PUSAT DATA JENDERAL BESAR HM. SOEHARTO

---

Jejak Langkah Pak Harto 18 Agustus 1967 - 18 Agustus 1988

♠ Dipublikasikan oleh Tim Kerja Media Cendana Nusantara ,,
Jum'at, 18 Agutus 1967
Memberikan komentar tentang pidato kenegaraan Pejabat Presiden di depan sidang DPR-GR pada tanggal 16 Agustus 1967 yang lalu, NU, PNI, IPKI, Parkindo, Partai Katolik, Muhammadiyah, dan Golongan Karya non-ABRI, pada umumnya berpendapat bahwa apa yang dikemukakan oleh Jenderal Soeharto adalah realistis sekali dan menunjukkan keterus-terangan dan ketegasan dari pimpinan negara. 

Minggu, 18 Agustus 1968
Hari ini secara khusus Presiden Soeharto telah menerima kepala-kepala suku/adat dari Irian Barat tersebut berada di Jakarta dalam rangka menghadiri upacara peringatan hari proklamasi kemerdekaan RI ke-23. Mereka berasal dari delapan kabupaten yang ada di Irian Barat, yaitu Sukarnopura, Teluk Cendrawasih, Manokwari, Sorong, Fakfak, Merauke, Paniar, dan Jayawijaya. Pada kesempatan itu, J. Kafiar dari Manokwari, mewakili para kepala suku/adat Irian Barat tersebut membacakan sebuah pernyataan kebulatan tekad. Isi kebulatan tekad tersebut antara lain : (1) Kita hanya mengenal satu negara yaitu negara kesatuan RI dari Sabang sampai Merauke yang ber-UUD 1945, ber-Pancasila, dan ber-Bendera Merah Putih. ( 2 )Kita akan tetap mempertahankan keutuhan negara kesatuan RI dan tidak hendak memisahkan daerah Irian Barat dari negara kesatuan RI.
Dalam menyambut Kepala suku/adat Irian Barat dan pernyataan kebulatan tekad mereka itu, Presiden Soeharto mengatakan bahwa rakyat Irian Barat tidak perlu ragu-ragu dalam menghadapi Penentuan Pendapat Rakyat. Pemerintah dan rakyat Indonesia yakin bahwa apa yang akan dilakukan oleh rakyat Irian Barat dalam Pepera tahun ini hanya sekedar pernyataan yang telah diberikan itu, yaitu akan tetap berada di bawah negara kesatuan RI; demikian dikatakan Presiden Soeharto.

Senin, 18 Agustus 1969
Pimpinan kelompok mayoritas dalam Senat AS Michael Mansfield yang didampingi oleh Duta Besar AS untuk Indonesia Francis Galbraith, diterima oleh Presiden Soeharto di Istana Negara pagi ini. Dalam pertemuan itu telah dibahas berbagai masalah yang berhubungan dengan kunjungan Presiden Nixon dan Menteri Luar Negeri William P Rogers ke Indonesia baru-baru ini.

Rabu, 18 Agustus 1971
Presiden dan Ibu Tien Soeharto didampingi oleh pejabat-pejabat lainnya menyambut pawai pembangunan yang melewati Istana Merdeka. Pawai yang diadakan dalam rangka Hari Kemerdekaan ini mulai melintas di depan Istana pada jam 09.00 pagi dan berlangsung selama dua jam lebih.
Sore ini Presiden menerima apel besar Gerakan Pramuka di halaman Istana Merdeka. Dalam amanatnya Presiden Soeharto antara lain menyerukan kepada anggota pramuka agar lebih giat belajar dan memiliki kecintaan kerja, sebab hanya dengan bekerja keras kita dapat mencapai dita-dita yang diinginkan. Presiden juga mengingatkan mereka akan pentingnya makna kemerdekaan ini bagi bangsa kita. Dengan kemerdekaan itu, demikian Presiden Soeharto, kita dapat mendududukkan dan mengangkat harkat dan kedudukan bangsa Indonesia sama dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Jum'at, 18 Agustus 1972
Presiden Soeharto menyerukan masyarakat Indonesia untuk mengubah mental sehingga tidak lagi bercita-cita menjadi pegawai negeri. Menurut Presiden, perubahan sikap tersebut diperlukan, sebab bila tidak demikian, maka akan menghambat pembangunan itu sendiri. Demikian antara lain dikatakan Presiden Soeharto di depan apel besar Gerakan Pramuka petang ini di Istana Merdeka. 

Sabtu, 18 Agustus 1973
Pukul 10.00 pagi ini di Istana Negara, Presiden Soeharto menerima guru-guru teladan seluruh Indonesia, barisan pengerek bendera pusaka. dan rombongan kesenian Kalimantan Timur. Kepada rombongan guru-guru teladan dari 26 provinsi itu, Kepala Negara mengatakan bahwa pemerintah memperhatikan nasib guru. Dikatakannya bahwa Pemerintah akan mendahulukan nasib para guru daripada pegawai-pegawai negeri lainnya, meskipun perbaikan itu tidak akan setara dengan apa yang telah dialami oleh pegawai Departemen Keuangan. Pada kesempatan itu juga Kepala Negara meminta agar kita semua menghargai guru dengan wajar. 

Senin, 18 Agustus 1975
Pemerintah menyatakan keberatan dan memprotes perkembangan dekolonisasi di Timor Portugis, karena kurang wajar dan kurang demokratis. Menurut penilaian pemerintah, protes dekolonisasi yang sekarang ini sedang berlangsung di wilayah itu tidak memperhatikan semua unsur yang terdapat di sana. Demikian pernyataan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia setelah Presiden Soeharto mengadakan pembahasan bersama pejabat-pejabat tinggi yang terkait, siang ini di Istana Merdeka. Tampak hadir dalam pertemuan dengan Kepala Negara itu adalah Menteri Pertahanan Keamanan M.Panggabean, Menteri Luar Negeri Adam Malik, Menteri Dalam Negeri Amirmachmud, Kepala Bakin Yoga Sugarma, Wakil Kepala Bakin Ali Moertopo, Kepala Staf Operasi Hankam, Asisten Operasi Hankam, Wakil Asisten Operasi Hankam, Intel Hankam, dan Kepala Staf Kekaryaan Hankam.

Jum'at, 18 Agustus1978
Dengan memukul gong tiga kali, tepat jam 20.00 malam ini Presiden Soeharto membuka secara resmi "Laporan Visual 10 Tahun Pembangunan Orde Baru" di Gedung Pola, Jakarta. Setelah upacara pembukaan, Presiden dan Ibu Soeharto beserta wakil Presiden dan Ibu Adam Malik menyaksikan pemeran yang diselenggarakan dalam rangka peringatan hari ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-33.

Senin, 18 Agustus 1980
Disaksikan oleh para menteri, pejabat tinggi, dan korps diplomatik, Presiden yang didampingi oleh Ibu Soeharto pagi ini meresmikan Tri Lomba Juang yang diadakan dalam rangka peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-35. Tri Lomba Juang ini diikuti 30 regu, yaitu 27 regu dari seluruh provinsi, dua regu ABRI dan satu regu Korpri Pusat. Tri omba Juang terdiri atas gerak lintas alam, gerak lari dekat dan lomba gerak jalan. Kontingen pertama gerak lintas alam dilepas Presiden Soeharto, kontingen kedua oleh Wakil Presiden Adam Malik, dan kontingen-kontingen berikutnya oleh para menteri, setiap regu terdiri dari 45 orang.

Kamis, 18 Agustus 1983
Hari ini Pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden No.46 Tahun 1983 tentang Penanganan Khusus Penataan Ruang dan Penertiban serta pengendalian Pada Kawasan Pariwisata Puncak dan Daerah jalur jalan Jakarta-Bogor, Puncak-Cianjur. Keputusan ini antara lain mempertimbangkan bahwa wilayah pariwisata Puncak dan sekitar jalur jalan Jakarta-Bogor-Puncak-Cianjur telah mengalami perkembangan demikian cepat, sehingga perwujudan pemanfaatan ruang telah berada di luar jangkauan tindak penataan ruang serta pengendalian bangunan yang ada dan makin jauh dari tujuan pemanfaatan ruang wilayah. Tujuan pengeluaran Keputusan Presiden ini adalah untuk mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup Presiden ini adalah untuk mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup Presiden ini adalah untuk mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup yang lebih parah mengingat perkembangan kehidupan yang semakin pesat.

Sabtu, 18 Agustus 1984
Pukul 09.00 pagi ini Presiden dan Ibu Soeharto mengadakan ramah tamah dengan anggota-anggota Paskibraka dan Para Teladan dari seluruh penjuru tanah air. Acara yang berlangsung di "Sasana Langen Budoyo" TMII itu juga dihadiri oleh Wakil Presiden dan Ibu Umar WIrahadikusumah dan menteri-menteri Kabinet Pembangunan IV. Pada kesempatan ini Presiden Soeharto, telah memberikan kenang-kenangan kepada anggota Paskibraka dan Para Teladan.

Minggu, 18 Agustus 1985
Presiden dan Ibu Soeharto, yang didampingi oleh Wakil Presiden dan Ibu Umar Wirahadikusumah, serta para menteri Kabinet Pembangunan IV pagi ini menyaksikan pawai-pawai pembangunan. Pawai pembangunan yang bermula dari halaman depan Istana Merdeka itu juga disaksikan oleh para duta besar negara-negara sahabat dan pejabat-pejabat tinggi lainnya. Pawai dimulai tepat pukul 10.00 pagi dan berakhir pada jam 12.00 di depan Istana Merdeka.

Kamis, 18 Agustus 1988
Atas nama pribadi, pemerintah dan rakyat Indonesia, Presiden Soekarno mengirim ucapan belansungkawa atas wafatnya Presiden Pakistan, Jenderal Zia-ul-Haq diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa serta mengharapkan rakyat Pakisan dan keluarga Presiden Zia-ul-Haq diberi kekuatan lahir batin oleh Allah SWT dalam menghadapi cobaan ini. Presiden Zia-ul-Haq tewas kemarin ketika pesawat militer Hercules C-130 yang ditumpanginya jatuh kemarin malam.
Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6
Penyusun : Rayvan Lesilolo