PUSAT DATA

PUSAT DATA JENDERAL BESAR HM. SOEHARTO

---

Penghujat Itu Bohong Besar

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara

Malang, 25 Juli 1998


Kepada
Yth. Bapak Soeharto
di Rumah

Penghujat Itu Bohong Besar[1]


“Salam sejahtera selalu menyertai Bapak dan Keluarga”

Pertama-tama saya mohon maaf karena telah mengganggu istirahat Bapak. Bapak Soeharto yang baik !. Saya sebagai rakyat jelata dan tidak pernah secara langsung mendapat fasilitas dari Cendana (baik dari Bapak maupun putra/i Bapak). Sebab saya ini rakyat kecil yang tidak pernah mendapat kesempatan untuk itu, akan tetapi saya bangga menjadi rakyat Indonesia. Dan lebih bahagia lagi selama bangsa ini dipimpin oleh Bapak, saya sebagai rakyat kecil merasakan hasil pembangunan di segala bidang. Jadi saya tidak sependapat dengan orang-orang yang mencemooh dengan mengejek bahkan dengan congkaknya meneriakkan Era Reformasi, yang bahkan sudah tidak menentu ini. Dulu waktu Pak Harto jadi Presiden beras tidak semahal sekarang ini, dulu waktu Bapak memimpin negeri ini saya masih bisa jualan kue sehingga saya masih bisa mengangsur rumah, akan tetapi sekarang ini semua orang demonstrasi di mana-mana sehingga keamanan sudah tidak terjamin. Bahkan sekarang ini saya diberi batas waktu oleh Bank sampai dengan tanggal 4 Agustus 1998, kalau tidak bisa membayar, rumah saya akan disita. Sebab sudah tidak bisa mengangsur lagi.

Bapak Soeharto yang baik!. Di koran-koran boleh menulis banyak rakyat tidak setuju dengan kepemimpinan Bapak, saya rasa itu bohong besar sebab di desa-desa masih begitu banyak rakyat yang mencintai Bapak sebagai Bapak Pembangunan. Saya sangat tidak percaya, kalau Bapak seorang Koruptor atau penjahat yang menyimpan harta, sebab setahu kami Bapak begitu tenang membawa bangsa ini selama 32 tahun dalam keadaan aman, tapi disayangkan anak buah Bapak banyak yang tidak bisa sehingga sekarang ketahuan kemunafikan mereka. Kami tidak simpatik sama sekali. Dan kalau boleh kami sarankan sebagai rakyat yang tidak berdaya apa-apa ini, dan apabila suara kami bisa didengar tolong putra-putri Bapak tetap berjuang untuk Golkar. Saya yakin masih banyak rakyat Indonesia mencintai dan menyayangi Bapak dan kami tidak akan termakan isu apapun mengenai Bapak.

Bapak Soeharto yang baik !. Kami tetap berdoa agar supaya Bapak dan Keluarga diberi keluasan oleh Tuhan di dalam menghadapi cobaan yang sangat berat ini, kami yakin dan percaya bahwa keadaan ini akan cepat berlalu. Supaya bangsa ini bisa pulih kembali ekonominya seperti dulu Bapak memimpin negeri ini.

Akhirnya cukup sampai di sini dulu, dan terima kasih.

Kami sangat senang kalau Bapak mau membalas surat kami ini.

Agustini Mabausi

Malang-Jawa Timur



[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 571. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Balik Membenci Penghujat

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara

Kabupaten Kutai, 28 September 1998

Kepada
Yth. Bapak Mantan Presiden  Soeharto
di Kediaman

Balik Membenci Penghujat[1]

Assalaamu ‘alaikum wr. wb

Bapak Soeharto yang arif/bijaksana. Saya adalah sebagian rakyat yang masih mencintai Bapak. Saya sedih apabila melihat Bapak di televisi. Bapak yang telah dihujat sebagian orang yang telah dipengaruhi oleh orang yang selama ini menjatuhkan Bapak. Namun Bapak dengan sabar menerima hujatan itu tanpa membalas. Saya sedikitpun tidak percaya bahwa Bapak menggunakan uang negara dan menyimpannya di luar negeri. Apa yang dikatakan orang-orang Bapak berkedok yayasan, dan mengatasnamakan rakyat adalah bohong. Rakyat percaya kepada Bapak, dan selalu ingat akan jasa-jasa Bapak selama ini. Bagi saya, wajar Bapak kaya dan hak Bapak menyimpan uang di mana saja. Yang penting Bapak tidak pernah menggunakan uang negara. Kenapa harus dipermasalahkan?.

Saya sangat simpati dengan sikap Bapak dan semoga Bapak selalu sabar dan dikuatkan iman menghadapi semua ini. Saya yakin Allah akan selalu membantu Bapak. Masih ada yang selalu mempercayai Bapak, dan mendoakan Bapak. Saya mohon maaf atas kedatangan surat ini. Namun semua ini ungkapan perasaan saya yang sangat sedih melihat Bapak. Saya sampai meneteskan air mata waktu Bapak mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998 dan saya meneteskan air mata waktu Bapak menyerahkan surat kuasa di Kejaksaan, dan melihat senyum khas Bapak dan melambaikan tangan. Semua orang bicara bahwa Bapak sabar dan tegar. Dan malah balik membenci orang yang menghujat dan menghina Bapak.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Hormat saya,
Halimah HS

Kalimantan Timur



[1]       Dikutip dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 978. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Tuntutan Reformasi Berlebihan

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Emporia Kansas, 22 Juni 1998
Kepada
Yth. Bapak H.M. Soeharto
Jl. Cendana No. 8
Jakarta-Indonesia

Tuntutan Reformasi Berlebihan[1]

Salam Perjuangan,

Dengan rasa hormat ijinkanlah saya memperkenalkan diri: Nama saya Rhewanaden, mahasiswa Emporis State University untuk program study Master of Business Administration. Melihat situasi dan perkembangan yang terjadi di tanah air, yang saya ikuti melalui media massa dan internet, membuat saya berani melayangkan surat ini kepada Bapak. Sebagai seorang Nasionalis yang mencintai perjuangan dan pahlawan bangsanya, saya merasa geram dan terganggu dengan adanya orang-orang yang terus menghujat dan memfitnah Bapak.

