PUSAT DATA JENDERAL BESAR HM. SOEHARTO

---

Jejak Langkah Pak Harto 2 November 1966 - 2 November 1992

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,
Rabu, 2 November  1966

Menutama Hankam  Jenderal  Soeharto hari ini menghadiri musyawarah kerja dan up-grading  Dewan Mahasiswa Trisakti di Tugu, Puncak , Jawa Barat. Dalam ceramahnya, Jenderal Soeharto mengatakan bahwa dalam rangka membina, mengembangkan dan memenangkan Orde Baru, selain pimpinan, juga diperlukan pelaksana yang berjiwa patriot Orde Baru, Dalam rangka ini beliau mengharapkan agar mahasiswa sebagai salah satu sokoguru Orede Baru hendaknya dapat tampil sebagai pelopor kader yang tangguh. Pada kesempatan itu Jenderal Soeharto mengatakan bahwa belum berhasilnya Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB) dan usahanya untuk mengasimilasikan warga negara keturunan Cina menjadi WNI adalah karena adanya golongan dalam minoritas tersebut dapat mempengaruhi oleh kekuasaan asing untuk menyerobot usaha-usaha itu.


Selasa, 2 November 1971

Dalam Sidang Dewan Stablitas Ekonomi pagi ini Presiden Soeharto menginstruksikan agar pelaksanaan inventarisasi kekayaan departemen-departemen dapat dipercepat, sehingga dapat diketahui jumlah kekayaan yang ada kemudian dapat dilaksanakan perencanaan tiap departemen. Ini merupakan tanggapan Presiden terhadap laporan Menteri keuangan Ali Whardana. Dalam laporannya, Menteri Keuangan menjelaskan bahwa belum selesainya atau terlambatnya inventarisasi kekayaan negara di departemen-departemen dan instansi-instansi non-departemen adalah karena baru untuk pertaman kali diadakan inventarisasi semacam ini. Oleh karena itu, iventarisasi yang diinstruksikan Presiden pada awal tahun fisikal 1971/1972 sampai saat ini belum dapat dilaporkan departemen-departemen kepada Departemen Keuangan dan Bepeka.


Kamis, 2 November 1972

Presiden Soeharto di Bina Graha pagi ini menerima utusan khusus Presiden Vietnam Selatan, Nguyen Phu Duc. Menteri Luar Negeri Adam Malik yang  mendampingi  Presiden Soeharto tidak bersedia memberikan keterangan mengenai masalah yang dibicarakan.


Selasa, 2 November 1976

Presiden Soeharto menyerahkan bantuan Pemerintah untuk partai Politik Golongan Karya, masing-masing sebesar Rp 175 juta. Bantuan tersebut diserahkan secara langsung kepada pimpinan PPP, Golkar, dan PDI yang bersama-sama mengunjungi Presiden di Bina Graha pukul 10.00 pagi ini. Pada kesempatan itu, PPP diwakili oleh Amir Murtono, Martono, Sabam Sirat, dan Mustafa Supangat.


Rabu, 2 November 1977

Pemerintah Daerah Kabupaten Demak hari ini mulai membagi-bagikan paket bantuan presiden untuk desa-desa yang terkena akibat kemarau panjang. Bupati Demak mengatakan bahwa bantuan paket tersebut terdiri dari 100 ton beras sebagai bahan pangan, 5 ton benih padi jenis VUTW, sebuah mobil truk tangki minum, 5 unit proyek padat karya 12 lumbung paceklik yang akan ditempatkan di 12 desa. Kuhus mengenai paket proyek padat karya dan lumbunng paceklik, setiap proyek dibantu Rp 10,9 juta dan tiap lumbung paceklik diberi modal Rp 2,5 juta.


Kamis, 2 November 1978

Pukul 09.00 pagi ini,  selama hampir satu jam, Presiden Soeharto menerima pimpinan DPA di Bina Graha. Pimpinan DPA yang hadir adalah Ketua Idham Chalid , keempat Wakil Ketua, yaitu Sunawar Sukowati, Kartakusumah, J Naro dan dr. Sudjono, serta Sekretaris Jenderal, Piet Wiryawan. Menemui Kepala Negara untuk menyampaikan pertimbangan DPA tentang Replita III. Pretimbangan tersebut merupakan hasil sidang pleno DPA baru-baru ini.

Gubernur NTB, Gatot Suherman, menghadap Presiden Soeharto di Bina Graha pagi ini. Dalam pertemuan yang berlangsung  selama  lebih kurang setengah jam itu, ia telah melaporkan tentang perkembangan di daerahnya. Usai menghadap Kepala Negara,  ia mengatakan bahwa Presiden mengharapkan agar Pulau Sumbawa dapat diperkembangkan menjadi pusat pengembangan peternakan nasional, khususnya untuk jenis sapi Bali.

