PUSAT DATA

PUSAT DATA JENDERAL BESAR HM. SOEHARTO

---

Cegah Terulangnya Berbagai Gejolak

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,,

Pidato Akhir Tahun Presiden
Kompas, 2 Januari 1977
Membaca berita selengkapnya, klik DI SINI

Antara Dunia Ide dan Dunia Nyata

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,

Harian Media Indonesia, 21 April 1997

Membaca isi berita selengkapnya klik DI SINI

47 Orang Miskin Tiap Menit

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,
























Membaca isi berita selengkapnya klik DI SINI

Pak Harto Bukan Sosok Ambisius

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,

Detik-detik di Sekitar Berhentinya Pak Harto
PAK HARTO BUKAN SOSOK AMBISIUS

(BJ Habibie Orang Terakhir yang Menemui Pak Harto Sebelum Mengambil Keputusan Mengundurkan Diri dengan Membawa Copy Surat Pengunduran diri 14 Menteri) 

PADA Kamis, 21 Mei 1998, pukul 09.05 WIB, di Istana Merdeka, H Muhammad Soeharto menyatakan “berhenti” sebagai Presiden RI yang kedua, setelah selama 32 tahun memegang tampuk kepemimpinan bangsa dan Negara. Berhenti atas keputusannya sendiri, dengan merujuk Pasal 8 UUD 1945, yang berbunyi: “Jika presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh wakil presiden sampai habis batas waktunya.”

“Sejak beberapa waktu terakhir saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi tersebut perlu dilaksanakan secara tertib, damai, dan konstitusional demi terpeliharanya kesatuan dan persatuan bangsa, serta kelangsungan pembangunan nasional saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII.

Namun demikian, kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut. Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara yang sebaik-baiknya tadi saya menilai, bahwa dengan tidak dapat diwujudkan Komite Reformasi, perubahan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.

Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas Pemerintahan Negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan Pimpinan DPR dan Pimpinan fraksi-fraksi, saya menyatakan “berhenti” dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini, hari Kamis 21 Mei 1998. Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia, saya sampaikan di hadapan Saudara-saudara pimpinan DPR-RI yang juga adalah Pimpinan MPR pagi ini pada kesempatan silaturahmi.

Sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945, maka Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof Dr BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998-2003.

Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin Negara dan bangsa Indonesia ini, saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangan-kekurangannya, semoga bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 1945-nya. Mulai hari ini pula Kabinet Pembangunan VII “demisioner” dan pada pada menteri saya ucapkan terima kasih.

Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan Pengucapan Sumpah di hadapan MPR, maka untuk menghindari “kekosongan” pimpinan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Negara, kiranya saudara Wakil Presiden sekarang juga akan melaksanakan Pengucapan Sumpah Jabatan Presiden di hadapan Mahkamah Agung Republik Indonesia.”

Beberapa detik setelah itu, Wakil Presiden Dr BJ Habibie dilantik sebagai Presiden RI ketiga. Dan usai pelantikan, Jenderal Wiranto, selaku Panglima ABRI memberi keterangan singkat bahwa sesuai dengan warisan budaya bangsa, maka ABRI akan memberi jaminan keamanan bagi HM Soeharto dan keluarganya, sebagaimana juga dilakukan kepada keluarga mantan presiden lain.

Usai pelantikan Pak Habibie, Pak Harto menuju ke ruang Jepara, dimana pimpinan DPR menunggu. Disinilah, beberapa menit sebelum Pak Harto menyatakan berhenti, Pimpinan DPR/MPR diterima Pak Harto, masih sebagai Presiden. Pada pertemuan ini, Pak Harto menyampaikan niat pengunduran dirinya. Sekarang, dengan sikap “ngapu rancang” (Jawa), tangan bersilang di depan, di bawah perut, yang menunjukkan sikap hormat seseorang kepada orang yang dihadapinya, sebagaimana sikap seseorang yang menghadapi atasan, atau “kawula” terhadap “raja,” Pak Harto mengatakan:

“Saudara-saudara sejak sekarang saya tidak menjadi Presiden lagi. Saudara-saudara selaku pimpinan DPR/MPR semoga ikut menjaga bangsa dan Negara ini. Terima kasih.”

