PUSAT DATA

PUSAT DATA JENDERAL BESAR HM. SOEHARTO

---

Jaksa Agung Diminta untuk Menyelamatkan Generasi Muda dari Pengaruh Narkotika

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Senin, 1 November 1971 --- Presiden Soeharto menerima penghargaan tertinggi dari Lions Club Internasional . Menurut tradisi Lions Club, penghargaan tertinggi hanya diberikan kepada Kepala Negara yang memberikan perhatian kepada usaha perikemanusiaan. Untuk tahun ini hanya ada satu yang diberikan kepada Kepala Negara ,yaitu Presiden Soeharto. Pengharagaan ini diserahkan sendiri oleh Ketua Lions Club Internasional yang berkedudukan di Amerika Serikat, Uplinger, bertempat di Istana Merdeka.

Presiden Soeharto meminta Jaksa Agung untuk menyelamatkan generasi muda dari pengaruh narotika. Instruksi ini disampaikan Presiden Soeharto kepada Jaksa Agung ketika terakhir menghadapnya di Istana Merdeka pagi ini. Jaksa Agung Sugih Arto menyampaikan laporan mengenai daerah-daerah yang serius terkena pengaruh narkotika seperti  ganja, morfin, candu dan lain-lain. Daerah-daerah yang rawan dan membutuhkan perhatian serius antara lain adalah Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat. Palembang, Acah, Jawa Barat, Jakarta dan bali.



Untuk lebih menertibkan pemulangan, penampung dan penyaluran orang-orang Indonesia Suku Maluku di Negeri Belanda, hari ini Presiden Soeharto Mengeluarkan Keputusan Presiden No.73 tahun 1971. Keputusan tersebut mengatur bahwa repartasi suku Maluku diurus langsung oleh panitia yang bertanggungjawab kepada Menteri Dalam Negeri. Panitia bertugas merusmuskan kebijaksanaan pemerintah dalam penyelesaian masalah repartasi dengan mengindahkan faktor-faktor sosial dan keamanan nasional, melakukan seleksi dan bimbingan mental kepada reparitan. Untuk keperluan tersebut, dibentuk pula Panitia Pelaksana di daerah dan KBRI Negari Belanda.

Presiden Soeharto menyeruhkan dalam menghadapi masalah bantuan luar negeri kita hendaknya jangan panik, karena sejak semula kita tidak menggantungkan usaha-usaha pembangunan kepada bantuan luar negeri. Dalam melaksanakan pembangunan, kita berusaha dengan kemampuan sendiri, sedangkan bantuan luar negeri hanyalah pelengkap. Kita harus yakin bahwa kita benar-benar berusaha mengembangakan kaemampuan. Oleh karena itu negara-negara yang ingin melihat Indonesia mencapai kemajuan, pasti akan membantu, sebaliknya negara-negara yang tidak ingin melihat Indonesia maju, tentu tidak akan memberikan bantuan. Demikian antara lain dikatakan Presiden Soeharto dalam pertemuan dengan para menteri bidang keuangan dan ekonomi siang ini di Istana Merdeka . Pertemuan ini diadakan sehubungan dengan keputusan Senat AS tanggal 29 Oktober 1971 yang menolak RUU bantuan Luar Negeri untuk negara-negara berkembang yang di ajukan pemerintah AS. Tampak hadir dalam pertemuan ini antara lain meteri-menteri  Prof.Widjojo Nitisastro, Dr Emil Salim, Dr. Ali Wardana, Drs. Radius Prawiro, dan Kabulog Achmad Tritosudiro.



Sumber : Buku Jejak langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto

Kunjungan Resmi Perdana Menteri Belanda

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Senin, 31 Oktober 1988 --- Pukul 09.00 pagi ini Presiden dan ibu soeharto menyambut kunjungan resmi perdana Menteri Belanda
Dan Nyonya Lubers di Istana Merdeka. PM Ruud van lubers yang disertai oleh sejumlah besar pengusaha Belanda, selain oleh pejabat-pejabat tinggi Negara itu, secara resmi akan berada diindonesia sampai tanggal 3 November.

Sebelum mengadakan pembicaraan resmi dengan PM Ruud van lubers, Kepala Negara mengadakan pertemuan dengan para pengusaha Belanda yang turut serta dalam rombongan Perdana Menteri Belanda itu. Dalam pertemuan yang berlangsung selama 45 menit itu Presiden menguraikan secara panjang lebar mengenai Strategi pembangunan Indonesia dan peluang-peluang apa yang dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha Belanda di negeri ini. Presiden juga menjelaskan tentang pengaruh dari perubahan nilai sejumlah mata uang asing terhadap pembayaran utang luar negeri Indonesia.

Pukul 10.45, setelah pertemuan para pengusaha Belanda, Presiden Soeharto mengadakan pembicaraan resmi dengan PM Ruud van lubers di Ruang Jepang, Istana Merdeka. Dalam pertemuan tersebut kepala Negara didampingi oleh Menteri Luar Negeri Ali Alatas dan Menteri/sekretaris Negara Moerdiono, sementara Perdana Menteri Belanda didampingi oleh Menteri Luar Negeri H van den Broek.
Pembicaraan antara kedua Pemimpin itu tidak hanya terbatas pada hubungan dan kerjasama Bilateral, tetapi juga mencakup persoalan-persoalan regional dan internasional. Menyangkut masalah bilateral, keduanya menyatakan keyakinan mereka bahwa hubungan antara kedua Negara telah berjalan dengan baik selama ini dan masih banyak hal yang dapat ditingkatkan kepada tamunya, Presiden Soeharto menjelaskan tentang Pancasila dalam kaitan Stabilitas. Atas pernyataan PM Ruud van lubers, Presiden juga menguraikan tentang PKI, sebagai bahaya laten bagi bangsa Indonesia, dan tahanan-tahanan PKI.

