PUSAT DATA

PUSAT DATA JENDERAL BESAR HM. SOEHARTO

---

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1992

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1992
Tentang pemanfaatan tanah hak guna usaha dan hak guna bangunan untuk usaha patungan
Dalam rangka penanaman modal asing
Isi selengkapnya, baca DI SINI

Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1996

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,,

Keputusan Presiden No.77 Tahun 1996
Tentang : Dewan Kelautan Nasional
Isi selengkapnya, baca DI SINI

Masjid YAMP AS-Syuhada Kota Mataram

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,

Selain masjid Al-Arraisiah Kelurahan Sekarbela, Kota Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB), salah satu masjid bersejaran sebagai tempat penyebaran ajaran dan syikar islam di Pulau Lombok, khususnya Kota Mataram adalah masjid AS-Syuhada Yayasan Amalbhakti Muslim Pancasila (YAMP)

Teletak di antara asrama Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, Gebang Kota Mataram, masjid YAMP nampak masih nampak berdiri kokoh dengan bangunan aslinya, semenjak dibangun dan diresmikan lansung oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto tahun 1998

"Dulunya hanya berupa bangunan dengan ukuran kecil, tapi berkat bantuan anggaran dana dari YAMP yang waktu itu diketuai lansung oleh bapak Presiden Soeharto, masjid AS-Syuhada TNI AD bisa lebih besar dan bagus seperti sekarang" kata Marbot masjid YAMP AS-Syuhada Gebang, Lalu Saefudin Hafiz di Mataram, Sabtu (27/6/2015)

Dikatakan dirinya menjadi pengurus sekaligus marbot masji YAMP sejak tahun 1990 sehingga mengetahui betul bagaiman bangunan masjid yang awalnya hanya berupa bangunan kecil sampai mendapatkan bantuan dana dari YAMP yang diketuai langsung Presiden Soeharto

Dari bentuk dan arsitektur bangunan sendiri, masjid YAMP AS-Syuhada Gebang Kota Mataram sampai sekarang tetap dengan bentuk aslinya, tidak pernah ada perubahan, dan dari pihak TNI memang tiak mau mengubahnya, karena merupakan masjid bersejaran peninggalan Presiden Soeharto yang berlatar belakang tentara juga

"Tidak ada perubahan pada bentuk masjid, masih seperti bentuk aslinya, kecuali perbaikan pada plapon yang membutuhkan perbaikan karena sudah lapuk saking lamanya dan penambahan pada bagian belakang masjid, mengingat masjid ini memang terbuku untuk umum, bukan hanya untuk TNI dan masyarakat sekitar banyak yang datang beribadah" katanya

Lebih lanjut Hafiz mengatakan pak Soeharto itu bagi saya meski seorang jendral TNI yang di mata masyarakat identik dengan sesuatu tegas, namun dibalik ketegasn beliau, ternyata memiliki keperibadian yang dekat dengan masyarakat termasuk dari sisi religiusitas keberagamaan sebagai pribadi yang sangat peduli

"Salah satu bukti sejarah bagaimana masjid AS-Syuhada merupakan sumbangan dari pak Soeharto dengan masih terpampang besar prasasti yang pembangunan masjid YAMP yang ditandatangani lansung oleh beliau"

Masjid YAMP AS-Syuhada sampai sekarang ramai digunakan sebagai tempat kegiatan keagamaan, baik oleh TNI maupun masyarakat sekitar termasuk pada bulan puasa ramadhan sekarang, banyak di antara warga setempat maupun warga dari luar duduk sambil membaca al-Qur'an sembari menunggu waktu berbuka puasa. (Turmuzi, Jurnalis Cendana News)

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1992

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 17 Tahun 1992 
Tentang
Persyaratan Pemilikan Saham Dalam Perusahaan Penanaman Modal Asing
Selengkapnya baca DI SINI

UU No.11 Tahun 1970 Tentang Penanaman Modal Asing

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1970
Tentang
Perubahan dan Tambahan Undang-Undang No.1 Tahun 1967
Tentang Penanaman Modal Asing
Selengkapnya baca DI SINI



Dari Zaman Soeharto, Dua Bendungan Ini Banyak Bantu Petani Lampung

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,

Gunung Rajabasa yang menjadi induk serta hulu sungai berbagai sungai di Lampung Selatan memiliki faktor penentu keberhasilan pertanian sawah di Lampung Selatan. Bahkan beberapa sungai diantaranya Way Pisang, Way Asahan serta sungai sungai lain bermuara di Gunung Rajabasa.

Berdasarkan penuturan salah satu tokoh masyarakat di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan Mitro (78), dua bendungan bahkan dibuat pada era kepemimpinan Preseiden RI ke-2 yakni Presiden HM. Soeharto. Bendungan yang pertama dinamakan Bendungan Penengahan 1, bendungan kedua bernama Bendungan Asahan 1.

"Dua bendungan sejak zaman Presiden Soeharto tersebut hingga kini masih bertahan dan dipergunakan untuk irigasi ratusan hektar sawah yang ada di bawahnya," ungkap Mitro kepada Cendananews.com, Kamis (9/4/2015).

Menurutnya, Presiden Soeharto telah memikirkan jauh ke depan bagaimana sebuah sistem pengairan yang bisa dipergunakan untuk membuka lahan sawah sebab menurutnya ledeng ledeng kecil yang dibuat bisa menjangkau daerah yang sama sekali tak dialiri air sungai. Warisan berupa bendungan tersebut hingga kini masih menjadi sebuah warisan yang bermanfaat bagi para petani di daerah tersebut.

Sungai Way Asahan, yang  berhulu di Gunung Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung, merupakan sungai yang melintasi Dusun Way Malim, Dusun Banyumas, dan Dusun Sumbersari di Desa Pasuruan di Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Sungai tersebut merupakan  salah satu anak sungai yang nantinya akan bersatu dengan Sungai Way Pisang.  

Karena pentingnya sungai tersebut bagi warga tak mengherankan banyak dam atau bendungan yang dibuat untuk sarana pengairan sawah.  Bahkan  sekitar jarak  1 kilometer  dari hulu sungai ada sekitar 3 bendungan yang dibuat warga.  Beberapa diantaranya berupa bendungan tradisional  yang tersusun dari batu sungai dan bendungan permanen. Sementara bendungan permanen yakni Bendungan Penengahan 1 dan Bendungan Asahan yang masing masing dibuat sekitar tahun 1975 dan 1976.

Masih menurut Mitro, perbaikan pada bendungan pun dilakukan  saat mengalami kerusakan pada kurun tahun 1998-1999. Bendungan permanen Penengahan 1 yang dibuat oleh pemerintah terletak di Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan.  Bendungan selebar 10 meter tersebut dialirkan ke terusan kecil selebar 1,5 ,meter . Terusan-terusan kecil tersebut dibuat untuk mengalirkan air yang mampu mengairi sawah hingga ratusan hektar di dusun Sumbersari maupun dusun Pahabung.  

Sementara itu bendungan permanen kedua bernama bendungan Asahan 1 yang membendung way Asahan dengan lubuk Sepan. Bendungan ini mengairi sawah sawah yang berada di dusun Banyuurip Desa Kuripan.

Menurut Kepala Unit Tekhnis Dinas Pekerjaan Umum Kecamatan Penengahan, Bakauheni dan Ketapang M.Budi, dari data dinas PU luasan lahan yang dialiri Bendungan Penengahan 1 mencapai 118 hektar sementara untuk luasan lahan yang diari Bendungan Asahan mencapai 50 hektar lebih.

"Luasan lahan tersebut bisa dilihat langsung di dinas pertanian sebab seperti kita tahu beberapa lahan diantaranya sekarang terkena proyek jalan tol dan pastinya akan menyusut luasnya," ungkap Budi.

Kedua bendungan tersebut diatur dengan sistem ulir sehingga saat air surut penahan air dari besi yang sudah dipasang bisa diturunkan, dan jika air cukup melimpah bisa dinaikkan agar air tetap mengalir, sisanya dibelokkan ke saluran air yang lebih kecil.

Dampak musim kemarau yang bagi wilayah lain sangat berpengaruh terhadap pasokan air, bahkan tidak bisa menanam dan gagal panen. Hal tersebut tak terjadi di areal persawahan yang dilalui oleh terusan aliran air dari Bendungan Way Asahan tersebut.  Tukiman (45) mengatakan bahwa sawahnya yang mencapai seperempat hektar tak pernah mengalami kesulitan air.  