Setelah itu, diikuti oleh Mensesneg Saadillah Mursjid dan Mbak Tutut, HM Soeharto meninggalkan Istana Merdeka, tidak menengok ke kanan dan ke kiri, menuju mobil yang telah tersedia. Tiba di Cendana 10, di kediaman HM Soeharto pribadi, di ruang keluarga, sebelum duduk di kursi, HM Soeharto menengadahkan tangannya ke atas, mengucapkan Allahu Akbar beberapa kali. Usai sudah beban di pundak ini, begitu Pak Harto berucap pelan. HM Soeharto bersyukur bahwa selama itu, ia telah berusaha untuk dapat mengabdikan dirinya bagi bangsa dan negaranya. HM Soeharto memastikan niatnya untuk “Madeg Pandito.”

Gambaran seperti itu mungkin jauh dari perkiraan kebanyakan orang. Akan tetapi, itulah yang terjadi. Apabila kemudian Pak Harto dihujat tanpa henti, berhadapan dengan pengadilan, semua itu pasti di luar perhitungannya.

Barangkali, tidak ada di antara kita yang percaya, ketika pada 20 Mei 1998 malam, sekitar pukul 22.00 WIB, HM Soeharto, Presiden RI yang kedua, mengambil keputusan untuk berhenti. Orang terakhir yang menemui Pak Harto malam itu adalah BJ Habibie. Wakil Presiden RI itu bertemu dengan Pak Harto, setelah H Sudharmono, mantan Wakil Presiden RI. Ketika HM Soeharto menerima H Sudharmono, yang berlangsung sekitar pukul 19.30 sampai 20.30 WIB, tidak ada tanda-tanda Pak Harto akan mengambil keputusan untuk berhenti. Bahkan, Pak Harto masih menyatakan besok paginya akan mengumumkan Kabinet Baru, yang rencananya diberi nama Kabinet Reformasi. Selain BJ Habibie juga membawa fotokopi 14 menteri yang menyatakan tidak bersedia untuk duduk dalam Kabinet (Reformasi) yang akan dibentuk Pak Harto, surat asli 14 menteri itu ternyata sampai saat itu belum sampai ke tangan Pak Harto. Masih di tumpukan surat di meja ajudan Presiden.

Ketika sedang menerima Pak Habibie, Pak Harto memanggil Saadillah Mursjid untuk mempersiapkan pelantikan Kabinet Reformasi dan Komite Reformasi. Petunjuk itu diberikan di hadapan Habibie. Setelah Habibie pulang, Saadillah Mursjid langsung melaporkan bahwa beberapa anggota Komite Reformasi yang direncanakan tidak bersedia duduk dalam Komite Reformasi. Pada saat itu, Saadillah Mursjid juga menyampaikan informasi yang diperolehnya dari Yusril Ihza Mahendra, tentang adanya surat 14 menteri. Kalau acara pelantikan itu tetap diselenggarakan, hampir bisa dipastikan akan gagal.

Kembali ke ruangannya, ketika sedang memikirkan alternatif yang perlu dirumuskan, tanpa diduga, Pak Harto memanggil kembali Saadillah Mursjid. Pak Harto memberitahu, bahwa dia telah mengambil keputusan untuk berhenti. Setelah itu, Pak Harto memanggil putra-putrinya. Pak Harto memberi tahu keputusannya untuk berhenti dari jabatan presiden kepada putra-putrinya.(Tim Pelita)

Sumber: Jejak Langkah/Harian Pelita 11 Januari 2013

Cak Nun: Reformasi 1998 Bukan Hanya Gagal, Tapi Juga Palsu

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,

Budayawan Emha Ainun Nadjib berada di pusaran arus perubahan kekuasaan 1998. Dia adalah salah satu tokoh yang dengan lantang meminta Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Tapi reformasi yang terjadi sampai saat ini, kata dia, palsu belaka. Mengapa?

Anda termasuk tokoh yang diundang dan berbicara langsung dengan Presiden Soeharto pada 19 Mei 1998 atau beberapa hari sebelum beliau mengundurkan diri sebagai presiden. Bisa diceritakan, keinginan Soeharto saat itu apa kepada para tokoh, apakah terkait dengan rencana resufle kabinet Pembangunan VII?

Pak Harto tidak pernah mengundang 9 orang termasuk saya utk bertemu 19 Mei 1998. Kami berlima (Cak Nurkhalish Madjid, Malik Fajar, Oetomo Dananjaya, S Drajat dan saya) mengirim surat kepada Pak Harto tgl 16 Mei 1998, yang isinya menyatakan bahwa sebaiknya beliau turun dari jabatannya, dan kami tawari memilih 1 di antara 4 cara.

Isi surat itu dikonferensi-perskan di Hotel Wisata 17 Mei, disampaikan oleh Mensekneg Saadillah Mursyid kepada Presiden 18 Mei, malam harinya tanggal itu sesudah shalat Isya Pak Harto telpon ke Cak Nur, kemudian Cak Nur meneruskan hasilnya ke kami berempat. Isi telpon Pak Harto adalah beliau setuju isi surat itu, siap melepaskan jabatan, tapi minta tolong ditemani selama proses peralihan kekuasaan, serta bersama-sama menjaga agar situasi aman dan tidak semakin terancam oleh anarkisme, penjarahan dll.

 Maka disepakati untuk bertemu dengan lima orang yang menandatangani surat itu tanggal 19 Mei pagi jam 9.00. Pak Harto usul bagaimana kalau beberapa orang tua juga dilibatkan. Akhirnya dari 5 orang menjadi 9 orang, termasuk KH Ali Yafi dan Gus Dur.

Saat pertemuan dengan para tokoh itu, bagaimana pola pikir Soeharto? Apakah beliau sudah memperlihatkan tanda-tanda memang akan mundur atau masih bersikeras tetap bertahan?

Pertemuan 9 orang dengan Pak Harto 19 Mei 1998 itu basa-basi, ibarat pengantin itu sekedar resepsinya, sedang akadnya sudah duluan sebelumnya. Tanggal 18 malam Pak Harto ambil keputusan mau lengser. Kami ngobrol santai saja tidak ada ketegangan, sehingga 16 bom yang tersebar di 8 pom bensin dan 8 titik jalan tol yang mengitari Istana tidak perlu diledakkan. Hanya ada ‘mercon’ kecil yang dipelajari oleh Pak Harto dalam silaturahmi itu adalah statemen “tidak jadi Presiden tidak patheken“.

Secara pribadi ada yang penting bagi saya: 5 menit sebelum pertemuan, di luar ruangan, Cak Nur dan saya berjabat tangan untuk saling berjanji bahwa sesudah Pak Harto turun, pada kekuasaan berikutnya, Cak Nur dan saya bersepakat untuk melarang diri terlibat atau menjadi pejabat.

Masalah yang tersisa adalah Pak Harto lengser itu formula dan aplikasinya dalam puncak perpolitikan nasional bagaimana. Tidak tersepakatinya formula itu yang menjadi salah satu sebab kenapa akhirnya Reformasi 1998 itu bukan hanya gagal dan omong kosong, tapi juga palsu, bergelimang kemunafikan yang sangat menjijikkan. Jauh lebih susah mengurusi seorang munafik Reformasi dibanding 100 orang kafir Orba, karena karakter kemunafikan mengizinkan putih adalah merah, merah adalah hijau, hijau adalah biru, biru adalah coklat, demikian seterusnya tanpa batas.

Kalau disebut sesuatu yang istimewa mungkin ada. Bahwa Presiden Suharto yang menurut pengetahuan dunia diseret turun, dengan dosa-dosa nasionalnya yang menggunung, ‘mestinya’ lari ke luar Negeri dan minta suaka, kemudian kelak meninggal di pengasingan dan dikubur di tanah kutukan seluruh rakyat Indonesia. Tapi Suharto hidup tentram di Cendana, menyirami kembang, memomong cucu-cucunya yang berkunjung, merokok klobot dan terus tersenyum kepada langit dan bumi. Tidak ada demo kaum aktivis ke Cendana, dan warisan-warisannya yang terkutuk, misalnya TMII dan 5000 Masjid Amal Bakti Pancasila, tidak dibakar, diambrukkan atau dimusnahkan.

Sebagai tokoh budayawan, bisa diceritakan juga bagaimana kondisi yang terjadi di pusat kekuasaan pemerintah menghadapi berbagai tekanan pihak seperti kubu reformasi serta aksi penjarahan? Aksi anarki masyarakat seperti penjaharan sendiri saat itu bagaimana Cak?

Itu bebagai-bagai dimensi, saya ambil satu garis linier saja, yakni pergulatan di pusat kekuasaan yang menyangkut formula Reformasi. Yang konstelasi TNI, peta kekuatan dan pasukan Islam, subversi-subversi luar negeri, kenapa Glodog dijarah tapi Kelapa Gading tidak, dst, kapan-kapan saja.

Bersama Cak Nur almarhum, kami merumuskan bahwa Reformasi adalah pergantian kekuasaan total: Pak Harto turun dengan seluruh jajaran Kabinetnya, MPR dan DPR bubar, kemudian kita bentuk Komite Reformasi, terdiri atas 45 tokoh reformis. Komite Reformasi itu akan secara darurat menjadi MPR-Sementara, yang bertugas mengangkat Kepala Negara Sementara dan menugasinya untuk membikin Pemilu paling lambat setahun sesudah Pak Harto lengser.

Di antara 45 anggota Komite Reformasi itu ada tiga tokoh Orba: Akbar Tanjung, Jendral Wiranto dan Pak Harto sendiri, yang berseberangan melawan 42 orang. Butuh waktu cukup lama bagi bangsa Indonesia untuk menyadari bahwa ternyata Akbar Tanjung dan Wiranto sesungguhnya adalah tokoh Reformasi, dan mungkin akan tampil jadi calon Presiden 2014.

Bagaimana pengamatan Cak Nun, adakah hal-hal krusial penting yang terjadi di pemerintahan  saat itu menjelang Soeharto jatuh? Misalnya seperti antar menteri yang sudah menyerah menghadapi krisis moneter?

Tokoh utama Reformasi dan para politisi-aktivis pada tgl 20 Mei siang hari menyatakan menolak Komite Reformasi. Pak Harto dan Cak Nur sangat kecewa, sehingga Cak Nur ‘purik’ alias ngambeg dan tak bersedia menjadi Ketua Komite Reformasi, dan Pak Harto melepas Indonesia dengan langkah cukup lengser saja, kemudian terserah siapa yang berkuasa berikutnya, juga terserah mau aman atau tidak, tidak memikirkan lagi arah sejarah yang dimaui Reformasi.

Itulah tonggak terbangunnya kepalsuan Reformasi, yang ditandai oleh naiknya BJ Habibie menjadi Presiden, dan beliau tenang-tenang sampai hari ini karena tak seorangpun bertanya kepadanya apa saja yang ‘menimpa’nya menjelang naik jadi Presiden, bagaimana ‘kampungan’nya proses Kabinet baru tersusun, serta who’s boys yang sebenarnya mengendalikan semuanya.

Anda melihat dan memprediksi apa yang mungkin terjadi dengan bangsa ini bila saat itu Soeharto tidak mau turun dari jabatan Presiden?

Kebanyakan bangsa Indonesia yang penyakit utamanya adalah ‘dengki’, terutama elite dan kelas menengahnya, tidak punya kesiapan mental dan kejernihan intelektual untuk mendengar jika pertanyaan itu saya jawab.

Tanggal 22 Mei malam hari, saya mengambil keputusan untuk tidak meneruskan aktivitas Reformasi yang sebelumnya saya lakukan hingga ‘mengawal’ penjarahan, tiap hari di Trisakti, mendoakan 3 hari, 7 hari dan 40 hari peringatan para korban. Keputusan itu saya ambil di tengah saya mengalami peristiwa di Hotel Regent Kuningan (sekarang entah apa namanya) dengan beberapa tokoh Reformasi, yang saya tidak tega mengisahkannya di sini.

Saya kembali ke wilayah kebudayaan dan spiritualitas kemanusiaan. Yang tersisa adalah kewajiban memenuhi janji kepada Pak Harto untuk memandu proses beliau melakukan proses Husnul Khathimah, yang juga tidak dipercaya oleh siapapun. Tapi syukur sempat saya tulisan Teks Empat Sumpah dan beliau menandatangani. Yakni sumpah untuk (1) Tidak akan berupaya menjadi Presiden lagi, (2) Tidak akan turut campur pada setiap proses pemilihan Presiden, (3) Siap diadili oleh Pengadilan Negara untuk mempertanggungjawabkan seluruh kesalahannya, (4) Siap mengembalikan semua harta rakyat yang ada di tangannya berdasarkan klaim Pengadilan.

Kalau Cak Nun berpendapat, kesalahan fatal Soeharto sebelum dilengserkan bagaimana Cak?

Mudah-mudahan metafor saya ini bisa menjadi pintu untuk menemukan jawaban saya atas pertanyaan ini. Bangsa Indonesia mengalami tiga tahap. Pertama, punya hak roti tapi hanya mendapat bagian (maaf) ‘tai’. Ini melahirkan berbagai pergolakan kecil maupun besar. Tahap kedua, bangsa Indonesia mengembangkan semacam kekebalan mental sosial maupun individual untuk sanggup makan ‘tai’ dengan atau menjadi ‘terasa roti’. Bangsa Indonesia adalah pakar penderitaan, sanggup tertawa dan sehat mentalnya dalam kehancuran hidup. Bahkan juga memiliki self-enterpreneurship yang tak tertandingi: secara ekonomi tak kunjung collapsed karena kehebatan kewiraswastaan mereka. Bahkan Warteg dan warung-warung kecil lainnya mensubsidi perusahaan-perusahaan besar di metropolitan Jakarta.

Ketiga, tahap yang sekarang sedang dialami, adalah karena sudah sangat terbiasa makan ‘tai’, maka semakin sedikit rakyat Indonesia yang ingat dan sadar bahwa yang dimakannya adalah ‘tai’, sebab tai-tai sudah mereka rotikan tiap hari di dalam diri mereka. Hari ini rakyat Indonesia sudah tidak percaya bahwa Negaranya, Pemerintahnya, sistem yang sedang dijalaninya, politiknya, demokrasinya, apapun saja yang tiap hari dikenyamnya: adalah ‘tai’.

Anda melihat sosok Soeharto apakah sebagai presiden yang berhasil memimpin negara atau bagaimana Cak?

Kalau tidak salah Bethoven menyatakan bahwa ia tidak bermain musik untuk babi-babi.

Dan, ketika proses penyerahan jabatan dari Soeharto ke wakil presiden BJ Habibie di tahun 1998 apakah ada gesekan kuat untuk segera membuat pemerintahan baru?

Sudah saya jelaskan di atas terutama point-4.

Anda melihat pergerakan mahasiswa saat 1998 itu bagaimana Cak? Apakah bisa dikatakan mahasiswa sebagai penggerak reformasi.

Dari peristiwa yang saya ceritakan di atas, pasti Anda menemukan apa jawaban saya. Secara pribadi Pak Harto mengatakan kepada saya: “Cak, kalau gerakan mahasiswa mungkin bukan tidak menakutkan, tetapi kalau rakyat menjarah: saya menggigil dan ketakutan…”

Ulasan pemikiran apa yang bisa diberikan Cak Nun kepada pembaca kami setelah menjalani 15 tahun era reformasi ini? Sebagai tokoh budayawan lebih nyaman mana era reformasi dibandingkan zaman orde baru?

Bung bulan ini saya 60 tahun, energi dan waktu saya tidak ada yang saya agendakan untuk dua hal. Pertama, menghubung-hubungkan kenyamanan hidup dengan sesuatu di luar diri saya, apalagi dengan Negara, Pemerintahan dan para anak turun Dasamuka yang bergelar Sewumuka (dulu Rahwana hanya punya 10 wajah, sekarang cucu-cucunya beratus wajahnya dipampangkan di jalanan-jalanan).

Kedua, 43 tahun saya berkeliling bercengkerama dengan massa, sehingga saya cukup berpengalaman untuk tidak akan mengomentari sesuatu sebelum pihak-pihak yang terkait dengan komentar saya itu mendapatkan hidayah dari Tuhan untuk belajar bersikap jujur terhadap kehidupan. 

Ditulis Oleh: Hardani Triyoga
Sumber: Harian Detik Pagi, 21 Mei 2013 (Edisi Khusus 15 Tahun Reformasi: Quo Vadis Reformasi Indonesia)