PUSAT DATA JENDERAL BESAR HM. SOEHARTO

---

Jejak Langkah Pak Harto 20 Agustus 1966 - 20 Agustus 1986

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,
SABTU, 20 AGUSTUS 1966
Perdana Menteri Malaysia, Tengku Abdu Rahman, telah mengirimkan ucapan selamat kepada Ketua Presidium Kabinet, Jenderal Soeharto, sehubungan dengan Hari Kemerdekaan ke-21 tanggal 17 Agustus 1966. Atas ucapan selamat tersebut, Jenderal Soeharto mengucapkan terimakasihnya dan menyatakan bahwa pemerintah serta rakyat Indonesia dengan tulus berharap agar hubungan bersahabat yag baru terjalin dengan pemerintah dan rakyat Malaysia akan diperkuat demi manfaat serta kemajuan bersama.

SELASA, 20 AGUSTUS 1968
Presiden Soeharto dalam amanat tertulisnya pada pembukaan pameran sutera nasional di Puri Eka Warna, Kebayoran Baru, Jakarta, malam ini mengatakan bahwa pemerintah akan terus berusaha agar produksi sandang dalam negeri dapat ditingkatkan baik mutu maupun jumlahnya. Mengingat bahwa sampai sekarang masih terlihat membanjirnya sandang buatan luar negeri, Presiden menegaskan bahwa dalam jangka jauh dari kita harus mencukupi kebutuhan kita dengan produksi dalam negeri.

RABU, 20 AGUSTUS 1975
Presiden Soeharto pagi ini membuka Kejuaraan Atletik Pelajar Seluruh Indonesia ke-5, yang diadakan di Gelanggang Olahraga Mahasiswa Kuningan, Jakarta, yang pada hari ini juga diresmikan pemakaiannya oleh Kepala Negara, Gedung Olahraga swa ini dibangun oleh pemerintah DKI Jakarta.

MINGGU, 20 AGUSTUS 1978
Presiden Soeharto mengatakan bahwa tahun-tahun mendatang harus kita hadapi dengan rasa tanggung jawab dan kewaspadaan. Kita harus terus menumbuhkan sifat-sifat yang mutlak dituntut oleh bangsa yang membangun, yaitu sifat hemat dan kewajaran, tidak boros, dan tidak bermewah-mewah. Dalam hubungan ini, dan dalam rangka menyambut Lebaran, ia mengingatkan kembali akan adanya larangan bagi pegawai negeri, anggota ABRI dan pejabat untuk menerima pemberian dari orang lain yang bukan keluarganya. Demikian antara lain isi amanat Kepala Negara ketika menyambut peringatan Nuzulul Qur'an yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal malam ini.

KAMIS, 20 AGUSTUS 1981
Hari ini di Bina Graha, Presiden Soeharto telah menerima Kardinal Darmoyuwono dan Mgr. Leo Sukoto. Kepada Presiden, Pimpinan MAWI ini antara lain menyampaikan informasi sekitar pengunduran diri Kardinal Darwoyuwono sebagai Ketua MAWI dan sebagai Uskup Agung Semarang.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Soeharto meminta agar MAWI dapat membantu gereja Katolik di Timor Timur yang sampai saat ini belum masuk MAWI, karena masih dibawah kendali langsung Vatikan. Dikatakan oleh Kepala Negara, situasi ini akan membuat umat Katolik di Timor Timur merasa sendirian dan tidak merasa bersama dengan saudara-saudara lainnya di Indonesia. Sehubungan dengan itu, Presiden menyarankan MAWI meminta bantuan kepada Yayasan Dharmais dalam menangani panti-panti asuhan yang ada di Timor Timur.

SABTU, 20 AGUSTUS 1983
Pukul 09.00 pagi ini, Presiden dan Ibu Tien Soeharto menerima dua orang astronot Amerika Serikat, Frederick H Hauck dan John M Fabian, bersama istri mereka. Dalam kunjungan di Cendana, mereka diantar oleh Duta Besar John dan Nyonya Martha Holdrigde. Mendampingi Presiden dan Ibu Soeharto dalam acara ramah tamah itu Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi dan Nyonya Achmad Tahir.

SENIN, 20 AGUSTUS 1984
Di Balai Sidang, Jakarta, Presiden Soeharto pagi ini membuka Muktamar I Partai Persatuan Pembangunan. Muktamar yang akan berlangsung sampai tanggal 24 Agustus ini dihadiri oleh 576 utusan dari dewan pimpinan cabang dan 54 utusan dari dewan pimpinan, wilayah Presiden meresmikan pembukaan muktamar tersebut dengan memukul gong.
Dalam kata sambutannya, Kepala Negara mengatakan bahwa sebagai bagian dari hasil proses sejarah perkembangan dan perteumbuhan politik bangsa kita di masa lampau , maka ketiga kekuatan social politik yang kita miliki pin mempunyai sejarah dan coraknya sendiri.  Sejarah dan sorak sendiri-sendiri itu merupakan pengalaman dalam masa lampau dapat menimbulkan pertentangan-pertentangan tajam, bahkan bias sangat mendasar, yang mengganggu, masalah dan menghambat pembangunan.
Sebab itu, demikian Presiden selanjutnya, melalui GBHN 1983 disapai kesepakatan nasional agar sejarah dan corak sendiri-sendiri itu tidak lagi menjadi sumber pertentangan dan perpecahan. Sebaiknya, sejarah dan corak sendiri-sendiri itu kita jaddikan sejarah bersama dan corak bersama yang memperkaya, memperkuatdan memperbesar sumbangan terhadap suksesnya pembangunan sebagai pengalaman pancasila.

Rabu, 20 Agustus 1986
Pukul 11.00 Pagi ini, Presiden Soeharto mengadakan pembicaraan dengan Presiden Sihanouk di Istana Merdeka dalam pembicaraan yang berlangsung selama satu setangah jam itu, Kepala Negara mengulang kembali penegasannya tentang dukungan Indonesia. Terhadap penyelesaian masalah Kamboja secara damai. Kepala Presiden Pemerintah Koalisi Demokratik kamboja itu, Presiden Soeharto mengharapkan tidak ragu akan komitmen Indonesia dalam hal ini.
k
Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Penyusun : Rayvan Lesilolo