PM Ruud van lubers Menilai terbukannya Peluang untuk meningkatkan hubungan dalam bidang industry dan perdangangan antara kedua negara.  Namun demikian, dalam pembicaraan pagi ini, belum ada hasil konkrit yang memperinci peningkatan tersebut. PM Ruud van lubers juga menawarkan bantuan apa yang dapat dilakukannya dalam hubungan dengan pameran Indonesia di Amerika Serikat.

Untuk menghormati kunjungan PM dan nyonya van Lubers, malam ini Presiden dan ibu soeharto menyelegarakan jamuan makan kenegaraan diistana Negara. Dalam kata sambutannya, Kepala Negara antara lain mengatakan bahwa  peluang dan kemampuan bangsa-bangsa di dunia untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tidak sama. Negara-negara yang tengah membangun telah mengerahkan segala kemauan dan kemampuannya untuk memajukan dirinya, membuat sejahtera kehidupannya, sekaligus mencoba mengejar ketertinggalannya dari Negara-negara industri maju. Namun ada sejumlah factor yang saling menjalin yang mengakibatkan ketimpangan antara Negara industri maju dengan Negara yang sedang membangun, bukannya menyempit melainkan tambah lebar. Inilah gambaran umum keadaan dunia kita sekarang, demikian ditandaskan Presiden, yang jika tidak segera diatasi secara global akan membuat dunia kita terasa resah.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo

Indonesia Tetap Mengutamakan Produk dalam Negeri

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Kamis, 31 Oktober 1985 --- Presiden menegaskan bahwa Indonesia tetap mengutamakan produk-produk dalam negeri, walaupun produk-produk luar negeri lebih murah. Demikian diungkapkan Menteri Perindustrian Hartarto setelah menghadap Kepala Negara  di Cendana pagi ini. Dikatakan oleh menteri Hartarto bahwa Presiden telah mengingatkan kembali bahwa dalam menghadapi situasi ekonomi dunia yang memprihatinkan sekarang ini, Indonesia tetap berpijak pada strategi pembangunan sesuai dengan yang ditetapkan MPR dalam GBHN.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo

Preseiden Meresmikan Gas Alam di Bontang Kalimantan Timur

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Senin, 31 Oktober 1983 --- Hari ini Presiden dan Ibu Soeharto hari ini meninggalkan Jakarta menuju Kalimantan Timur. Disana, selama dua hari ini, Presiden meresmikan perluasan kilang pencairan Gas alam di Bontang, membuka Musyawarah Nasional  Gerakan Pramuka di Samarinda, dan Meresmikan perluasan kilang bahan bakar minyak di Balikpapan.

Ketika meresmikan perluasan kilang pencairan Gas alam di Bontang hari ini, dalam sambutannya Presiden mengingatkan bahwa walaupun ia meresmikan Proyek-proyek pembangunan yang memakan biaya yang tidak kecil, namun pengetatan ikat pinggang sama sekali tidak boleh dikendorkan. Dikatakannya bahwa Usaha memperbesar dana disatu pihak, harus tetap disertai oleh usaha penghematan dan efisiensi dilain pihak. Kepala Negara mengingatkan bahwa saat ini dan tahun-tahun mendatang sungguh-sungguh harus kita lampaui dengan bekerja keras, semangat tinggi, kewaspadaan, dan keperhatinan. Hanya dengan itulah kita dapat memelihara momentum pembangunan yang kini berada ditangan kita demikian Presiden.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo

Kunjungan Raja Juan Carlos I dan Ratu Shopia di Indonesia

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Jum’at, 31 Oktober 1980 --- Raja Spanyol  Juan Carlos I dan Ratu Sophia, sore ini tiba dibandara Internasional Halim Perdanakusuma dibawah siraman Hujan lebat. Karena hujan yang begitu lebat, rangkaian Upacara penghormatan terpaksa dibatalkan, dan Presiden beserta Ibu Soeharto dan para penjemput lainnya menyambut  tamu agung itu di ruang tunggu VIP. Raja Spanyol yang disertai oleh Menteri  Luar Negeri Jose Padro Perez Llorea dan beberapa pejabat tinggi lainnya itu akan berada di Indonesia sampai tanggal 3 November.

Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto

Editor : Sukur Patakondo

Organisasi Songgobuono Telah Ditangkap

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Senin, 31 Oktober 1977 --- Presiden Soeharto hari ini di Bina Graha menerima Pangkowilhan II, Letjen, Widodo, yang melaporkan tentang situasi keamanan daerah, terutama di Pulau Jawa. Pangkowilhan menjelaskan kepada wartawan bahwa keamanan di daerah Pulau Jawa cukup dinamis dalam arti dinamika dalam masyarakat bisa tertampung dan diberi kesempatan untuk menyalurkan aspirasi-aspirasinya.