Hal tersebut dikarenakan bendungan tersebut  terus dipelihara dan  Daerah Aliran Sungai (DAS) yang masih cukup terjaga.  Banyak pepohonan dialiran sungai tersebut yang cukup membantu menjadi wilayah tangkapan air (cathment area). Pohon tersebut diantaranya pohon bambu, pohon gondang, pohon wungu yang tumbuh di sepanjang sungai.

“Sawah yang ada di wilayah kami tak pernah kesulitan air. Bahkan di saat musim kemarau ini banyak petani lain tidak bisa menanam dan panen, kami masih bisa melakukan penanaman padi di lahan sawah kami, “ ujar Tukiman. 

Ia bersama warga lainnya bahkan mulai melakukan proses pengolahan sawah. Ada yang menggunakan bajak mesin dan ada yang menggunakan tenaga kerbau.  Bahkan ia mengatakan sebelumnya mendapat hasil padi yang cukup bagus meskipun  daerah lainnya gagal panen.  Areal sawah  babnyak tedapat hampir di sisi kanan dan kiri DAS Way Asahan yan tak  pernah surut tersebut meskipun musim kemarau panjang.

Selain digunakan sebagai sarana pengairan pertanian, sungai tersebut juga digunakan untuk  keperluan warga , mencuci, mandi dan keperluan lainnya.  Bahkan ada yang memanfaatkannya untuk menyirami sayuran dan membuat kerajinan batu bata, yang saat musim kemarau ini banyak dimanfaatkan untuk membuat batu bata. 

Bendungan Way Asahan dan Penengahan 1 bagi Tukiman dan warga lainnya merupakan bendungan yang sangat penting. Bahkan lebih dari puluhan tahun  ia bisa mengolah sawahnya dan mendapatkan hasil yang baik. Tukiman bahkan bisa mengingat bahwa ia bisa membangun rumahnya yang dahulu geribik dengan batu bata permanen karena adanya bendungan teresbut. Ia membuat batu bata dari air sungai dari aliran bendungan tersebut,  bahkan mengambil batu dan pasir dari Way Asahan serta membeli material bangunan lainnya untuk membangun rumah idamannya dari hasil panen yang melimpah.

“Warga Pasuruan tak akan pernah kelaparan jika Sungai Way Asahan dan bendungan ini masih terjaga. Karena sumber paling utama untuk pertanian adalah air bendungan sungai ini,  “ terangnya.


Luas dan Hasil Komoditas Tanaman Pangan Meningkat di Lamsel

Berdasarkan data yang dilansir Cendananews.com dari laman resmi BPS Lampung Selatan luas komoditi tanaman pangan khusus padi sawah dan padi ladang di Lampung Selatan mengalami kenaikan dalam jumlah luas panen (hektar) dan produksi (ton). Kenaikan dicatat BPS dalam kurun waktu tahun 2010-2013.

Khusus padi ladang jenis komoditas tanaman pangan padi sawah pada tahun 2010 luas panen padi sawah mencapai 73.376 (ha) produksi 382.590 (ton), Tahun 2011 luas panen 74.997 (ha) dengan produksi 395.437(ton), Tahun 2012 luas panen 76.108 (ha) dengan produksi  399.900(ton), tahun 2013 luas panen 80.596 (ha) dengan produksi 441.113 (ton).

Sementara khsusus padi ladang pada tahun 2010 luas panen 7.425 (ha) dengan produksi 23.552 (ton), tahun 2011 luas lahan 9.004 (ha) dengan produksi28.840 (ton), tahun 2012 luas 9.012 (ha) dengan produksi 29.065(ton), tahun 2013 9.086 (ha) dengan produksi 299.725 (ton).

Sementara itu dari hasil Sensus Pertanian 2013 (Pencacahan Lengkap) Kabupaten Lampung Selatan jumlah rumah tangga petani gurem di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2013 sebanyak 51,34 ribu rumah tangga atau sebesar 38,53 persen dari rumah tangga pertanian pengguna lahan, mengalami penurunan sebanyak 23,49 ribu rumah tangga atau turun 31,39 persen dibandingkan tahun 2003.