Melihat perjuangan dan pengabdian yang telah Bapak lakukan terhadap bangsa dan tanah air tercinta, seharusnya Bapak dianugerahi sebagai pahlawan bangsa. Di periode kepemimpinan Bapak banyak hasil pembangunan yang telah dicapai dan dapat dinikmati. Kalaupun ada kekurangan itu adalah hal wajar karena Bapak juga seorang manusia. Kenapa Bapak yang harus disalahkan. Dan ironisnya orang-orang yang dekat dan yang mendukung serta meminta Bapak duduk kembali menjabat kursi Kepresidenan, malah ikut menjatuhkan dan berusaha cuci tangan.

Kami mahasiswa yang berada di luar negeri bukan tidak merasakan pahitnya penderitaan penduduk Indonesia. Banyak dari kami yang terpaksa harus pulang kembali dan banyak yang harus bekerja karena kesulitan biaya. Bukan kami tidak ingin adanya reformasi, tetapi menurut saya yang dituntut sebagian orang terlalu berlebihan dan sebagian telah kehilangan arahnya dan hanya mementingkan kepentingan tertentu. Itu membahayakan stabilitas pembangunan, dan bahkan telah menghilangkan hak azasi Bapak sebagai tokoh Pahlawan Bangsa.

Sebagai orang kecil ijinkanlah saya bersama surat ini menyampaikan dukungan Moril kepada Bapak. Semoga Bapak Tabah. Suatu saat kebenaran akan terungkap. Dan juga saya ingin menyampaikan salam kepada putri Bapak, Mbak Tutut untuk meneruskan perjuangan menegakkan kebenaran, karena menurut saya Mbak Tutut mempunyai kapasitas, kharisma dan juga massa.


Salam Hormat,
Thewanaden
Emporia Kansas – USA




[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 643-644. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Selamat Dari PKI Berkat Bapak

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Jakarta, 3 Agustus 1998
Kepada
Yth. Bapak (Jend. Purn) H.M. Soeharto
Jl. Cendana Jakarta Pusat

Selamat Dari PKI Berkat Bapak[1]

Assalaamu ‘alaikum wr. wb

Saya menyampaikan rasa hormat dan do’a, semoga Bapak sekeluarga selalu sehat wal’afiat dan mendapat rahmat serta perlindungan dari Allah Swt. Amien.

Melalui surat ini, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sangat mendalam kepada Bapak. Atas keberanian dan jasa Bapak membubarkan PKI telah memungkinkan kami terselamatkan dan dapat hidup sampai sekarang.

Sebelumnya sudah lama sekali saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Bapak, namun selama ini kami hanya mendoakan Bapak saja dan tidak ingin mengganggu Bapak yang tentu sangat sibuk. Ceritanya, pada tahun 1965-1966 ketika saya berumur 11 tahun, keluarga kami yang tinggal di desa, kurang lebih 300 kilometer dari kota Palembang, menjadi target pembunuhan PKI. Dengan dibubarkan dan ditangkapnya anggota-anggota PKI maka hidup kami telah terselamatkan. Oleh karena itu selain bersyukur kepada Allah Swt, kami wajib pula menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak. Akan sangat menyesal rasanya sekiranya saya atas nama keluarga tidak menyampaikan ungkapan rasa hati ini.

Untuk selanjutnya, saya akan mendoakan semoga Bapak sekeluarga selalu diberi kekuartan iman, Islam, sehat wal’afiat, panjang umur dan mendapat limpahan berkah dari Allah Swt. Amien.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Hormat saya,
Suryadi Harun
Kebayoran Baru – Jakarta Selatan



[1]       Dikutip dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 978. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Mengapa Bapak (Pak Harto) Tidak Boleh Kaya

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Parungpanjang, 20 Juni 1998
Kepada
Yth. Bapak H.M. Soeharto
di  Jakarta

Mengapa Bapak (Pak Harto) Tidak Boleh Kaya[1]


Assalaamu’alaikum wr. wb.

Pertama-tama saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bila surat ini mengganggu Bapak. Apa khabar Pak?. Mudah-mudahan Bapak selalu sehat wal’afiat serta selalu dilindungi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Sejak lama saya ingin sekali mengirim surat pada Bapak tapi baru kali ini saya dapat menulis surat pada Bapak, karena saya ragu dengan situasi seperti saat ini apakah Bapak bersedia membaca surat saya, karena saya adalah rakyat biasa.

Ketika Bapak membaca surat pengunduran diri sebagai Presiden RI, hati saya sakit sekali. Tenggorokan terasa sesak, air mata tak dapat dibendung. Saya merasa kehilangan sesuatu yang sangat saya banggakan, timbul rasa benci pada mereka yang saya anggap sebagai penyebab semua ini.

Perlu Bapak ketahui, anak saya yang di SMP histeris saat itu sampai saya merasa bingung apa yang harus saya lakukan, mana dia akan EBTANAS. Memang sayalah yang terlalu memberikan contoh panutan Bapaklah orang yang bijak dan Mbak Tutut orang yang tinggi sosialnya.

Walaupun saat ini banyak orang yang menghina dan menghujat Bapak, namun saya tetap pada pendirian saya. Bapak orang yang saya cintai dan saya hormati sampai kapanpun.

Walau Bapak tidak mengenal siapa saya, saya tidak rela Bapak mendapat perlakuan dan penghinaan yang di luar batas. Karena saya merasa bagaimana perjuangan Bapak selama menjadi Presiden, 32 tahun bukanlah waktu yang singkat susah payah memimpin bangsa.

Saya yakin Bapak selalu mengikuti situasi sekarang ini. Bapak tidak usah gentar, tabahkanlah dan tegarlah menghadapi cobaan yang pahit ini, semoga Bapak berada di pihak-Nya. janganlah Bapak bersedih hati, karena tidak semua orang rela Bapak dihina dan dicampakkan begitu saja. Walaupun krisis moneter semakin parah, saya mencoba untuk bertahan. Seandainya Bapak tahu di lingkungan saya ada rakyat yang sudah tidak makan, pasti Bapak akan sedih. Yang lebih prihatin lagi mereka yang mencuri karena lapar, misalnya mencuri singkong di ladang, atau mencuri nasi tetangga. Entah kapan semua ini akan berakhir, sementara para pemimpin sekarang sibuk dengan kepentingan masing-masing. Dimana-mana timbul gerakan untuk menggugat harta kekayaan Bapak. Saya hanya tertawa dan ingin memukul mereka yang tidak punya otak.

Mengapa mereka tak berpikir dengan waras?. Wajar dong Bapak kaya, juga anak-anak Bapak, sebagai Presiden. Lurah saja di desa kami punya mobil lebih dari satu, Camat punya mobil mewah dan tanahnya hektaran. Mengapa Bapak tak boleh kaya?. Apakah mereka tak berfikir?. Berapa tahun Bapak memimpin negara?

Sekarang marilah kita memohon kepada Allah segera membuka hati mereka yang sedang buta oleh permainan politik ini.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Hormat saya,
Lina Marsolina
Bogor – Jawa Barat



[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 460-461. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Aku Tak Peduli Kata Mereka

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara

Surabaya, 08 Juni 1998

Kepada
Yth. Bapak H.M. Soeharto
Jl. Cendana No. 8
di    Jakarta Pusat

Aku Tak Peduli Kata Mereka[1]


Dengan segenap hormat,

Yang tercinta Bapak Haji Muhammad Soeharto, salam sejahtera buat Bapak dan seluruh keluarga, semoga sehat wal’afiat dan Bapak sekeluarga selalu dalam lindungan dan ridha Allah Swt.

Sebelumnya perkenankan saya memperkenalkan diri saya, saya seorang warga negara biasa, tidak mempunyai kedudukan maupun pengaruh di masyarakat. Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan Pemerintah di mana pada malam hari saya juga belajar di sebuah Perguruan Tinggi di kota saya.

Seperti kita ketahui, pada akhir-akhir ini banyak sekali adanya gerakan-gerakan maupun usaha-usaha serta suara-suara yang pada intinya mencoba mendiskreditkan ataupun menjatuhkan Bapak. Terus terang sebagai warga negara Indonesia, yang mana saya pernah mengalami masa-masa di bawah kepemimpinan Bapak sebagai Presiden Republik Indonesia, saya sangat menyesalkan keadaan tersebut di atas. Ingin rasanya saya mengubah keadaan ini. Betapa ingin saya membuka mata, hati dan pikiran mereka.

Saya tidak peduli apa pikiran mereka yang lain dan segala apa yang mereka katakan. Saya akan selalu mencintai Pak Harto sebagai presiden saya. Terus terang sejak dilahirkan, saya mengenal Bapak adalah seorang Presiden yang bijaksana, sabar dan adil. Ditambah dengan ide-ide brilian Bapak, semua itu mempunyai andil yang besar dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Satu hal yang juga saya suka dari Pak Harto adalah senyum Bapak. Senyum Bapak sungguh mengesankan. Pak Harto adalah idola saya.

Pak Harto, sekarang ini juga banyak beredar buku-buku maupun selebaran gelap yang menuliskan kekayaan Bapak, juga perusahaan-perusahaan maupun yayasan-yayasan milik Bapak di mana isinya cenderung menyudutkan Bapak. Entah kenapa di mata saya semua tulisan-tulisan tersebut tidak membuat saya ikut-ikutan menyudutkan Bapak, tetapi justru menambah kekaguman saya terhadap Bapak. Saya yakin mereka hanya tidak mengerti Bapak. Mereka tidak mengerti apa yang Bapak harapkan dari semua itu. Mereka tidak mengerti tujuan Bapak, dan mereka juga tidak menyadari pengaruh itu semua terhadap kemajuan ekonomi Negara Indonesia. Mereka selalu melihat dari sisi negatifnya, dan tidak pernah melihat segi positifnya.

Pak Harto, saya pernah berangan-angan untuk menghabiskan waktu sehari bersama Bapak. Karena tidak ada hal yang membuat kita lebih mengerti seorang selain bertemu muka dan bercakap langsung. Mungkin tidak berarti buat Bapak, tapi seandainya itu terjadi pada diri saya, bisa jadi itu adalah sebuah hal yang terbesar sepanjang hidup saya.

Akhir kata, apapun yang saya tulis di atas, saya tidak tahu apa ini akan membawa manfaat atau perubahan, tapi paling tidak membawa suatu kebahagiaan bagi saya karena betapapun kecil saya bisa memberikan rasa cinta dan penghargaan untuk seorang yang besar, yang mengyubah nasib jutaan orang di belahan dunia.


Yang menghargai Anda
Arif Rahmat Nugroho


Surabaya





[1]       Dikutip dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 254. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Lopes da Cruz: Menyesalkan Sikap Pimpinan DPR/MPR

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Jakarta, 22 Mei 1998
Kepada
Yth. Bapak H.M. Soeharto
di    Jakarta

Menyesalkan Sikap Pimpinan DPR/MPR[1]


Dengan Hormat,

Mulanya kami menyambut gembira pernyataan Bapak pada hari Selasa (19 Mei 1998) bahwa Bapak akan membentuk Komite Reformasi berikut Kabinet Reformasi, yang kami anggap sebagai “jalan tengah” dan solusi terbaik untuk meredam krisis belakangan ini. Namun, kami sangat sedih setelah pada hari Kamis (21 Mei 1998), kami mendengarkan langsung pernyataan Bapak melalui TV bahwa semuanya itu tidak dapat terwujud karena tidak mendapat dukungan yang memadai, sehingga Bapak menyatakan berhenti dari jabatan presiden.

Kami sangat menyesal dengan sikap pimpinan DPR/MPR yang sama sekali tidak konsisten dengan pernyataan mereka sebelumnya, bahwa mayoritas rakyat Indonesia menghendaki Bapak diangkat kembali, baru dua bulan berlalu, pernyataan mereka lain lagi.

Dari lubuk hati, kami ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya rakyat Indonesia tidak hanya terdiri dari mahasiswa atau sejumlah aktivis LSM saja, melainkan juga para petani dan orang-orang kecil di desa-desa, di pelosok negeri ini, yang kiranya masih merasakan kearifan dan pengayoman Bapak sebagai pemimpin yang berjiwa kerakyatan.

Kendatipun saat ini Bapak tidak lagi menjadi presiden RI, kami akan tetap mengingat segala jasa Bapak yang tak ternilai besarnya. Secara khusus, rakyat Timor Timur akan selalu mengenang Bapak Soeharto sebagai “Bapak Integrasi” dan “Bapak Pembangunan”.  Universitas Timor-Timur sama sekali tidak senada dengan Universitas-universitas lain di Indonesia. Banyak rakyat kecil Timor-Timur tidak dapat menahan air mata ketika melihat Bapak berdiri tegak untuk menyatakan pernyatannya.

Sekarang, quo vadis Indonesia? (ke mana kau pergi, Indonesia?!)

Kami ingin mengutarakan keprihatinan kami atas sikap Amin Rais yang menyatakan mendukung sikap Portugal dan kelompok Perlawanan Timor Timur dengan menerima penentuan nasib sendiri dan referendum bagi Timor-Timur, dalam suatu wawancara dengan radio Televisi Portugues International (RTP), beberapa waktu yang lalu. Padahal, sesuai dengan UU No. 7 Tahun 1976 dan ketetapan MPR No. VI/78 Timor Timur sudah menjadi bagian yang utuh dari negara kesatuan RI. Jika Indonesia sampai meninggalkan Timor-Timur, maka sikap Indonesia jauh lebih buruk daripada sikap kaum kolonialis Portugis pada tahun 1975.

Berkat bantuan Bapak melalui Yayasan Tunas Harapan Timor “Lorosae”, sejumlah putra Timor-Timur  telah mengenyam pendidikan tinggi. Tahun ini, sebagai contoh, 50 mahasiswa dari Bumi Lorosae akan menuntaskan studi mereka pada perguruan tinggi di Manado.

Kami sekeluarga tidak akan pernah melupakan segala perhatian Bapak terhadap kami. Setelah difitnah tanpa bukti sedikitpun tetapi hanya berdasarkan rekayasa belaka, yaitu dituduh tidak loyal kepada bangsa dan negara, Bapak Presiden Soeharto akhirnya menjernihkan semuanya sehingga kami diangkat menjadi anggota DPA-RI dan sekarang dapat mengabdi sebagai Dubes keliling RI dengan Tugas Khusus.

Semoga Bapak sekeluarga senantiasa dalam lindungan dan kasih Tuhan.

Hormat kami,
F.X. Lopes da Cruz
Jakarta

Catatan:
  •  Lopes da Cruz merupakan putra Timor Timur.





[1]       Dikutip dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 916-917. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Bukan Kemauan Rakyat

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Balikpapan, 27 Mei 1998
Kepada
Yth. Bapak Soeharto
yang  saya Cintai
di Kediaman

Bukan Kemauan Rakyat[1]


Dengan penuh hormat,

Bersama ini terkirim salam hormat saya ke hadapan Bapak, semoga Bapak dan keluarga dalam lindungan Allah swt. Aminn.

Bapak H. Muhammad Soeharto yang saya hormati. Sebelum surat ini saya lanjutkan perlu Bapak ketahui saya lahir tahun 1954 dan mengalami berbagai era di Indonesia ini, dan saya tidak mau terlalu memuji-muji apa yang Bapak telah capai dalam mengantar bangsa ini dari era pengkotak-kotakan idiologi/gontok-gontokan menuju era pembangunan yang mana manfaatnya telah dirasakan oleh sekalian bangsa ini, walaupun ada segelintir yang tidak mau mengakuinya. Saya hormat dan kagum selama lebih 32 tahun Bapak memimpin dan menjaga stabilitas bangsa ini, membangun bangsa ini untuk sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, dan memacu pertumbuhan ekonomi sampai 7% pertahun, yang dianggap beberapa pengamat sebagai suatu kemajuan.

Dan di sinilah titik awal dari negara luar yang tidak menginginkan kemajuan bangsa ini, mencari kelemahan dari prosesi pembangunan tersebut, dan menginfiltrasikannya. Akibatnya terjadi guncangan moneter dan dimanfaatkan segelintir orang untuk mencari pembenaran atas dalih-dalih mereka, yang mempunyai maksud-maksud tertentu yang selama ini tidak tercapai karena tidak mendapat dukungan kuat dari seluruh rakyat Indonesia, yang akhir dari gunjang-ganjing mereka, bapak lengser dari Prabon, dan ini juga merupakan salah satu tujuan negara luar menghilangkan kepemimpinan kuat di negara ini, agar dengan mudah mereka mendikte negara ini, karena tidak ada lagi pemimpin yang kuat yang mereka segani, untuk menjajah kita dari segi ekonomi (ini yang tidak disadari oleh sebagian orang di negeri ini).

Bapak lengser dari Prabon bukan kemauan dari seluruh Rakyat Indonesia, itu adalah kemauan segelintir orang yang menggunakan mahasiswa, di mana mahasiswa tersebut adalah produk dari SD Inpres yang Bapak Programkan ke seluruh penjuru negeri ini, Bapak lengser murni karena memang Bapak yang ingin lengser. Saya katakan demikian karena saya yakin, sampai menumpahkan darah pendukung Bapak akan lakukan jika Bapak inginkan (Alhamdulillah, atas kearifan Bapak tidak memilih jalan ini).

Demikian kami sampaikan kehadapan Bapak, untuk Bapak ketahui bahwa sampai saat ini Bapak tidak sendiri, masih banyak rakyat yang mencintai Bapak, dan ini Bapak bisa membuktikannya dengan cara Bapak sendiri, yang karena kami yakin Bapak adalah ahli dalam strategi. Akhirnya saya do’akan agar Bapak selalu mendapat lindungan dari Allah swt dan amal bhakti Bapak mendapat balasan yang setimpal dari-Nya. Aamiin…


Hormat saya,
Andi Bakri Saalang
Balikpapan, Kaltim





[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 242. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Ryutaro Hashimoto: Peran Besar Sebagai Pemimpin ASEAN

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
(Unofficial Translation)

Ryutaro Hashimoto: Peran Besar Sebagai Pemimpin ASEAN[1]

Yang Mulia,

Beberapa saat yang lalu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri Jepang. Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih dari lubuk hati saya yang paling dalam atas kebaikan hati dan kehormatan yang selama ini diberikan kepada saya dari Pemerintah Indonesia, terutama dari Yang Mulia.

Selama hampir dua setengah tahun sejak saya diangkat sebagai Perdana Menteri pada bulan Januari tahun 1996, saya berupaya dengan sekuat tenaga untuk menjalin kerjasama dengan kalangan internasional di bidang politik luar negeri. Sedangkan di dalam negeri, saya selalu berkomitmen dengan sungguh-sungguh untuk mengambil berbagai langkah reformasi, guna turut memberi kontribusi dalam membentuk tatanan dunia baru menjelang abad ke-21.

Yang Mulia sebagai “Bapak Pembangunan” telah mencatat reputasi yang sangat besar dalam membangun Indonesia serta meningkatkan kedudukan internasional selama lebih 30 tahun lamanya. Di samping itu, Yang Mulia selaku salah satu seorang pemimpin ASEAN mengambil peran amat besar dalam membina perdamaian dan kestabilan di dunia internasional. Pertemanan saya dengan Yang Mulia pada bulan Maret yang lalu, ketika Indonesia sedang menghadapi situasi ekonomi yang sulit, kita bertukar pendapat dengan akrab mengenai berbagai masalah, telah menjadi suatu kenang-kenangan yang tak akan saya lupakan selama-lamanya.

Saya yakin, hubungan antara Indonesia dan Jepang akan semakin dikembangkan dengan kukuh, di bawah prinsip politik luar negeri yang konsisten dan berkesinambungan. Saya sendiri, dengan kedudukan yang baru, ingin tetap berupaya agar persahabatan antara Indonesia dan Jepang dapat lebih ditingkatkan.

Saya berdoa semoga Yang Mulia senantiasa dalam keadaan sehat wal’afiat.

24 Juli 1998
Dengan rasa hormat yang tulus,
(ditulis tangan)
Ryutaro Hashimoto
Perdana Menteri Jepang

Yang Mulia
Bapak Soeharto
Mantan Presiden Republik Indonesia





[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 560. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Julius K. Nyerere: Melawan Imperialisme Ekonomi

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
26 May 1998
Former Presiden Soeharto
Office of the President of the Republic Indonesia
Jakarta-Indonesia

Julius K. Nyerere: Melawan Imperialisme Ekonomi[1]


Dear Friend,

Like millions of the people in the world I have over recent weeks and months been listening with concern and sympathy to the news of happenings in Indonesia. There was nothing I could to do help in your own and your government’s struggle to defend the Indonesian economy against attack by Northern Banks and the financiers; under those circumstances I could only pray that the peace and unity of your country would prove strong enough to with stand the forces of economic Imperalism.

You have decided that peace and renewed progress of your country can now best be served by you standing down from the office of President in favour of your legally designated successor. Of Course I respect your judgment in this. My purpose in writing now is, teherefore, quite simple.

As you return to private life I want  to thank you for the work you have done for the South Centre – and thus I hope for the developing countries as a group – while you were the President of your country. I also want to say how much I have appreciated the constant encouragement wich I have received from you, both while I was Chairman of the South Commision, and as I have been working as chairman of the Centre.

Therefore please allow me to express my personal good wishes for the future. I believe that history will acknowledge the very great service you have given to your country and its people.

Your Sincerely
Julius K. Nyerere





[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 434. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Haru, Sedih, Bangga

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Kamal, 26 Mei 1998
Kepada
Yth. Bapak Soeharto
di Jalan Cendana 6
Jakarta Pusat

Haru, Sedih, Bangga[1]

Bismillahir rachmaanir rachiim,
Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Pada 21 Mei 1998, saya mengikuti (melalui televisi) acara pidato pernyataan berhenti Bapak Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia. Rasa haru, sedih, bahagia dan bangga bercampur baur saat itu. Rasa sedih karena Bapak Soeharto yang telah banyak berjasa pada bangsa dan negara harus berhenti sebagai presiden sebelum masa jabatan berakhir. Pada saat itu saya dan istri meneteskan air mata karena mengingat jasa Bapak, tidak hanya pada negara dan bangsa, tetapi juga jasa Bapak pada kami sekeluarga, terutama pada istri saya (walaupun mungkin Bapak sudah melupakannya). Rasa bahagia karena dengan keputusan tersebut, insya Allah negara terhindar dari perpecahan yang akan menelan korban. Rasa bangga, karena pernyataan Bapak untuk mundur justru membuktikan pada rakyat Indonesia bahkan pada dunia bahwa Bapak adalah negarawan sejati, yang lebih mementingkan keutuhan dan keselamatan bangsa dan negara daripada sekedar jabatan Presiden Republik Indonesia.

Saya mengucapkan banyak terima kasih dan rasa simpati yang mendalam atas semua jasa-jasa Bapak pada bangsa dan negara, terutama pada rakyat kecil di negara ini. Dan semoga Bapak selalu mendapatkan petunjuk dan lindungan Allah SWT, serta petunjuk dan saran Bapak pada bangsa ini masih sangat diperlukan.

Bapak Soeharto yang saya hormati,

Sekitar tahun 1989-1990, istri saya menulis surat untuk minta bantuan Bapak, karena telah mengikuti tes sebagai CPNS (guru SD) 2 kali tetapi tidak lulus. Walaupun kami pesimis akan dapat perhatian dari Bapak, mengingat kesibukan Bapak sebagai presiden RI. Namun sangat tak terduga + 6 bulan setelah surat tersebut kami kirim dapat balasan, walaupun bukan langsung dari Bapak, tapi dari staf Departemen P dan K Pusat. Isinya sekedar saran agar istri saya belajar untuk mempersiapkan diri mengikuti tes selanjutnya.

Kira-kira 6 bulan berikutnya, untuk kedua kalinya saya terkejut dan bersyukur dengan datangnya surat panggilan untuk istri saya dari kantor P dan K Kab. bangkalan untuk Screening yang akhirnya diangkat sebagai CPNS di Kab. Sampang bersama temannya. Saat ini istri saya menjadi guru SD dengan golongan II B. Rasa syukur pada Allah SWT, dan ucapan terima kasih yang tak terhingga, karena dengan itu, keadaan ekonomi keluarga saya jadi membaik. tetapi karena kebutuhan istri saya yang baru melahirkan anak kami yang ke-3 waktu itu serta kesibukan di tempat kerjanya menjadi tertundanya menulis surat ucapan terima kasih kepada Bapak. Bahkan sampai Bapak menyatakan berhenti dari jabatan presiden RI. Untuk itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan itu tidak berarti saya melupakan jasa besar Bapak kepada keluarga kami. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas bantuan Bapak yang sangat berharga dan sangat berarti bagi kami sekeluarga.

Wassalam Wr. Wb.



Imam Rachman
Kamal Madura




[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 160-161. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Di Hormati Seluruh ASEAN

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Government House, Bangkok
24 June B.E. 2541 (1998)

Di Hormati  Seluruh ASEAN[1]

Your Excellency,

I wish to you express my sincere respect as well as my appreciation for all you have accomplished during your precidency to strengthen relations between Thailand and Indonesia. Your contribution towards the stability and prosperity of the region is also well recognised and something wich you should be ground. Indeed, you have an instrumental role in ensuring the succes of ASEAN. And given your important role in regional affairs for so many years, i believe your work and accomplishments wil continue to benefits this region and ASEAN in the years to come.

May I also take this opportinity to wish you and your family continued good health and happiness in the coming years.

With warm regards and high esteem, I remain.

Yours Sincerely
(Chuan Leekpai)
Prime Minister of Thailand          

His Excellency Soeharto
Jakarta





[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 160-161. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Bapak Integrasi TIMTIM

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Yogyakarta, 21 Mei 1998
Kepada
Yth. Bapak Panglima Besar
Jenderal  (Purn.) H.M. Soeharto
di
Jakarta

Bapak Integrasi TIMTIM[1]


Dengan Hormat,

Dengan segala kerendahan hati, kami sampaikan salam hormat, Semoga Bapak selalu dalam keadaan sehat wal afiat dalam lindungan dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa.

Pertama-tama perkenankan kami memperkenalkan diri sebagai Kelompok Studi East Timor Student Movement, yakni kelompok studi yang berkedudukan di Yogyakarta yang menghimpun para mahasiswa (dan pelajar) dari Timor Timur dan berbagai daerah di Indonesia, yang berusaha mengamati perkembangan pembangunan di Timor Timur sebelum, sesudah, dan selama integrasi. Hasil pengamatan ini kemudian kami ketengahkan kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun di luar negeri, melalui seminar diskusi ilmiah maupun kerja lapangan. Dalam setiap kegiatan, kami berusaha pula untuk mensosialisasikan ide Integrasi rakyat Timor Timur dengan Republik Indonesia yang disampaikan pada tanggal 17 Juli 1976.

Sebagai saudara bungsu dari generasi muda Indonesia, kami mohon agar diperkenankan menyampaikan pernyataan sikap, berkenaan dengan keputusan Bapak untuk berhenti sebagai Presiden/mandataris MPR periode 1998-2003. Pernyataan sikap tersebut adalah:
  1. Kami lahir dan pernah tumbuh dalam suasana kehidupan kolonial Portugis. Kini setelah lebih dari 20 tahun Integrasi kami hidup dalam alam merdeka. Pada masa kolonial, hanya sebahagian rakyat Timor Timur yang dapat menikmati kehidupan yang baik. Kenyataan ini tidak akan pernah terwujud seandainya bukan Bapak H.M. Soeharto yang memimpin Rakyat Indonesia sewaktu kami, rakyat Timor Timur, menyampaikan keinginan untuk bergabung pada tanggal 17 Juli 1976.
  2. Tanpa mengurangi rasa hormat kami, keputusan Bapak untuk berhenti dari jabatan sebagai presiden/mandataris MPR untuk periode 1998-2003, kami merasakan suatu kehilangan besar. Terus terang, kami sangat menyayangkan keputusan tersebut, tetapi karena rasa sayang dan cinta kami kepada Bapak H.M. Soeharto, kami menghormati keputusan Bapak tersebut dengan sepenuh hati. Dan kami bertekad akan terus mendukung Bapak.
  3. Generasi muda Timor Timur menyampaikan ucapan terima kasih, yang rasanya terlalu kecil jika dibandingkan dengan jasa Bapak selama ini, kami mengusulkan Bapak H.M. Soeharto sebagai Bapak Integrasi Timor Timor dengan Republik Indonesia.
  4.  Kami ingin menyampaikan permohonan agar Bapak tetap membimbing, mengerahkan, menyemangati dan sekaligus memimpin kami dalam rangka belajar untuk memimpin rakyat Timor-Timur sebagai bagian dari bangsa dan negara Indonesia. Bagi kami, Timor Timur adalah Indonesia, Indonesia adalah Timor Timur. Sekali lagi kami menjadi bangsa Indonesia, tetap menjadi bangsa Indonesia sampai akhir hayat.
Atas perhatian dan perkenan Bapak H.M. Soeharto untuk mendengarkan pernyataan sikap kami, tidak lupa kami haturkan limpah terima kasih.

Kelompok Studi
East Timor Student Movement 
Octavio A.J.O Soares
Yogyakarta



[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 160-161. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Tidak Minta Presiden Diganti

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Mei 1998
Kepada
Yth. Bapak Soeharto
di Kediaman

Tidak Minta Presiden Diganti[1]

Dengan Hormat,

Bapak yang saya hormati dan saya kagumi. Saya rakyat biasa dan satu dari sekian puluh juta penduduk Indonesia dan tinggal di Bogor. Dengan surat ini saya ingin sekali mencurahkan isi hati saya kepada Bapak. Ketika huru hara terjadi, di kota saya tidak ada kejadian apa-apa. Ibu-ibu dan bapak-bapak seperti biasa dengan pekerjaan rutin sehari-hari. Betapa terkejut dan sedih hati kami ketika mendengar Bapak mengundurkan diri. kami memang mengeluh dengan harga-harga yang naik, tapi kami berharap agar hal itu dapat ditanggulangi dengan segera. Kami sama sekali tidak menuntut pergantian, kami tidak minta ganti presiden, sama sekali tidak. Kami rasa itu hanya ambisi beberapa gelintir manusia saja.

Bagi saya, Bapak adalah seorang presiden dan Bapak Negara yang baik, ramah tamah, dan berbudi. Beberapa tahun lalu saya menari di Istana Bogor, dan Bapak dengan tangan Bapak sendiri memberikan saya segelas cendrol. Mungkin Bapak sudah lupa, tapi buat saya itu adalah suatu kebanggaan yang luar biasa dan tak akan pernah saya lupakan, bagaimana seorang kepala negara sudi memberikan segelas cendol kepada seorang rakyat biasa dengan tangannya sendiri.

Bapak, bagi saya Bapak tetap pahlawan yang membanggakan dan tetap sebagai presiden di hati kami. Tidak mudah bagi kami menerima seorang pemimpin baru begitu saja. Akhirul kata saya bersama keluarga saya, bersama rakyat Indonesia mendoakan semoga Bapak panjang umur, selalu sehat wal afiat dan dlindungi Allah SWT.

Harapan saya semoga Bapak tetap teguh dan tegar  dan percaya kepada kasih sayang Allah. Dia akan memberikan yang terbaik utnuk Bapak yang kami cintai. Amien.

Sembah dan Hormat saya,
Ny. Rosita
Di Bogor-Jawa Barat




[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 174-175. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Ada Hakim Yang Maha Adil

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Kepada
Yth. Bapak Haji Mohammad Soeharto
di Tempat

Ada Hakim Yang Maha Adil[1]

Dengan Hormat,

Bapak Soeharto yang saya hormati,

Saya sangat sedih dengan keadaan yang melanda Indonesia. Saya sedih, mengapa Bapak Berhenti jadi presiden dan meninggalkan kami rakyat kecil yang masih membutuhkan bimbingan Bapak. Tidak semua rakyat menolak Bapak. Bapak adalah figur yang patut diteladani oleh kami rakyat kecil, bagaimana kegigihan Bapak dalam memimpin bangsa ini, terutama di masa-masa yang sulit. Saya sebagai umat Kristen menikmati benar, bagaimana Bapak sangat berhasil menanamkan hidup rukun dan toleransi antar umat beragama, sehingga kami dapat beribadah dengan aman.

Pada tanggal 21-5-1998, saat Bapak membacakan surat pernyataan berhenti sebagai presiden, seperti ada sesuatu yang hilang, sosok Bapak sudah melekat di hati rakyat dengan senyum khas yang selalu mengembang, seolah-olah memberi kedamaian bagi kami. Saya tidak mengerti mengapa ada pihak yang memanfaatkan dan menghasut rakyat kecil yang tidak mengerti apa-apa.

Saya tidak mengerti politik. Memang, reformasi perlu demi kemajuan Indoensia tercinta dan untuk meningkatkan taraf hidup terutama rakyat kecil, tapi bukan harus mengganti presiden, apalagi masa jabatan belum selesai. Segala sesuatu bisa diselesaikan dengan akal sehat, secara damai untuk bersama-sama memajukan bangsa tercinta ini.

Saya bangga dan kagum menyaksikan di layar TV sewaktu Bapak membacakan surat pernyataan berhenti. Bapak begitu tegar. Saya sangat terhibur menyaksikan semua itu. Walaupun hati saya sangat sedih, tapi apa daya saya orang kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Manusia/dunia/siapapun boleh membenci dan menolak Bapak, tapi tangan Tuhan selalu terbuka untuk Bapak. Seperti yang Bapak katakan bahwa mau mendekatkan diri kepada Tuhan. Nama, kedudukan, kekuasaan hanya sebatas di dunia ini saja. Manusia boleh mengadili Bapak, tapi Bapak tidak usah takut dan gentar karena Tuhan yang akan membela Bapak dan Keluarga Bapak. Hanya ada satu hakim yang adil. Dia adalah Allah yang berkuasa dan hanya Dia yang berhak mengadili seluruh umat manusia.

Tuhan memberkati. Amin.
Hormat saya,
Ribka Herlin Maninga
Denpasar-Bali




[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 174-175. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kami Langsung Ke Ruang Do’a

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Malang, 21 Mei 1998
Kepada
Yth. Bapak Soeharto
yang  Ananda kasihi

Kami Langsung Ke Ruang Do’a[1]


Salam damai sejahtera selalu,

Bapak Soeharto, yang ananda kasihi, ananda adalah salah seorang anak Indonesia yang lahir di masa Orde Pembangunan yang Bapak pimpin. Ananda bersyukur dapat mengecap pendidikan sampai pada saat ini, dan terus berdoa untuk perjalanan sejarah Orde Pembangunan bangsa Indonesia yang tercinta ini.

Bapak yang ananda kasihi, ketika ananda sedang duduk di depan meja belajar dan sedang menulis (Kamis, 21-5-1998) saya kaget dengan penyiaran langsung melalui RRI (Radio Republik Indonesia) bahwa Bapak berhenti dari jabatan Presiden dan menyerahkan jabatan itu kepada wakil Bapak. Dari dalam hati yang tulus ananda mengungkapkan bahwa ananda sangat sedih. Setelah mendengar berita itu ananda langsung ke ruang do’a untuk pergi berdo’a (jam 9.35-9.50 WIB). Ananda mendo’akan Bapak supaya diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi semua yang telah terjadi. Sekaligus ananda berdo’a untuk keselamatan bangsa ini. Ananda juga dengan ketulusan hati, berjanji di hadapan Tuhan untuk mendo’akan Bapak setiap hari di waktu-waktu do’a ananda.

Bapak yang ananda kasihi, ananda tidak dapat menghibur dan menguatkan, hanya “do’a” yang dapat ananda berikan dan Tuhanlah yang menghibur dan menguatkan, serta menopang dengan kesempurnaan.

Bapak yang ananda kasihi, ananda juga mengikutsertakan dua brosur kecil dalam surat ini. Do’a ananda semoga ini memberi manfaat rohani di dalam suasana batin dan kehidupan setiap hari.
Sekian, surat ungkapan hati ananda. Terima kasih, Tuhan memberkati.

Salam dan do’a ananda
Adieli Halawa
Malang-Jawa Timur



[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 2. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Hati Saya Hancur

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Balikpapan, 10 September 1998
Kepada
Yth. Bapak Soeharto
di rumah

Hati Saya Hancur[1]


Pak Harto mengundurkan diri, 21 Mei 1998Dengan Hormat,

Saya memberanikan diri untuk menulis surat kepada Bapak, karena saya sudah tidak bisa menahan prihatin atas apa yang tengah menimpa diri Bapak.

Bapak Soeharto yang bijaksana, sewaktu mendengar pidato Bapak tanggal 21 Mei 1998 tentang pengunduran diri Bapak, hati saya hancur dan tanpa terasa saya menangis tersedu-sedu. Dengan pengunduran diri Bapak ternyata Negara Indonesia tercinta ini malah menjadi makin parah tidak keruan. Tapi apa boleh buat, saya hanya rakyat jelata yang tidak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan agar Bapak tetap memimpin negara ini.

Keprihatinan dan sakit hati saya bertambah mendengar kabar/isyu dari TV, koran, bahkan  internet yang menjelek-jelekkan nama Bapak. Apalagi tentang kekayaan Bapak yang dibesar-besarkan itu. Tapi begitu mendengar wawancara Bapak di TPI, hati saya sedikit lega, karena paling tidak orang-orang akan berfikir kembali untuk tidak menuduh Bapak yang bukan-bukan.

Saya yakin tidak sedikit orang yang masih bersimpati pada Bapak, karena bagaimanapun juga Bapak memimpin negara ini dengan bijaksana selama 32 tahun hingga Bapak dikenal sebagai Bapak Pembangunan.

Hanya orang-orang yang iri dan ambisiuslah yang tega berbuat begitu pada Bapak. Akhirnya saya hanya bisa mendoakan agar Bapak tetap diberi keimanan dan ketabahan dalam menghadapi situasi seperti ini.



Hormat ananda,
Tri Asih Fitriani
Balikpapan



[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 832. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Air Mata Kami Telah Kering

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara
Padang, 22 Mei 1998
Kepada
Yth. Bapak H.M. Soeharto
di Jalan Cendana Jakarta

Air Mata Kami Telah Kering[1]


Dengan Hormat,

Bapak Soeharto, sembah sungkem kami haturkan dengan segenap jiwa kami kepada Bapak Soeharto. Kami adalah ibu rumah tangga biasa yang tidak mengerti soal politik. Tetapi kami mengerti dan mengenal Bapak adalah sebagai “Bapak Kami”

Satu saja yang ingin kami sampaikan, bahwa kami merasa kehilangan nyawa, kami tidak kuat rasanya melihat Bapak turun dari kursi kepresidenan dengan suasana seperti ini.

Air mata kami sudah kering Bapak, betapa teganya mereka berbuat begitu. Bapakku Soeharto, apakah kami harus berakhiri bunuh diri, untuk menyatakan suara hati kami?.  Kami juga takut menghadapi masa depan kami, tanpa Bapak di tengah-tengah kami.

Bagaimanapun juga, terimalah doa tulus dari kami, rasa cinta dan hormat kami kepada Bapak.
Kami tidak bisa membuat kalimat lagi, tetapi Bapak adalah “Kebanggaan kami”.

Demikian mohon doa dari Bapak dan begitu pula doa kami yang tulus semoga Bapak selalu dalam lindungan-Nya. Amiin.

Sembah sungkem kami
Ny. Agnes Listyawarno

NB:
1. Surat ini saya tulis secara spontan
2. Banyak hal yang ingin saya sampaikan tapi hati sudah tidak kuat lagi
3. Airmata kami telah menjadi air mata mata darah, kami sembahkan kepada Bapak.
4. Ny. Agnes Listyawarno, Air Tawar Padang.




[1]       Dikutip langsung dari dalam buku dengan judul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998“, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 5. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan Letkol Anton Tabah.

Air Mata Kami Telah Kering

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara

Padang, 22 Mei 1998

Kepada

Yth. Bapak H.M. Soeharto

di Jalan Cendana Jakarta


Dengan Hormat,

Bapak Soeharto, sembah sungkem kami haturkan dengan segenap jiwa kami kepada Bapak Soeharto. Kami adalah ibu rumah tangga biasa yang tidak mengerti soal politik. Tetapi kami mengerti dan mengenal Bapak adalah sebagai “Bapak Kami”

Satu saja yang ingin kami sampaikan, bahwa kami merasa kehilangan nyawa, kami tidak kuat rasanya melihat Bapak turun dari kursi kepresidenan dengan suasana seperti ini.

Air mata kami sudah kering Bapak, betapa teganya mereka berbuat begitu. Bapakku Soeharto, apakah kami harus berakhiri bunuh diri, untuk menyatakan suara hati kami?.  Kami juga takut menghadapi masa depan kami, tanpa Bapak di tengah-tengah kami.

Bagaimanapun juga, terimalah doa tulus dari kami, rasa cinta dan hormat kami kepada Bapak.

Kami tidak bisa membuat kalimat lagi, tetapi Bapak adalah “Kebanggaan kami”.

Demikian mohon doa dari Bapak dan begitu pula doa kami yang tulus semoga Bapak selalu dalam lindungan-Nya. Amiin.


Sembah sungkem kami

Ny. Agnes Listyawarno 

NB:

1. Surat ini saya tulis secara spontan

2. Banyak hal yang ingin saya sampaikan tapi hati sudah tidak kuat lagi

3. Airmata kami telah menjadi air mata mata darah, kami sembahkan kepada Bapak.

4. Ny. Agnes Listyawarno, Air Tawar Padang.

[1]       Dikutip langsung dari dalam buku dengan judul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998“, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 5. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan Letkol Anton Tabah.