Selain itu, dikatakannya bahwa tokoh Organisasi “Songgobuono” yang ada di Jawa Timur telah ditangkap; orang tersebut telah di bina oleh tokoh PKI di Lamongan. Bahkan pengurus Organisasi yang terdiri 20 orang itu, diantaranya 12 orang sudah ditangkap, dan dari 12 tersebut, ada 7 orang aktivis PKI. Dijelaskan pula bahwa Organisasi ini dalam gerakannya memperlihatkan permainan Hipnotis dan telepati guna menarik orang agar masuk kedalam organisasi itu. Juga Organisasi  Sapu Angin yang berada di Jawa Tengah telah berhasil dibongkar. Dari hasil penyidikan ternyata 7 orang pengurusnya adalah orang-orang PKI yang dicari sejak tahun 1966.

Presiden soeharto menetapkan pemberian bantuan pangan dan benih Padi serta proyek padat karya secara cuma-cuma bagi daerah paceklik dan kekeringan didaerah Jawa Tengah. Bantuan Presiden berupa Beras yang dibagikan cuma-cuma sebanyak  1.190 ton dan 2.000 ton lainnya untuk persediaan dilumbang paceklik yang ada di 100 desa yang tersebar di Jawa Tengah. Bantuan lain berupa 60 buah proyek padat karya, permodalan kepada 28 KUD untuk kredit candak kulak, 248 ton bibit padi dan 8 ton benih jangung.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo


Presiden Soeharto Menerima Utusan Khusus Presiden Aljazair

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Kamis, 31 Oktober 1974 --- Pukul 09.00 pagi ini Presiden Soeharto menerima utusan khusus Presiden Aljazair, Dr.Omar Charbie, di Istana merdeka. Charbie datang untuk menyampaikan pesan tertulis Presiden Houari Boumedienne kepada Presiden Soeharto. Menurutnya, pesan tersebut mengenai masalah-masalah yang dihadapi dunia dewasa ini sehubungan dengan krisis energi dan sumber-sumber alam.

Pagi ini, pada jam 10.00, Presiden Soeharto menerima kurban Ali Ogly Halilov, Ketua Presidium Soviet Tertinggi, di Istana Merdeka. Halilov yang memimpin delegasi parlemen Uni Soviet yang sedang mengunjungi Indonesia, juga menyampaikan pesan pribadi Presiden  Uni Soviet, Podgorny. Dalam pertemuan itu telah dibahas pula masalah-masalah yang menyangkut hubungan Indonesia dengan Uni Soviet. Usai pertemuan delegasi Uni Soviet menjelaskan bahwa kerjasama ekonomi dan perdangangan telah menjadi fokus perhatian dalam pertemuan dengan Presiden Soeharto.

Sesudah pertemuan dengan tamu dari Uni Soviet, Presiden Soeharto mengadakan pertemuan dengan Menteri Negara Ekuin/ketua Bappenas, Widjojo Nitisastro, Menteri Pertanian, Thojib hadiwidjaya, Menteri Keuangan, Ali Wardhana, Ketua BKPM, Barli Halim, dan Direktur Jendral Kehutanan, Sudjarwo. Dalam pertemuan itu telah dibahas soal kebijaksanaan tentang hak Pengusahaan hutan.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo

Jejak Langkah Pak Harto 31 Oktober 1974 - 31 Okober 1988

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,
Kamis, 31 Oktober 1974

Pukul 09.00 pagi ini Presiden Soeharto menerima utusan khusus Presiden Aljazair, Dr.Omar Charbie, di Istana merdeka. Charbie datang untuk menyampaikan pesan tertulis Presiden Houari Boumedienne kepada Presiden Soeharto. Menurutnya, pesan tersebut mengenai masalah-masalah yang dihadapi dunia dewasa ini sehubungan dengan krisis energi dan sumber-sumber alam.

Pagi ini, pada jam 10.00, Presiden Soeharto menerima kurban Ali Ogly Halilov, Ketua Presidium Soviet Tertinggi, di Istana Merdeka. Halilov yang memimpin delegasi parlemen Uni Soviet yang sedang mengunjungi Indonesia, juga menyampaikan pesan pribadi Presiden  Uni Soviet, Podgorny. Dalam pertemuan itu telah dibahas pula masalah-masalah yang menyangkut hubungan Indonesia dengan Uni Soviet. Usai pertemuan delegasi Uni Soviet menjelaskan bahwa kerjasama ekonomi dan perdangangan telah menjadi fokus perhatian dalam pertemuan dengan Presiden Soeharto.

Sesudah pertemuan dengan tamu dari Uni Soviet, Presiden Soeharto mengadakan pertemuan dengan Menteri Negara Ekuin/ketua Bappenas, Widjojo Nitisastro, Menteri Pertanian, Thojib hadiwidjaya, Menteri Keuangan, Ali Wardhana, Ketua BKPM, Barli Halim, dan Direktur Jendral Kehutanan, Sudjarwo. Dalam pertemuan itu telah dibahas soal kebijaksanaan tentang hak Pengusahaan hutan.