Jumlah petani yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 147,79 ribu orang, terbanyak di subsektor Tanaman Pangan sebesar 104,25 ribu orang dan terkecil di subsektor perikanan kegiatan penangkapan ikan sebesar 1,78 ribu orang.

Petani utama Provinsi Lampung sebesar 28,98 persen berada di kelompok umur 35-44 tahun.

Rata-rata luas lahan yang dikuasai per rumah tangga usaha pertanian seluas 0,86 ha, terjadi peningkatan sebesar 60,62 persen dibandingkan tahun 2003 yang hanya sebesar 0,53 ha. (Henk Widi, Jurnalis Cendana News)

Gudang Lembab Menjadi Saksi Jejak Pemberdayaan Pengusaha Kecil

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,

Tepat tengah hari waktu istirahat kerja tim cendananews menjumpai para pegawai Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Sulawesi Tenggara. Di ruangan tenun berbahan kayu ulin yang telah berusia 30 tahunan itu cendananews menemui Wanta Muri dan We Dehadaeno pengrajin perak khas Kendari serta La Lide seorang ahli pewarna kain tenun khas Sultra. Mereka bertiga merupakan angkatan pertama pengrajin yang diasuh oleh dekranasda Sultra semasa pemerintahan Soeharto. Mereka berkisah sekitar tahun 1980’an pernah dikirim ke Jakarta untuk mengikuti International Craft Confrence and Exhibition di Taman Mini Indonesia Indah yang diselenggarakan oleh DEKRANAS (Dewan Kerajinan Nasional) pada saat itu diketuai oleh Ibu Tien Soeharto.

Di Sulawesi Tenggara sendiri Dekranasda telah dirintis oleh beberapa pengrajin yang kemudian diberdayakan oleh pemerintah saat itu, beberapa tahun kemudian Ibu Negara Siti Hartinah Soeharto meresmikan Gedung Dekranasda Sultra dengan menandatangani sebuah prasasti tepatnya pada tanggal 27 Agustus 1988. Sayangnya pada waktu pemugaran/rehabilitasi Kantor Dekranasda Sultra pada tahun 2013 lalu dengan menghabiskan biaya 1,6 Milyar rupiah, prasasti bertandatangan Ibu Negara tersebut kini tergeletak di dalam sebuah gudang gelap dan lembab. “Saya tidak mengerti kenapa prasasti bersejarah ini seperti tidak dihargai kasiang” ujar Wanta Muri, “Andaikan diijinkan saya mau simpan saja di rumah (saya) kasiang” tambahnya.

Dewan Kerajinan Nasional merupakan sebuah kebijakan di jaman Orde Baru dalam memberdayakan para pengrajin kecil hingga ke daerah-daerah seluruh Nusantara. Kebijakan ini terbukti memberikan dampak positif terhadap pelestarian kearifan lokal dan juga salah satu implementasi ekonomi kerakyatan yang kita kenal sebagai usaha kecil dan menengah (UKM). Pada saat krisis moneter tahun 1997-1998 sebagian besar dari mereka mampu bertahan dari dampak krisis ekonomi tersebut.

Wanta Muri dan We Dehadaeno merupakan saksi sejarah perihal kelestarian Kendari Werk (baca: Kendari Werek), yaitu sebuah keahlian dalam membuat perhiasan perak dengan motif khas Kendari yang kini orisinalitas karya tersebut masih berdenyut di Dekranasda Sultra. Awalnya keahlian membuat kerajinan ini diwariskan oleh imigran asal Tiongkok  bernama Dji A Woi pada tahun 1920-an. Hingga kini beberapa daerah mengadopsi kerajinan Kendari Werk dengan berbagai motif dan pola sendiri, namun Wanta menjamin kalau kualitas Kendari Werk masih yang terbaik di dunia karena terbuat dari perak asli 97 persen.

Dekranasda Sultra yang berkantor di Jalan. Ahmad Yani no. 87 Kendari ini juga mengayomi beberapa pengrajin kain tenun  dan kerajinan anyaman khas Buton, Muna, Mekongga (Kolaka), Bombana dan Tolaki, dimana daerah-daerah tersebut memiliki kekayaan sejarah dan filosopi nusantara yang harus terus dilestarikan serta dikembangkan. (Gani Khair, Jurnalis Cendana News)