Sebelumnya, di tempat yang sama, telah pula menghadap Presiden, Gubernur Sulawesi Tengah, Munafri SH. Dalam pertemuan itu, Kepala Negara meminta agar Provinsi  Sulawesi  Tengah dapat dikembangkan menjadi daerah penerima transmigrasi yang baik. Walaupun begitu, Presiden menegaskan bahwa kelestarian lingkungan harus diperhatikan.

Setelah menerima kedua gubernur tersebut, Presiden Soeharto pagi ini menerima pula Direktur Utama  Merpati  Nusantara Airlines, Ramli Sunardi. Pada kesempatan itu, Kepala Negara meminta agar merpati lebih  memperhatikan usaha penerbangan perintis, pengangkutan transmigran, dikemukakan sehubungan dengan berpengalamannya anak perusahaan Garuda ini di dalam mengenai hal-hal tersebut. Sebagaimana diketahui, dalam hal penerbangan Lintas batas misalnya, Merpati selama ini telah menerbangi jalur Kalimantan Barat ke Serawak dan Sulawesi Utara ke Filipina.


Senin, 2 November 1981
Jam 09.00 Pagi ini Presiden Soeharto menerima Wakil Presiden Adam Malik di Bina Graha. Dalam pertemuan antara Prsiden dan Wakil Presiden  itu telah dibahas berbagai perkembangan dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik.

Setelah menemui Presiden, Adam Malik mengatakan bahwa Pemerintah tidak mau ikut campur dalam kemelut yang sedang dialami PPP sekarang ini. Walaupun Pemerintah menginginkan PPP dapat bersatu, tetapi kemelut interen itu adalah masalah partai itu yang harus diselesaikan pimpinan sendiri.


Selasa, 2 November 1982

Presiden Pakistan dan Begum Zia UI Haq pukul 12.00 siang ini tiba di Indonesia untuk memulai kunjungan kenegaraan selama empat hari. Dilapangan udara Halim Perdanakusuma, kedua tamu agung itu disambut oleh Presiden dan Ibu Soeharto dengan upacara kebesaran militer. Jam 12.55 siang ini mereka melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Soeharto di Istana Merdeka.

Pukul 20.00 malam ini, bertempat di Istana Negara, Presiden dan Ibu Soeharto menyelenggarakan jamuan santap malam kenegaraan untuk menghormati kunjungan presiden dan Begum Zia Ui Haq. Usai santap malam, acara dilanjutkan dengan malam kesenian.

Dalam kata sambutannya, Presiden Soeharto mengatakan bahwa sebagai bangsa yang sedang membangun,  kedua bangsa kita sedang membangun masa depan dengan landasan yang sesuai dengan pandangan hidup dan ciri kepribadian masing-masing. Selanjutnya dikatakannya bahwa sebagai dua sahabat dan sesama negara yang sedang membangun, kedua negara betekad untuk meningkatkan dan memperluas kerjasama demi kemanfaatan dan kemajuan kita bersama. Selain kerjasama bilateral, kita perlu meningkatkan langkah-langkah dalam skala regional dan Internasional.


Rabu, 2 November 1983

Sidang kabinet terbatas bidang Ekuin berlangsung pagi ini mulai jam 10.00 di Bina Graha. Sidang yang dipimpin Presiden Soeharto itu antara lain telah membahas masala harga gabah. Sebagai hasil pembahasan itu, sidang akhirnya memutuskan untuk menaikan harga dasar gabah dari Rp 145,- per kilogram menjadi Rp 165,-; harga baru tersebut mulai diberlakukan pada tanggal 1 Februari 1984

Sidang kabinet telah meninjau harga gabah dalam rangka peninjauan yang memang lazimnya dilakukan setiap tahun, disamping  karena  keinginan  untuk meningkatkan pendapatan petani. Akan tetapi dalam pertimbangannya, sidang juga telah memperhitungkan daya beli masyarakat; dalam hubungan ini diusahakan agar konsumen tidak terlalu diberatkan.

Selain itu sidang telah pula membahas harga dasar palajiawa. Namun sidang berpendapat bahwa harga dasar palajiawa masih wajar, sehingga tidak mengalami perubahan. Dalam sidang juga dibahas masalah kelangkaan semen di beberapa daerah yang telah mengakibatkan naiknya harga eceran.



Jum’at, 2  November  1984


Presiden Soeharto  telah memberikan bantuan bibit  padi kepada warga transmigran yang bermukmin di pemukiman transmigrasi Sebamban  I sampai V , Kalimantan Selatan.  Bantuan bibit padi sebanyak 200 ton ini merupakan relasi dari hasil peninjauan yang dilakukan oleh Sesdaplobang, Solihin GP, ke daerah itu bulan September yang lalu. Sebagai mana diketahui warga transmigrasi di daerah-daerah pemukiman tersebut pada musim tanam yang lalu tidak dapat memanen karena tanaman padi mereka habis terserang hama atau mati akibat musim kemarau.