Senin, 31 Oktober 1977

Presiden Soeharto hari ini di Bina Graha menerima Pangkowilhan II, Letjen, Widodo, yang melaporkan tentang situasi keamanan daerah, terutama di Pulau Jawa. Pangkowilhan menjelaskan kepada wartawan bahwa keamanan di daerah Pulau Jawa cukup dinamis dalam arti dinamika dalam masyarakat bisa tertampung dan diberi kesempatan untuk menyalurkan aspirasi-aspirasinya.

Selain itu, dikatakannya bahwa tokoh Organisasi “Songgobuono” yang ada di Jawa Timur telah ditangkap; orang tersebut telah di bina oleh tokoh PKI di Lamongan. Bahkan pengurus Organisasi yang terdiri 20 orang itu, diantaranya 12 orang sudah ditangkap, dan dari 12 tersebut, ada 7 orang aktivis PKI. Dijelaskan pula bahwa Organisasi ini dalam gerakannya memperlihatkan permainan Hipnotis dan telepati guna menarik orang agar masuk kedalam organisasi itu. Juga Organisasi  Sapu Angin yang berada di Jawa Tengah telah berhasil dibongkar. Dari hasil penyidikan ternyata 7 orang pengurusnya adalah orang-orang PKI yang dicari sejak tahun 1966.

Presiden soeharto menetapkan pemberian bantuan pangan dan benih Padi serta proyek padat karya secara cuma-cuma bagi daerah paceklik dan kekeringan didaerah Jawa Tengah. Bantuan Presiden berupa Beras yang dibagikan cuma-cuma sebanyak  1.190 ton dan 2.000 ton lainnya untuk persediaan dilumbang paceklik yang ada di 100 desa yang tersebar di Jawa Tengah. Bantuan lain berupa 60 buah proyek padat karya, permodalan kepada 28 KUD untuk kredit candak kulak, 248 ton bibit padi dan 8 ton benih jangung.


Jum’at, 31 Oktober 1980

Raja Spanyol  Juan Carlos I dan Ratu Sophia, sore ini tiba dibandara Internasional Halim Perdanakusuma dibawah siraman Hujan lebat. Karena hujan yang begitu lebat, rangkaian Upacara penghormatan terpaksa dibatalkan, dan Presiden beserta Ibu Soeharto dan para penjemput lainnya menyambut  tamu agung itu di ruang tunggu VIP. Raja Spanyol yang disertai oleh Menteri  Luar Negeri Jose Padro Perez Llorea dan beberapa pejabat tinggi lainnya itu akan berada di Indonesia sampai tanggal 3 November.


Senin, 31 Oktober 1983


Hari ini Presiden dan Ibu Soeharto hari ini meninggalkan Jakarta menuju Kalimantan Timur. Disana, selama dua hari ini, Presiden meresmikan perluasan kilang pencairan Gas alam di Bontang,membuka Musyawarah Nasional  Gerakan Pramuka di Samarinda, dan Meresmikan perluasan kilang bahan bakar minyak di Balikpapan.

Ketika meresmikan perluasan kilang pencairan Gas alam di Bontang hari ini, dalam sambutannya Presiden mengingatkan bahwa walaupun ia meresmikan Proyek-proyek pembangunan yang memakan biaya yang tidak kecil, namun pengetatan ikat pinggang sama sekali tidak boleh dikendorkan. Dikatakannya bahwa Usaha memperbesar dana disatu pihak, harus tetap disertai oleh usaha penghematan dan efisiensi dilain pihak. Kepala Negara mengingatkan bahwa saat ini dan tahun-tahun mendatang sungguh-sungguh harus kita lampaui dengan bekerja keras, semangat tinggi, kewaspadaan, dan keperhatinan. Hanya dengan itulah kita dapat memelihara momentum pembangunan yang kini berada ditangan kita demikian Presiden.

Kamis, 31 Oktober 1985

Presiden menegaskan bahwa Indonesia tetap mengutamakan produk-produk dalam negeri, walaupun produk-produk luar negeri lebih murah. Demikian diungkapkan Menteri Perindustrian Hartarto setelah menghadap Kepala Negara  di Cendana pagi ini. Dikatakan oleh menteri Hartarto bahwa Presiden telah mengingatkan kembali bahwa dalam menghadapi situasi ekonomi dunia yang memprihatinkan sekarang ini, Indonesia tetap berpijak pada strategi pembangunan sesuai dengan yang ditetapkan MPR dalam GBHN.


Senin, 31 Oktober 1988


Pukul 09.00 pagi ini Presiden dan ibu soeharto menyambut kunjungan resmi perdana Menteri Belanda
Dan Nyonya Lubers di Istana Merdeka. PM Ruud van lubers yang disertai oleh sejumlah besar pengusaha Belanda, selain oleh pejabat-pejabat tinggi Negara itu, secara resmi akan berada diindonesia sampai tanggal 3 November.

Sebelum mengadakan pembicaraan resmi dengan PM Ruud van lubers, Kepala Negara mengadakan pertemuan dengan para pengusaha Belanda yang turut serta dalam rombongan Perdana Menteri Belanda itu. Dalam pertemuan yang berlangsung selama 45 menit itu Presiden menguraikan secara panjang lebar mengenai Strategi pembangunan Indonesia dan peluang-peluang apa yang dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha Belanda di negeri ini. Presiden juga menjelaskan tentang pengaruh dari perubahan nilai sejumlah mata uang asing terhadap pembayaran utang luar negeri Indonesia.

Pukul 10.45, setelah pertemuan para pengusaha Belanda, Presiden Soeharto mengadakan pembicaraan resmi dengan PM Ruud van lubers di Ruang Jepang, Istana Merdeka. Dalam pertemuan tersebut kepala Negara didampingi oleh Menteri Luar Negeri Ali Alatas dan Menteri/sekretaris Negara Moerdiono, sementara Perdana Menteri Belanda didampingi oleh Menteri Luar Negeri H van den Broek.
Pembicaraan antara kedua Pemimpin itu tidak hanya terbatas pada hubungan dan kerjasama Bilateral, tetapi juga mencakup persoalan-persoalan regional dan internasional. Menyangkut masalah bilateral, keduanya menyatakan keyakinan mereka bahwa hubungan antara kedua Negara telah berjalan dengan baik selama ini dan masih banyak hal yang dapat ditingkatkan kepada tamunya, Presiden Soeharto menjelaskan tentang Pancasila dalam kaitan Stabilitas. Atas pernyataan PM Ruud van lubers, Presiden juga menguraikan tentang PKI, sebagai bahaya laten bagi bangsa Indonesia, dan tahanan-tahanan PKI.

PM Ruud van lubers Menilai terbukannya Peluang untuk meningkatkan hubungan dalam bidang industry dan perdangangan antara kedua negara.  Namun demikian, dalam pembicaraan pagi ini, belum ada hasil konkrit yang memperinci peningkatan tersebut. PM Ruud van lubers juga menawarkan bantuan apa yang dapat dilakukannya dalam hubungan dengan pameran Indonesia di Amerika Serikat.

Untuk menghormat kunjungan PM dan nyonya van Lubers, mala mini Presiden dan ibu soeharto menyelegarakan jamuan makan kenegaraan diistana Negara. Dalam kata sambutannya, Kepala Negara antara lain mengatakan bahwa  peluang dan kemampuan bangsa-bangsa di dunia untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tidak sama. Negara-negara yang tengah membangun telah mengerahkan segala kemauan dan kemampuannya untuk memajukan dirinya, membuat sejahtera kehidupannya, sekaligus mencoba mengejar ketertinggalannya dari Negara-negara industri maju. Namun ada sejumlah factor yang saling menjalin yang mengakibatkan ketimpangan antara Negara industri maju dengan Negara yang sedang membangun, bukannya menyempit melainkan tambah lebar. Inilah gambaran umum keadaan dunia kita sekarang, demikian ditandaskan Presiden, yang jika tidak segera diatasi secara global akan membuat dunia kita terasa resah.

Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Penyusun : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo

Menko Ekuin Menghadap Presiden Soeharto

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Jum’at, 30 Oktober 1981 --- Menko Ekuin, Widjojo niti sastro, pagi ini menghadap Presiden Soeharto di Cendana. Kedatangannya adalah untuk melaporkan keputusan sidang OPEC yang berlangsung di Jenewa, Swiss ,Kemarin. Sidang yang dipimpin oleh Menteri Perdangangan dan Energi Subroto berhasil mengambil dua keputusan penting. Pertama, menetapkan harga kesatuan minyak bumi sebesar US$ 34,- per barrel untuk minyak Arab Saudi; harga ini diberlakukan hingga akhir 1982. Kedua, menyepakati adanya perbedaan-perbedaan kualitas minyak bumi serta jarak Negara-negara konsumen yang berbeda-beda.

Menanggapi laporan itu Presiden bersyukur atas keputusan sidang OPEC tersebut. Kepala Negara selanjutnya berpesan agar Indonesia tetap meningkatkan peranannya dalam perekonomian dunia, meskipun dunia sekarang ini sedang mengalami resesi.




Sumber : Buku jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo

Presiden Soeharto Menerima Preserta Musyawarah Nasional Kadin

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Sabtu, 30 Oktober 1976 --- Pukul 10.00 pagi ini, bertempat di Istana Negara Presiden Soeharto menerima para peserta Musyawarah Nasional Ke-3  Kadin Indonesia. Pada kesempatan itu Kepala Negara memberikan amanatnya, dimana antara lain dimintainya agar Kadin mendorong dan memelopori ikut sertanya swasta nasional dalam pembangunan dan terwujudnya persatuan kesejahteraan rakyat.

Dalam hubungan itu, presiden mengatakan bahwa pokok persoalan kita sekarang ini adalah bagaimana agar kekuatan ekonomi swasta yang kuat itu dapat berperan dalam membangun dan bersamaan dengan itu asas keadilan sosial  dapat kita laksanakan. Lebih jauh dikatakannya bahwa salah satu langkah penting yang harus di usahakan pelaksanaanya adalah memperluas pemilikan dari sesuatu perusahaan oleh masyarakat untuk itu demikian di ungkapkannya, Pemerintah sedang menyiapkan pembentukan pasar modal yang bukan saja untuk memperlancar pengembangan modal dan perluasan usaha, melainkan juga sebagai sarana untuk penyebaran dan perluasan pemilikan perusahaan swasta.




Sumber : Buku jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo

Peserta Sidang Internasional Rubber Study Mengadakan Kunjungan Kepada Presiden Soeharto

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Kamis, 30 Oktober 1975 --- Lebih kurang 60 orang peserta sidang ke-24 international Rubber Study Group yang sedang berlangsung di Jakarta sejak tanggal 27 sampai 31 Oktober di Jakarta, mengadakan kujungan kehormatan kepada Presiden Soeharto di Istana Merdeka pagi ini. Dalam sambutannya, Kepala negara meminta Negara-negara pengekspor karet alam dan penghasil karet sintesis untuk membantu negara-negara yang sedang berkembang, sehingga harga karet yang mereka hasilkan dapat mantap dan tidak merugikan. Ia mengingatkan bahwa sebagai besar penghasil karet alam adalah penghasil karet rakyat, yaitu di Indonesia sebanyak 65%, Malaysia 55%, dan Muangthai 95%. Selanjutnya Presiden menganjurkan agar Internasional Research Study Group itu bekerjasama dengan para konsumen karet dan meminta saran-saran mereka. Demikian antara lain dikatakan oleh Presiden Soeharto.




Sumber : Buku jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo

Raja Boundwijn dan Ratu Fabiola Mengakhiri Kunjungan Resminya di Indonesia

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Rabu, 30 Oktober 1974--- Raja Boundewijn dan Ratu Fabiola jam 10.30 pagi ini mengakhiri kunjungan resminya di Indonesia. Tamu Negara yang tiba di Jakarta pada taggal 21 Oktober, selanjutnya akan mengunjungi Bali dan tinggal di sana sampai tanggal 2 November. Keberangkatannya di langan udara internasional Halim Perdanakusuma dilepas oleh Presiden dan Ibu Tie Soeharto dalam suatu ucapan militer.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo

Bantuan AS Kepada Indonesia

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Senin, 30 Oktober 1972 --- Direktur AID, John Hanna, mengadakan kunjungan kehormatan kepada Presiden Soeharto di Istana Merdeka hari ini dalam pertemuan itu telah dibicarakan masalah bantuan AS kepada Indonesia dan segala sesuatu yang menyangkut bantuan AS kepada Indonesia yang akan dibicarakan dalam sidang IGGI pada bulan Desember yang akan datang di Negeri Belanda.


Sumber : Buku jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto

Editor : Sukur Patakondo

Urusan Penumpasan G-30-S/PKI

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Sabtu, 30 Oktober 1965 --- Menpangad Letjen. Soeharto mengatakan bahwa dalam urusan menumpas ”Gerakan 30 september”, kebijaksanaan pimpinan Angkatan Darat didasarkan pada kebijaksanaan  Presiden/Panglima tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Demikian yang dikatakan Jenderal Soeharto dalam amanatnya pada penutupan Kursus Perwira Lanjutan Dua Infantri ( Kupalda-If) di Bandung.

Selanjutnya dikatakan bahwa setelah Negara, Revolusi Indonesia dan Bung Karno dapat diselamatkan dari Coup d’etat maka tindakan berikutnya menyangkut dua aspek, yaitu aspek pemulihan keamanan dan ketertiban dan aspek politik. Penyelesaian politik dipercayakan sepenuhnya kepada Presiden/Pangti ABRI/PBR Bung Karno, sedangkan aspek pemulihan keamanan/ketertiban ditugaskan kepadanya.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo


Jejak Langkah Pak Harto 30 Oktober 195 - 30 Oktober 1981

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,
Sabtu, 30 Oktober 1965

Menpangad Letjen. Soeharto mengatakan bahwa dalam urusan menumpas ”Gerakan 30 september”, kebijaksanaan pimpinan Angkatan Darat didasarkan pada kebijaksanaan  Presiden/Panglima tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Demikian yang dikatakan Jenderal Soeharto dalam amanatnya pada penutupan Kursus Perwira Lanjutan Dua Infantri ( Kupalda-If) di Bandung.

Selanjutnya dikatakan bahwa setelah Negara, Revolusi Indonesia dan Bung Karno dapat diselamatkan dari Coup d’etat maka tindakan berikutnya menyangkut dua aspek, yaitu aspek pemulihan keamanan dan ketertiban dan aspek politik. Penyelesaian politik dipercayakan sepenuhnya kepada Presiden/Pangti ABRI/PBR Bung Karno, sedangkan aspek pemulihan keamanan/ketertiban ditugaskan kepadanya.



Senin, 30 Oktober 1972

Direktur AID, John Hanna, mengadakan kunjungan kehormatan kepada Presiden Soeharto di Istana Merdeka hari ini dalam pertemuan itu telah dibicarakan masalah bantuan AS kepada Indonesia dan segala sesuatu yang menyangkut bantuan AS kepada Indonesia yang akan dibicarakan dalam sidang IGGI pada bulan Desember yang akan datang di Negeri Belanda.


Rabu, 30 Oktober 1974

Raja Boundewijn dan Ratu Fabiola jam 10.30 pagi ini mengakhiri kunjungan resminya di Indonesia. Tamu Negara yang tiba di Jakarta pada taggal 21 Oktober, selanjutnya akan mengunjungi Bali dan tinggal di sana samapai tanggal 2 November. Keberangkatannya di langan udara internasional Halim Perdanakusuma dilepas oleh Presiden dan Ibu Tie Soeharto dalam suatu ucapan militer.

Kamis, 30 Oktober 1975

Lebih kurang 60 orang peserta sidang ke-24 international Rubber Study Group yang sedang berlangsung di Jakarta sejak tanggal 27 sampai 31 Oktober di Jakarta, mengadakan kujungan kehormatan kepada Presiden Soeharto di Istana Merdeka pagi ini. Dalam sambutannya, Kepala negara meminta Negara-negara pengekspor karet alam dan penghasil karet sintesis untuk membantu negara-negara yang sedang berkembang, sehingga harga karet yang mereka hasilkan dapat mantap dan tidak merugikan. Ia mengingatkan bahwa sebagai besar penghasil karet alam adalah penghasil karet rakyat, yaitu di Indonesia sebanyak 65%, Malaysia 55%, dan Muangthai 95%. Selanjutnya Presiden menganjurkan agar Internasional Research Study Group itu bekerjasama dengan para konsumen karet dan meminta saran-saran mereka. Demikian antara lain dikatankan oleh Presiden Soeharto.

Sabtu, 30 Oktober 1976

Pukul 10.00 pagi ini, bertempat di Istana Negara Presiden Soeharto menerima para peserta Musyawarah Nasional Ke-3  Kadin Indonesia. Pada kesempatan itu Kepala Negara memberikan amanatnya, dimana antara lain dimintainya agar Kadin mendorong dan memelopori ikut sertanya swasta nasional dalam pembangunan dan terwujudnya persatuan kesejahteraan rakyat.

Dalam hubungan itu, presiden mengatakan bahwa pokok persoalan kita sekarang ini adalah bagaimana agar kekuatan ekonomi swasta yang kuat itu dapat berperan dalam membangun dan bersamaan dengan itu asas keadilan sosial  dapat kita laksanakan. Lebih jauh dikatakannya bahwa salah satu langkah penting yang harus di usahakan pelaksanaanya adalah memperluas pemilikan dari sesuatu perusahaan oleh masyarakat untuk itu demikian di ungkapkannya, Pemerintah sedang menyiapkan pembentukan pasar modal yang bukan saja untuk memperlancar pengembangan modal dan perluasan usaha, melainkan juga sebagai sarana untuk penyebaran dan perluasan pemilikan perusahaan swasta.


Jum’at, 30 Oktober 1981

Menko Ekuin, Widjojo niti sastro, pagi ini menghadap Presiden Soeharto di Cendana. Kedatangannya adalah untuk melaporkan keputusan sidang OPEC yang berlangsung di Jenewa,Swiss,Kemarin. Sidang yang dipimpin oleh Menteri Perdangangan dan Energi Subroto berhasil mengambil dua keputusan penting. Pertama, menetapkan harga kesatuan minyak bumi sebesar US$ 34,- per barrel untuk minyak Arab Saudi; harga ini diberlakukan hingga akhir 1982. Kedua, menyepakati adanya perbedaan-perbedaan kualitas minyak bumi serta jarak Negara-negara konsumen yang berbeda-beda.

Menanggapi laporan itu Presiden bersyukur atas keputusan sidang OPEC tersebut. Kepala Negara selanjutnya berpesan agar Indonesia tetap meningkatkan peranannya dalam perekonomian dunia, meskipun dunia sekarang ini sedang mengalami resesi.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak harto Jilid 1-6
Penyusun : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo




Peningkatan Kewaspadaan Banjir dan Tanah Longsor di Musim Hujan

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Selasa, 29 Oktober 1985 --- Presiden Soeharto menyerukan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan  menghadapi kemungkinan banjir dan tanah longsor dalam musim hujan sekarang ini. Demikian di ungkapkan Menteri Pekerjaan Umum, Suyono Susrodarsono, Usai menghadap kepala Negara pagi ini di Bina Graha. Di katakannya juga bahwa persiapan-persiapan untuk ini sudah pula dilakukan, misalnya berupa disiagakannya satuan-satuan unit banjir.

Presiden Soeharto mengingatkan agar pelaksaan hubungan dagang dengan Negara-negara sosialis dilakukan secara jeli, agar kejadian yang merugikan tidak terulang lagi. Demikian yang dikatakan oleh Wakil Ketua DPR, Hardjanto, setelah berkonsultasi dengan kepala Negara di Bina Graha pagi ini. Dalam pertemuannya dengan Presiden itu ia telah menyampaikan bahan masukan berupa hasil pertemuannya dengan Parlemen Uni Soviet ketika ia berkunjung ke Negeri itu beberapa waktu yang lalu.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo




Peresmian Pupuk di Kalimantan Timur dan Bontang

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Senin, 29 Oktober 1984 --- Setiba di Bontang dari Jakarta pagi ini Presiden dan Ibu Soeharto meresmikan Pabrik Pupuk Kalimantan Timur I dan II di Bontang. Dengan selesainya pembangunan kedua pabrik ini, maka produksi pupuk Indonesia akan bertambah lebih dari satu juta ton setiap tahun. Selain itu, kelebihan amoniak yang tidak seluruhnya di gunakan di kedua pabrik itu, akan dapat di gunakan oleh pabrik-pabrik lain yang membutuhkannya.

Menyambut  beroperasinya kedua pabrik baru ini Presiden antara lain mengatakan bahwa dalam membangun industri-industri pupuk khususnya dan industri-industri lain pada umumnya di masa depan, maka yang tidak kalah penting adalah penggunaan segala potensi dalam Negeri kita sendiri. Pembangunan Industri bagi kita bukan hanya dengan mendirikan Industri saja yang sangat penting adalah pembangunan industri itu harus sebanyak mungkin di tangani oleh tenaga-tenaga Indonesia sendiri, termasuk rancang bangun dan perekayasaan. Sebab, kekuatan utama pembangunan kita tidak boleh kita gantungkan hanya pada kekayaan alam, melainkan pada kemampuan manusia.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo

Kunjungan Kehormatan Menteri Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Malaysia

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Sabtu, 29 Oktober 1983 --- Pukul 09.00 pagi ini, bertempat di Bina Graha, Presiden Soeharto menerima kunjungan kehormatan Menteri Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Malaysia, Anwar Ibrahim, beserta sejumlah Tokoh Pemuda UMNO. Dalam pertemuan itu mereka di damping oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Abdul Ghafur, dan Duta Besar Malaysia, Dato’ Muhammad Bin Rahmat.
Kepada tamu-tamu tersebut, Kepala Negara telah menjelaskan tentang sejarah Pergerakan Pemuda Indonesia sejak berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908, Sumpah Pemuda 1928, sampai Proklamasi Kemerdekaan dan revolusi fisik serta peranan generasi penerus. Dalam uraiannya, Presiden menekankan pentingnya di bina dan di pelihara terus ketahanan nasional, terutama bagi generasi penerus. Di pesankannya agar prinsip ketahanan nasional benar-benar dipahami dan di hayati oleh generasi muda Indonesia dan Malaysia.

Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo



Presiden Meresmikan PT Tifico

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Sabtu, 29 Oktober 1977 --- Presiden Soeharto Meresmikan beroperasinya pabrik serat sintesis PT Tifico di Taggerang, Jawa Barat. Pabrik tersebut menghasilkan 28.000 ton polyester pertahun, dan kapasitas akan meningkat menjadi 48.000 ton.  Kebutuhan Nasional akan polyester pertahunnya hanya mencapai 45.000 ton. Oleh karena itu mulai saat sekarang kebutuhan akan serat polyester sudah tidak menjadi masalah bagi Indonesia. Berkenaan dengan ini Presiden Soeharto pada peresmian pabrik tersebut mencanangkan swasembada dalam polyester.

Presiden Soeharto memberikan bantuan Pupuk sebanyak 40 ton kepada daerah Bali yang di serahkan oleh kepala perwakilan Pusri Wilayah Jawa Timur , Nusa Tenggara Barat, dan  Nusa Tenggara Timur, Ir.Syahril Jufri, kepada Gubernur Bali Sukarmen di Denpasar. Pada penyerahan itu, Ir,Syahril  Jufri mengatakan bahwa dalam tahun ini Presiden menyumbangkan 1.080 ton pupuk untuk 27 Provinsi, yang masing-masing mendapat 40 ton.

Bibit cengkeh bantuan Presiden Soeharto tahun 1975/1976 masyarakat di daerah tingkat II Jayapura sebanyak 299.558 polong tela di salurkan sejak bulan Juni yang lalu. Penyaluran bantuan Presiden itu di berikan kepada lima kecamatan yaitu Kecamatan Depapre, Denta, Sentani, Abepura, dan Kentuk Gresi.dari jumlah tersebut di berikan kepada 4.642 kepala keluarga petani yang mengajukan permintaan bibit cengkeh anakan. Namun yang terrealisir baru 2.160 petani.  untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bibit cengkeh, Presiden akan memberikan lagi sebanyak 60.000 polong.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo

Persamaan Antara Kedua Negara Kekuatan Bagi Pelaksanaan Tugas di Masa Mendatang

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
Rabu, 29 Oktober 1975 --- Pagi ini, bertempat di Istana Merdeka, Presiden Soeharto menerima surat kepercayaan Dari Duta Besar Republik Chili Fernando Porta Angula. Duta Besar Pertama Chili di Indonesia  ini berkedudukan di Manila, Fhilipina. Dalam Pidatonya, Duta Besar Angula mengatakan bahwa Bangsanya dan bangsa Indonesia memiliki kebanggaan Nasional sendiri, akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa kedua bangsa dapat mengingkari adanya kebutuhan akan Universalisme dewasa ini. Diungkapkannya pula bahwa ia sangat memahami Orde Baru di Indonesia yang akan melaksanakan segala usaha untuk membentuk masyarakat yang bermartabat,bebas,adil,dengan Rakyat yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam pidato balasannya kepala Negara antara lain mengatakan bahwa Persamaan antara kedua Negara merupakan kekuatan bagi pelaksanaan tugas bersama di masa-masa mendatang. Tugas tersebut berupa kerjasama untuk memajukan rakyat masing-masing dan bersama-sama membangun Dunia yang lebih maju, sejahtera, dan adil. Sebagai sesama bangsa yang sedang membangun, maka perhatian kedua Negara jelas tertuju pada usaha pembangunan dan syarat-syarat bagi kelancaran pembangunan itu. Demikian Presiden Soeharto.


Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Publikasi : Oval Andrianto
Editor : Sukur Patakondo