PUSAT DATA JENDERAL BESAR HM. SOEHARTO

---

Jejak Langkah Pak Harto 25 Juni 1979 - 25 Juni 1992

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,
SENIN, 25 JUNI 1979
Pukul 09.00 pagi ini Menteri Negara Republik Arab Suriah, Safwan Qusdy, diterima oleh Presiden Soeharto di Bina Graha. Ia datang untuk menyampaikan surat khusus dari Presiden Suriah, Hafez Assad. Dalam surat tersebut Presiden Assad menjelaskan sikap negerinya yang menentang penandatanganan perjanjian antara Mesir dan Israel baru-baru ini.


RABU, 25 JUNI 1980 
Pagi ini Presiden Soeharto membuka Musyawarah Besar Nasional ke-4 Angkatan 45 bertempat di Gedung Olahraga, Palembang. Musyawarah besar nasional ini dihadiri oleh perutusan dari 27 provinsi, termasuk Timor Timur, dan berlangsung sampai tanggal 29 Juni.

Dalam kata sambutannya, Presiden antara lain mengatakan bahwa Angkatan 45 berkewajiban untuk menunjukkan jiwa dan nilai 45 serta mengamalkan Pancasila dan UUD 1945 secara nyata. Diingatkannya bahwa tugas ini merupakan kewajiban yang tidak ringan.

Lebih lanjut dikatakan Presiden bahwa beberapa pokok mengenai usaha melestarikan nilai-nilai 45 ialah segala sesuatu yang terkandung didalam peristiwa bersejarah di tahun itu yang juga merupakan hakekat semangat dan nilai 45. Dalam hubungan ini Presiden berpendapat bahwa tugas Angkatan 45 yang tidak kalah pentingnya sekarang ini ialah meneruskan nilai-nilai 45 itu kepada generasi yang lebih muda sebagai modal mental dan semangat untuk melanjutkan perjuangan, yaitu memberi isi kepada kemerdekaan dengan pembangunan nasional.


KAMIS, 25 JUNI 1981
Presiden Korea, Chun Doo Hwan, beserta Nyonya, sore ini tiba di Jakarta untuk memulai kunjungan kenegaraannya di Indonesia. Di bandar udara internasional Halim Perdanakusuma, kedua tamu negara itu disambut dengan hangat oleh Presiden dan Ibu Soeharto dalam suatu upacara kehormatan. Indonesia adalah negara kedua yang dikunjungi Chun Doo Hwan sejak ia menjabat Presiden Republik Korea.

Presiden dan Ibu Soeharto malam ini mengadakan jamuan makan untuk menghormati Presiden dan Nyonya Chun Doo Hwan. Dalam jamuan yang berlangsung di Istana Negara itu, Presiden Soeharto mengatakan bahwa Korea dan Indonesia selama ini telah membina kerjasama yang saling memberikan manfaat, terutama di bidang ekonomi. Selanjutnya dikatakan bahwa dengan kunjungan Presiden Chun Doo Hwan kali ini tentu diharapkan hubungan persahabatan dan kerjasama, khususnya dalam bidang ekonomi dan pembangunan akan dapat diperluas dan dikembangkan. Dengan kerjasama yang demikian, maka saling pengertian dan persahabatan yang kita rasakan selama ini diantara kedua negara kita, akan makin memberi arti yang lebih nyata bagi peningkatan kesejahteraan dan kemajuan rakyat kita masing-masing.


SABTU, 25 JUNI 1983
Presiden dan Ibu Tien Soeharto sore ini menerima kunjungan Presiden Republik Demokrasi Kamboja dan Madam Sihanouk di Istana Merdeka. Pangeran Sihanouk dan Puteri Monique tiba di Jakarta pada jam 15.30 sore ini untuk suatu kunjungan kerja sampai tanggal 29 Juni mendatang. Di lapangan terbang internasional Halim Perdanakusuma, mereka disambut antara lain oleh Menteri Luar Negeri a.i., Surono beserta isteri.


RABU, 25 JUNI 1986
Selama lebih kurang setengah jam, pada pukul 09.00 pagi ini, Presiden Soeharto menerima Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan Singapura, Goh Chok Tong, di Bina Graha. Dalam kunjungan ini Goh Chok Tong disertai oleh Menteri Lingkungan, Dr. Ahmad Mattar, dan Pejabat Menteri Penerangan, Wong Kan Seng.

Dalam kesempatan itu, kepada tamunya, Kepala Negara telah menjelaskan mengenai usaha pemerintah untuk menciptakan stabilitas nasional, yang juga akan mendorong terciptanya stabilitas regional. Disamping itu telah pula dibahas masalah peningkatan hubungan dan kerjasama antara kedua negara. mengenai hal yang terakhir itu, kedua belah pihak menekankan perlunya terus dilakukan pertukaran kunjungan antara kedua negara, yang mencakup tidak saja pejabat tinggi pemerintahan, tetapi juga pejabat-pejabat yang lebih rendah.


KAMIS, 25 JUNI 1992
Presiden Soeharto menginstruksikan kepada Menteri Muda Perindustrian, Tungki Ariwibowo, agar semua pabrik baru yang akan menghasilkan barang kelompok aneka industri harus berlokasi di kawasan industri, terutama di daerah yang sudah memiliki kawasan industri ataupun sudah siap dimanfaatkan. Demikian diungkapkan Menteri Tungki Ariwibowo setelah melapor kepada Kepala Negara di Istana Merdeka pagi ini. Tungki Ariwibowo selanjutnya mengatakan bahwa kawasan industri dibangun memang untuk menampung aneka industri dan industri menegah, terutama yang berorientasi ekspor. Jadi memang sudah seharusnya semua pabrik semacam itu berada di dalam kawasan industri.


Penyusun Intarti, SPd.