Sabtu, 2 November 1985

Pagi ini di Cilegon, Jawa Barat, Presiden Soeharto  meresmikan sembilan buah pabrik industri yang berlokasi  di Zona Industri Cilegon. Kesembilan pabrik yang bernilai Rp281  miliar ini termasuk dalam kelompok industri hulu yang menghasilkan bahan baku industri plastik, deterjen, dan zat warna. Dengan demikian kelompok pabrik ini akan memperkuat industri plastik dan industri tekstil, sekaligus juga mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan baku impor. Selain Ibu Tien Soeharto, hadir pula dalam acara peresmian ini sejumlah menteri kabinet Pembangunan IV.

Dalam sambutannya, Kepala Negara  meminta agar usaha pemerintah untuk mewujudkan efisiensi secara nasional yang selama ini dilakukan, hendaknya diikuti oleh kalangan industri dan dunia usaha pada umumnya. Sebab, efisiensi nasional, maka kemajuan-kemajuan ekonomi dan pembangunan sampai sekarang kita telah capai dengan susah payah akan kurang artinya, bahkan mungkin dapat menimbulkan kesulitan besar akan kurang artinya, bahkan mungkin dapat menimbulkan kesulitan dikemudian hari. Pemerintah bertekad untuk memberi perlindungan itu tidak mungkin diberikan terus menerus, lebih-lebih kepada industri yang mengabaikan efisiensi.

 
Minggu, 2 November 1986


Masih berada di Bali, hari ini Presiden Soeharto menyerahkan bantuan 50 matapancing  bagi nelayan NTB. Matapancing tersebut diserahkan Presiden melalui Gubernur NTB, Gatot Suherman, yang pagi ini datang menghadapnya di Istana Tampaksiring. Pemberian ini merupakan pemenuhan janji Presiden kepada para nelayan NTB sewaktu berkunjung di Sumbawa pertengahan bulan lalu. Waktu itu para nelayan NTB mengeluh karena matapancing yang biasa mereka gunakan tidak cukup kuat jika di hadang ikan cucut dan hiu.


Senin, 2 November 1987

Pukul  11.00 pagi ini Presiden Soeharto menerima Menteri Pertambangan dan Energi Subroto di Bina Graha. Ia datang untuk melapor tentang kegiatan penambangan batubara yang dilakukan kontraktor asing di Kalimantan.

Pada kesempatan itu, Presiden memerintahkan agar segera menerbitkan penambangan emas secara liar yang semakin banyak bermunculan di daerah-daerah penghasil emas. Penambangan liar itu merugikan pemerintah juga melanggar peraturan perundangan yang berlaku. Sebagaimana diketehui  daerah-daerah penghasil emas yang dimaksudkan itu adalah Jambi, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara.


Rabu, 2 November 1988


Masih berada di Dili, hari ini Presiden dan Ibu Soeharto meresmikan beberapa proyek pembangunan. Proyek tersebut adalah Kathedral  Imaculada Conecicao, Stadion Dili, STM Negari Dili, gedung kantor Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kovalima dan Viqueque, serta Jembatan Uaimui. Kesemua proyek tersebut menelan biaya sebesar Rp 6, 763 miliar, hampir setengah dari padannya, atau sebesar Rp 3, 038 miliar, adalah membiayai pembangunan STM

Dalam sambutannya Presiden mengharapkan agar pembangunan di Timor Timur dapat terus maju, sehingga kesejahteraan dan taraf hidup rakyat dapat makin meningkat. Diingatkannya bahwa tugas kita belum selesai dengan upacara peresmian itu. Menurut Presiden , tugas tersebut malah baru di mulai. Yang harus dilakukan setelah peresmian itu adalah memanfaatkan proyek-proyek itu dengan sebaik-baiknya serta memeliharanya, sehingga dapat berfungsi secara maksimal. Namun ada hal yang lebih penting lagi, yaitu usaha untuk lebih mendorong dan lebih membangkitkan gairah rakyat untuk meningkatkan pembangunan.


Senin, 2 November 1992


Pagi ini, bertempat di Istana Merdeka, Presiden menerima Direktur Utama Perusahaan Marubeni, Iwao Toriumi. Kepadanya kepala Negara mengharapkan agar perusahaan marubeni yang telah menanamkan modalnya di Indonesia dalam berbagai sektor itu ikut menyediakan listrik, Tawaran ini dikemukakan Kepala  Negara, sebab sekarang ini pemerintah membuka peluang bagi swasta nasional asing untuk menyediakan listrik.

Pemimpin Marubeni itu menyambut tawaran yang dikemukakan Kepala Negara dan ia siap membentuk konsorsium bilamana diperlukan. Ia juga menjelaskan bahwa perusahaannya telah membangun kawasan industri di bekasi dan disana telah beroperasi 21 perusahaan, seperti Sony dan Panasonic. Jika kawasan industri telah beroperasi secara penuh, maka akan diekspor komoditi senilai sekitar US$400 juta per tahun kepada Presiden, ia juga melaporkan kerjasama dengan PT Chandra Asri dimana marubeni menemukan modal sebesar US$100 juta.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Penyusun : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo