PUSAT DATA JENDERAL BESAR HM. SOEHARTO

---

Jejak Langkah, 17 Juli 1968-1969-1971-1974-1975-1976-1978-1979-1982-1983-1984-1985-1990.

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,,,

Rabu, 17 Juli 1968

Setelah dua hari berada di Lampung, Pagi ini Presiden Soeharto dan rombongan mengakhiri kunjungannya di daerah ini. Dari Lampung Presiden dan Ibu Soeharto berangkat menuju Palembang dan akan berada di sana selama tiga hari.

Siang ini Presiden mendapat laporan dari Gubernur  Sumatera Selatan,Asnawi  mangkualam,tentang perkembangan sosial,ekonomi dan politik di daerahnya.Gubernur juga melaporkan soal kekurangan  pangan  yang sedang dihadapi  masyarakat Sumatera Selatan.
Dalam kunjungan kerjanya di Sumatera Selatan, Presiden Soeharto mendapat laporan dari Gubernur Sumatera Selatan, Asnawi Mangkualam, tentang perkembangan sosial, ekonomi dan politik didaerahnya. Gubernur juga melaporkan soal kekurangan pangan yang sedang dihadapi masyarakat Sumatera Selatan.

Menanggapi laporan Gubernur, Presiden Soeharto mengatakan bahwa masalah kekurangan pangan harus diatasi dengan segera. Tetapi menurut Jenderal Soeharto, hanya ada satu jalan untuk mengatasinya, yaitu dengan meningkatkan produksi pangan. Dalam hubungan ini Presiden menganjurkan kepada Gubernur dan pemuka-pemuka masyarakat di Sumatera Selatan agar mendorong rakyat untuk memanfaatkan bahan pangan lain, seperti bulgur dan lain-lain, disamping beras.

Kamis, 17 Juli, 1969
Presiden Soeharto telah menginstruksikan Menteri Keuangan Ali Wardhana dan Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro, untuk meneliti kembali soal pembangunan di Irian Barat. Ditegaskan kembali oleh Presiden agar masalah pembangunan di Irian Barat itu lebih diperhatikan lagi sebagai kelanjutan dari pelaksanaan Pepera.Sebagaimana diketahui Pepera di Irian Barat sudah mulai dilaksanakan tanggal 14 Juli 1969.


Sabtu,17 Juli 1971.

Direktur GIA,Wiweko, menghadap Presiden  Soeharto  di kediaman Jalan Cendana pagi ini. Ia datang untuk melaporkan tentang  perluasan dan modernisasi  armada  Garuda.Menurut Direktur  GIA, dalam  waktu yang tak lama lagi GIA akan memperluas dan memodernisasikan armadanya dengan menggunakan  pesawat-pesawat "full- jet ",seperti Foker 28,guna melancarkan hubungan domestik.

Rabu, 17 Juli 1974
Dewan Pimpinan Harian INSA (Indonesia National Shipowners Association, atau Perhimpunan pemilik -pemilik kapal Indonesia) menghadap Presiden Soeharto di Bina Graha. Dalam pertemuan itu, tokoh-tokoh perkapalan nasional ini menyatakan penghargaan mereka atas perhatian dan bimbingan yang makin nyata dari pihak pemerintah terhadap perkembangan angkutan laut dewasa ini.

 Menanggapi pernyataan tersebut, Kepala Negara mengatakan bahwa sebagai hasil dari Pelita I, sekarang ini dimana-mana timbul kegiatan industri dan sarana pembangunan. Oleh karena itu, hasil-hasil yang telah dicapai ini harus diimbangi oleh angkutan laut. Menurut Presiden, pemerintah sendiri menyadari hal ini, oleh sebab itu Pemerintah membantu usaha-usaha untuk perkembangan dunia pelayaran dengan jalan membentuk PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PT PANN).

Kamis, 17 Juli 1975
Presiden Soeharto menyatakan bahwa ia akan turut mendukung gagasan utnuk lebih menyempurnakan penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta di tahun-tahun mendatang. Pernyataan tersebut dibuat oleh Kepala Negara di dalam kesan yang ditulisnya pada buku tamu ketika mengunjungi Pekan Raya Jakarta  yang ke-8 bersama Ibu Tien Soeharto malam ini.

presiden dan Ibu Tien Soeharto berkeliling selama dua jam dan menyaksikan tujuh  stand pameran. Stand-stand yang dikunjungi adalah PT Keramik Indonesia, departemen Pertanian,penerangan Repelita, DKI Jaya, Badan Pengembangan Ekspor Nasional, kerajinan tangan Pt sri Tokay, dan yugoslavia.


Sabtu, 17 Juli 1976
 Pada jam10.00 pagi ini,bertempat di Bina Graha,  Presiden Soeharto menandatangani Undang-undang No.7 Tahun 1976 tentang pengesahan penyatuan Timor Timur ke dalam Republik Indonesia dan pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Timor Timur secara resmi menjadi provinsi Indonesia yang ke-27 dan mengakhiri penjajahan Portugis selama 400 tahun.

Penandatangan ini dilakukan dalam suatu upacara yang dihadiri oleh Mendagri Amir Machmud, Mensesneg Sudharmono, dan wakil-wakil rakyat Timor Timur, Arnaldo des Rois Araujo, beserta wakilnya, Lopez da Cruz, Kepala Perwakilan Rakyat Timor Timur, Maria Guilherme Gonzalvez, dan Penghubung Luar Negeri Timor Timur, Ir. Mario Carrascalao.

Pada kesempatan itu pula Presiden mengangkat Arnaldo des Rois Araujo dan Lopez da Cruz sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Timor Timur. Kepada mereka Kepala Negara menyerahkan duplikat bendera pusaka Sangsaka Merah Putih, dan duplikat naskah Proklamasi 17 Agustus 1945, dan naskah Undang-undang No.7/1976.

Pada kesempatan itu pula Presiden mengangkat Arnaldo des Rois Araujo dan Lopez da Cruz masing-masing sebagai Gubernur dan wakil  Gubernur Provinsi Timor-Timur.kepada mereka kepala Negara menyerahkan duplikat bendera pusaka sangsaka Merah putih, dan duplikat naskah proklamasih 17 Agustus 1945,dan naskah undang-undang No. 7 Tahun 1976.


Senin, 17 Juli 1978
Dalam rangka memperingati genab dua tahun integrasi Timor Timur kedalam Republik Indonesia,hari ini Presiden menghadiri sidang istimewa DPRD Tingkat I timor-Timur  di Dili.dalam amanatnya Kepala negara antara lain mengatakan bahwa tugas kita membangun masa depan sungguh besar da berat.Tugas ini terasa lebih berat di daerah Timor-Timur yang terbengkalai oleh warisan penjajahan yang sangat lama dan masih penuh dengan bekas-bekas luka karena perjuangan mengusir penjajah.

Selanjutnya Presiden meminta agar rakyat Timor-Timur tidak ragu-ragu didalam membangun masa depan itu, karena Pemerintah Republik Indonesia mengambil tanggungjawab sepenuhnya atas kemajuan di daerah ini. Akan tetapi diingatkannya bahwa pembangunan bukanlah suatu keajaiban;pembangunan adalah bekerja keras.

Sebelum kembali ke Jakarta, siang ini Presiden dan rombongan mengadakan peninjauan di Maliana. Di sini Presiden Soeharto  disambut secara meriah oleh ribuan rakyat. Dalam pidato tampa teks,kepala Negara  menegaskan  bahwa tidak ada suatu kekuatan manapun yang dapat menghalangi kehendak rakyat Timor-Timur untuk berintegrasi kedalam Republik Indonesia.
Pada kesempatan itu, Presiden telah menyerahkan bibit  padi, palawija dan cengkeh,beserta sejumlah alat pertanian kepada para petani  maliana. Daerah ini sangat potensial untuk pertanian,oleh karena itu pemerintah segerah  membangun suatu jaringan irigasi yang akan mampu mengairi sawah seluas 17.000 hektar.

Selasa,17 Juli1979.

Pukul 10.30 pagi ini, dengan menumpang pesawat Boeing 707 milik Pelita Air Service, Presiden Soeharto  bertolak dari Halim Perdanakusuma menuju Maliana  dalam rangka kunjungan tidak resmi selama kurang lebih 20 jam  di Filipina. Dalam kunjungan ini, Kepala Negara akan mengadakan serangkaian pembicaraan  dengan presiden Filipina, Ferdinand Marcos.Ikut dalam rombongan resmi Presiden antara lain Menteri/Sekretaris  Negar, Sudharmono,Direktur Jenderal  Protokol dan Konsuler  Departemen  Luar negeri,Joop Av,Direktur  Asia-Pasifik,Departemen Luar Negeri,Sudarsono, Panglima  kowilhan III, Letjen. Leo Lopulisa,Asisten  Intel  Hankam,Mayjen. Benny Murdani, dan Asisten  Menteri/Sekertaris  Negara  Urusan  Khusus, Moerdiono.
Mendarat di lapangan  udara internasional Manila  pada jam  15.00  waktu  setempat,lima belas  menit  kemudian  Presiden  dan rombongan  menuju ke Cavite  dengan  helikopter. Pembicaraan  babak  pertama  berlangsung  malam ini  dimulai  pada pukul 18.00,dan kemudian  dilanjutkan  dengan  makan malam serta  malam kesenian.


Sabtu, 17 Juli 1982.


Presiden  Soeharto  mengemukakan  harapannya agar  para khatib  dalam khutbah  shalat  Idul fitri dapat  memberikan  udara jernih dan sejuk, sehingga  dapat  lebih  memberikan  arti  pada ibadah yang telah dijalankan selama bulan puasa, serta  lebih  mempertebal iman  dan  taqwa .Harapan  itu dikemukakan  Kepala Negara  kepada  Menteri Agama  Alamsyah  Ratu  Perwiranegara pagi ini  di Bina Graha.Alamsyah menyampaikan  laporan  kepada presiden mengenai kehidupan  beragama selama bulan Ramadhan.

Dalam kesempatan itu Kepala Negara menyatakan  penghargaannya  terhadap apa yag telah  dicapai  dan ditunjukkan selama  ini. Ia mengharapkan  supaya keadaan yang sudah  baik ini dapat  ditutup  dengan suasana kegembiraan pada hari raya  Idul Fitri.

Pukul 10.00 pagi ini,bertempat di halaman  Bina Graha, Presiden Soeharto  yang didampingi  oleh Menteri Penerangan, Ali Murtopo,Direktur  Jenderal  Radio  Televisi dan Film,Sumadi, dan Direktur  TVRI, Subrata,  melepaskan keberangkatan  kendaraan Stasiun Produksi Keliling nitu yang akan ditempatkan  di provinsi-provinsi yang belum mempunyai studio TVRI. Sebelum melepaskan keberangkatan  mobil-mobil  tersebut, kepala Negara meninjau  kendaraan  dan peralatan yang  terdapat  didalamnya.


Minggu,17 Juli 1983.

sepanjang pagi dan siang in, Presiden Soeharto  menerima kunjungan Pangab yang didampingi oleh lebih dari 30 pejabat ABRI di peternakan Tapos. Dalam kunjungan tersebut,para perwira ABRI itu diajak  berkeliling  untuk melihat-lihat  keadaan di peternakan.Antara lain  yang diperlihatkan Presiden  kepada  para tamunya  adalah  kandang  sapi, kandang kambing,biogas,pemerah susu, dan ruang  data.

Dalam  kata sambutannya,Presiden  antara lain kembali menegaskan  bahwaABRI dalam menjalankan  dwifungsinya sebagai dinamisator dan stabilisator harus mampu mengcountersegala  isyu   yang memperkecil,meremehkan,mencurigai  dan menentang  Pancasila  sebagaiideoogi, dasar  negara  maupun pandangan  hidup   bangsa  Indonesi.Dikatakannya  bahwa  ABRI tidak perlu ragu-ragu   menghadapi segala pendapat  dan tuduhan. Biar  saja, pokoknya  kafilah  jalan terus ,Demikian Presiden.


Selasa ,17 Juli 1984.

Pukul 10.00 pagi ini,bertempat di Muara  Baru, Pasar ikan,Presiden  dan Ibu Tien Soeharto meresmikan Pelabuhan perikanan Samudera Jakarta. Setelah meresmikan, Presiden dan Ibu mengadakan peninjauan keliling  ke cold stroge  dan pabrik es.Kemudian,sesudah  mengadakan dialog  dengan para nelayan,keduanya menyaksikan  Pameran  pembangunan Perikanan  1984 di kompleks yang sama.

Dalam amanatnya  Kepala Negara mengatakan bahwa pembangunan  pelabuhan  perikanan  samudra  ini harus diikuti  dengan  usaha  mendorong kegiatan pemasaran ikan  dan usaha  meningkatkan  konsumsi  ikan di daerah pedalaman. Hal ini, Menurut  Presiden, akan dapat  lebih  cepat  terwujud jika masyarakat  meningkatkan  partisipasinya  dalam membangun  perikanan  dalam arti  yang luas. Artinya , tidak di bidang produksi saja, melainkan juga dalam pengelolaan dan pemasaran ikan.

Selesai upacara peresmian,Presiden  mengadakan temu wicara dengan  para nelayan.pada kesempatan itu kepala Negara mengajak semua nelayan di seluruh Indonesia  untuk lebih memanfaatkan potensi  sumber  daya perikanan  bagi peningkatan  pendapatan  dan taraf hidup serta mengajak generasi  muda mencari nafka di laut.

Untuk meningkatkan  pendapatan  kaum nelayan, Presiden  menyarankan agar pada musim Barat, pada waktu nelayan tidak dapat  pergi ke laut  untuk  menangkap ikan,kegiatan  para nelayan dialihkan  kepada  usaha lain. Hal ini dapat  dilakukan dengan cara terlebih dahulu meningkatkan keterampiln di bidang-  bidang  lainnya.


Rabu, 17 Juli 1985.

Pagi ini,pada jam  08.50,Presiden Soeharto  menerima  Menteri  Perhubungan  Rusmin  Nuryadin  beserta Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam  dan Menteri PAN Saleh Afiff. Setelah selesai pertemuan itu, Menteri Rusmin mengatakan  bahwa  pemerintah  akan mengeluarkan  peraturan  yang memberikan kewenangan untuk melakukan  penyidikan  terhadap pelanggar lalulintas  dan angkutan  jalan raya hanya kepada polisi saja.Dengan demikian,pada  waktunya nanti para petugas  Direktorat  Lalu  lintas dan Angkutan  Jalan Raya (DLLAJR)  tidak lagi  melakukan penyidikan di jalan  raya. Kebijakan  tersebut  diambil  dalam rangka upaya  mengembalikan fungsi "law enforcement' penyidikan  kepada kepolisian  RI. Kebijaksanaan demikian  ditempuh  sebagai  kelanjutan  dari Inpres no. 4 Tahun  1985  tentang   Lalu Lintas  Barang  untuk mendukung  perekonomian.


Selasa, 17 Juli 1990.

Menteri  Perindustrian  dan Listrik Arab Saudi, Abdul Aziz al Zamil,pagi ini menghadap  Presiden  Soeharto  di Istana  Merdeka  sebagai  utusan  khusus  Raja  Fahd. Dalam pertemuan  yang dihadiri  oleh    Menteri  Agama  Munawir Sjadzali itu, ia menyampaikan sepucuk surat  dan rasa belasungkawa  dari  Raja Fahd  sehubungan  dengan  terjadinya  musibah terowongan Al  Mu, aisim  di mina yang menewaskan  ribuan  jamaah haji,termasuk  dari Indonesia. Kepada  Kepala Negara dijelaskannya  bahwa  peristiwa  tersebut  terjadi  bukan sebagai akibat  dari adanya  ledakan,  demonstrasi , padamnya  lampu  aau matinya blower.

Presiden  memperlihatkan  rasa tidak  puasnya terhadap penjelasan  yang demikian.Dikatakannya  kepada  utusan tersebut  bahwa  ia percaya,  pelayanan jamaah haji, tetapi  pelayanan itu perlu  ditingkatkan  dengan  semakin meningkatnya  jumlah  haji setiap  tahunya. peningkatan  itu hanya  mngkin dlakukan  apabila  kita mengetahui  oleh Indonesia  dari pemerintah Arab   Saudi. agar peristiwa  serupa  tidak lagi  berulang.  Dalam hubungan ini presiden  antara lain mengusulkan  agar  pemerintah  Arab  Saudi membangun  satu terowongan lagi.



Penyusun : Erens