gubernur/Kepala daerah tingkat I seluruh Indonesia, di Istana Negara hari ini. (WNR).






[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 386. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1871-11-29 Presiden Soeharto Resmikan Pabrik Tepung PT. Bogasari

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto Resmikan Pabrik Tepung PT. Bogasari[1]





SENIN, 29 NOVEMBER 1971, Presiden Soeharto meresmikan pabrik tepung terigu PT Bogasari di Tanjung Priok pagi ini. Pabrik tersebut berkapasitas 150.000 ton per tahun atau 500 ton sehari. Dalam amanatnya, Presiden menyambut baik hadirnya pabrik terigu ini, sebab sesuai dengan prioritas pembangunan sekarang. Tentang pentingnya peranan pabrik itu dalam pembangunan kita, cukup terungkap dalam ungkapan Presiden bahwa untuk mencapai tujuan pembangunan yang lebih luas kita harus lebih dahulu dapat memenuhi kebutuhan pokok yang paling minimal, yaitu pangan dan sandang. (WNR).






[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 385. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1971-11-22 Presiden Soeharto Panggil Mendadak Ali Sadikin

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto Panggil Mendadak Ali Sadikin[1]





SENIN, 22 NOVEMBER 1971, Pejabat Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, beserta Team Ahli Badan Perencana Pembangunan DKI Jaya, secara mendadak pagi ini dipanggil menghadap oleh Presiden Soeharto. Pertemuan di Jalan Cendana itu berlangsung lebih kurang satu jam, tanpa ada penjelasan tentang pokok-pokok yang dibahas. (WNR).






[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 385. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1971-11-19 Presiden Soeharto Ajak Umat Islam Tiadakan Fakir Miskin

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Presiden Soeharto Ajak Umat Islam Tiadakan Fakir Miskin[1]





JUM’AT, 19 NOVEMBER 1971, Presiden Soeharto mengajak segenap umat Islam agar berusaha meniadakan fakir miskin di tanah air dengan jalan melaksanakan pembangunan lahir dan batin. Ajakan ini disampaikan oleh Presiden kepada lebih kurang 50.000 kaum muslimin dan muslimat yang mengikuti sembahyang Idul Fitri 1391 H di Masjid Istiqlal pagi ini Dalam hubungan ini Presiden mengingatkan jemaah akan ajaran Islam yang mengatakan bahwa orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya. Oleh sebab itu ia mengajak umat Islam untuk berbuat amal yang sebanyak-banyaknya dan bermanfaat bagi sesamanya antara lain dengan melaksanakan pembangunan. Jenderal Soeharto mengatakan bahwa pembangunan yang kita jalankan adalah pembangunan umat, pembangunan oleh manusia untuk manusia dan kemanusiaan. Dikatakannya pula segala macam proyek pembangunan itu tidak ada gunanya apabila pada akhirnya tidak mendatangkan kebahagiaan lahir dan bathin, tidak dinikmati oleh seluruh rakyat. (WNR).







[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 384. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003


1971-11-13 Tanpa Diduga Presiden Soeharto Ajak Menteri Agama Mukti Ali Tinjau Penyelesaian Masjid Istiqlal

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Tanpa Diduga Presiden Soeharto Ajak Menteri Agama Mukti Ali Tinjau Penyelesaian Masjid Istiqlal[1]




SABTU, 13 NOVEMBER 1971, Tanpa diduga, hari ini Presiden Soeharto mengajak Menteri Agama Mukti Ali untuk meninjau penyelesaian Masjid Istiqlal. Dalam peninjauan itu Jenderal Soeharto telah memeriksa lantai I dan II masjid tersebut dan memerintahkan agar besi-besi yang menonjol dan membahayakan para jemaah segera diratakan. Juga kubah, mimbar dan Iambang bulan-bintang dari masjid ini tidak luput dari perhatian Kepala Negara. (WNR).





[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 384. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003